Ini yang Terjadi jika Yeezy Diproduksi Massal

Kanye West berkeinginan agar lebih banyak orang memiliki akses ke Yeezy. Adidas sebagai produsen mengabulkan keinginan West.

Ini yang Terjadi jika Yeezy Diproduksi Massal
Kanye West
Yeezy glow in the dark 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kanye West berkeinginan agar lebih banyak orang memiliki akses ke Yeezy. Adidas sebagai produsen mengabulkan keinginan West dengan merilis massal Yeezy Boost 350 V2 "Triple White" pada 21 September lalu.

Namun, menurut seorang pakar industri, itu adalah ide yang buruk—dan berdampak negatif pada penjualan sneakers bersol tebalyang banyak dicari para fans tersebut.

Saat ini, misalnya, harga resell Yeezy kini masih lebih mahal dari retail.

Matt Powell, penasihat industri olahraga senior dengan The NPD Group Inc., membandingkan di Twitter kemarin, antara penurunan “Triple White” dengan produksi massal Reebok Jay-Z (S. Carter) pada tahun 2003.

“Rilis terbaru Yeezy masih belum terjual habis. Harga jual kembali hampir di atas MSRP (harga eceran). Adidas disebut-sebut akan merilis lebih dari satu juta pasangan antara black Friday dan tahun baru. S. Carter kembali terjadi lagi,” ungkap Powell.

Baca: Kanye West Berencana Bikin Yeezy Glow in The Dark

Powell mengatakan kepada FN, saat Reebok mempertahankan S. Carter terbatas, sneakers terjual habis dengan cepat. Dia menceritakan pengalaman melihat rilis sneakers tersebut dan baginya cukup "gila".

Namun, ketika produksi meningkat hingga 500.000 pasang, sneakers tersebut justru tersisa banyak.

Di sisi lain, apa yang membuat Yeezy rilis berbeda dari sepatu S. Carter, menurut Powell adalah konsumen yang membeli mereka.

Konsumen S. Carter membeli sneakers untuk memakainya, namun konsumen Yeezy membeli untuk dijual kembali karena harga jual kembaliyang menguntungkan.

“Orang-orang tidak melihatnya sebagai sepatu yang harus mereka miliki atau ingin kenakan. Itu sepatu yang bisa menghasilkan banyak uang,” katanya.

Kebijakan untuk membuat Yeezy tidak terbatas justru akan memberikan dampak bagi para resell.

Jika ada terlalu banyak produk di pasar, maka permintaan dengan harga ‘selangit’ pun tak akan terjadi.

Powell membandingkan produksi massal Yeezy dengan lineup retro Jordan Brand, yang pada satu waktu dominan karena penjualan cepat melalui rilis terbatas di ritel (yang kemudian memiliki nilai jual kembali tinggi), tetapi setelah itu harus berjuang agar habis di gerai.

Dan dia yakin, dampak menempatkan terlalu banyak Yeezy di pasar bisa berbahaya.

"Jika alasan orang membeli sneakers ini adalah untuk menjual kembali, dan sekarang kamu dapat membeli sepatu itu karena ada banyak persediaan, kamu tidak bisa menjual kembali dengan harga mahal,” kata dia.

Editor: Rine Araro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved