Saham Nasional Rawan Profit Taking

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rawan profit taking setelah menguat pekan lalu. Jumat, (28/9) indeks ditutup naik 0,80% ke level 5.976.

Saham Nasional Rawan Profit Taking
kontan
Pantau saham 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rawan profit taking setelah menguat pekan lalu. Jumat, (28/9) indeks ditutup naik 0,80% ke level 5.976. Namun, pemodal asing masih membukukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp 885,13 miliar.
Dennies Christoper Jordan, analis Artha Sekuritas menyebut, penguatan indeks pekan lalu ditopang sektor perkebunan dan industri dasar.

Sebab, cuaca disinyalir mendukung peningkatan produksi CPO. Permintaan semen juga akan membaik di akhir tahun. Selain itu, aksi window dressing di akhir kuartal menopang IHSG.
Lanjut Dennies, pekan ini, investor akan mengantisipasi rilis data inflasi per September. Jika inflasi tahunan stabil di kisaran 3%, bisa menjadi katalis positif.

Secara teknikal, peluang penguatan masih terbuka terlihat dari candlestick yang berada di atas moving average (MA) 50. Namun, kenaikan indeks selama dua hari di pekan lalu, cukup tinggi, sehingga kemungkinan memicu aksi ambil untung alias profit taking.
Itu sebabnya, Dennies memprediksi, Senin (1/10), IHSG hanya menguat terbatas di kisaran 5.914-6.006.

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi melihat, kecenderungan indeks terkoreksi. IHSG menguji level psikologis 6.000 setelah break out MA50 di level 5.930. Meski begitu, sejumlah indikator teknikal memberikan sinyal jenuh beli alias overbought dengan potensi pulled upper bollinger bands.
Proyeksi Lanjar, Senin, IHSG cenderung terkoreksi dengan level support 5.907 dan resistance 6.000.

 

Menanti Data Inflasi

Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% menjadi amunisi bagi rupiah. Jumat (28/9), rupiah di pasar spot menguat 0,13% ke level Rp 14.903 per dollar Amerika Serikat (AS). Namun, kurs tengah rupiah di Bank Indonesia masih melemah tipis 0,07% ke posisi 14.929 per dollar AS.

Direktur Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, terbitnya Peraturan BI (PBI) No. 20/10/PBI/2018 mengenai transaksi domestic non-deliverable forward (DNDF) akhir pekan lalu turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan rupiah. "Bagus untuk pasar, karena transaksi ini mendukung investor untuk hedging di dalam negeri," kata dia, Jumat (28/9).

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memprediksi, rupiah hari ini akan dipengaruhi oleh data inflasi bulan September. "Ekspektasi inflasi bulan September tidak lebih dari 0,1% bahkan bisa saja deflasi," tegas dia.
Itu membuat David optimis, rupiah ada di kisaran Rp 14.900 - Rp 14.960 per dollar AS. Sedangkan Ibrahim menebak, mata uang Garuda ada dalam rentang Rp 14.850-Rp 14.930 per dollar AS.

Agustus 2018, Penyaluran Kredit Fintech Rp 10 Triliun

Menuju akhir tahun, penyaluran pinjaman industri financial technology (fintech) berbasis peer to peer (P2P) lending kian tambun. Kehadiran pemain baru turut mendongkrak penyaluran nilai pinjaman.
Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hendrikus Passagi menjelaskan, sampai Agustus 2018, jumlah penyaluran pinjaman pelaku usaha sekitar Rp 10 triliun. Sedangkan di akhir Desember 2017 baru tercatat Rp 2,56 triliun. Artinya naik signifikan 291%.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved