Atlet Singapura Lihat Hotel Bergoyang Seperti Agar-agar

Atlet paralayang Singapura terjebak di tengah bencana gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi tengah, Jumat (28/9),

Atlet Singapura Lihat Hotel Bergoyang Seperti Agar-agar
korban runtuhan Hotel Roa Roa 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Atlet paralayang Singapura terjebak di tengah bencana gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi tengah, Jumat (28/9), saat melakukan perjalanan ke Indonesia. Ng Kok Choong, seorang pensiunan berusia 53 tahun ambil bagian dalam kompetisi paralayang di Palu.

Saat itu, Mr Ng baru saja meninggalkan Hotel Mercure tempat dia menginap, ketika tiba-tiba bumi mulai berguncang cukup keras dengan magnitudo 7,4 SR. "Saya langsung terjatuh ke tanah dan bahkan saya tidak bisa duduk untuk menstabilkan diri. Aku berguling-guling di sekitar dan aku bisa melihat dokar juga jatuh ke tanah, " kata Mr Ng.

"Saya melihat hotel bergoyang seperti agar-agar, ada debu di sekitarnya dan saat itu terjadi, hotel runtuh," tutur Mr Ng yang saat itu bersama temannya, Francois, hanya berada 50 meter dari Hotel Mercure ketika bangunan itu rusak parah.

Mr Ng baru menyadari gempa bumi baru saja melanda. Ia melihat hotel menjadi rusak parah. "Saya mengira dia sekarat"ujarnya.
Sejurus kemudian ia melarikan diri saat datangnya gelombang tsunami. Mereka berdua berlari sekencangnya untuk mencari dataran tinggi dan akhirnya mereka kembali melihat Hotel Mercure.

Saat itu mereka menemui seorang gadis kecil dan ibu-ibu terjebak di bawah puing-puing dari hotel. "Mereka menangis dan kami berlari menghampiri mereka dan mencoba untuk menarik guna membantu mereka keluar. Kami berhasil mengeluarkan gadis kecil, tapi ibunya masih terjebak," kenang Mr Ng, menambahkan bahwa ia bisa melihat tsunami cepat mendekat.

"Temanku membawa gadis kecil itu dan berlari ke arah yang berlawanan dengan tsunami. Ia berlari ke sebuah pohon dengan gadis dan ayah gadis itu," katanya.

Pada waktu itu, ia menggambarkan seluruh situasi sebagai sebuah ketakutan luar biasa dengan desiran angin kencang, gelombang memecah dan bangunan terguncang. Mr Ng berhasil menemukan tanah tinggi dan ia tinggal di sana sambil menunggu tsunami mereda yang berlangsung sekitar 30 menit.

Setelah berada dalam kondisi aman, Mr Ng turun kembali ke tempat ibu gadis kecil itu. Dia mendengar panggilan minta bantuan dan berteriak-teriak kesakitan ketika sepotong beton menimpa pahanya.

"Saya kembali dan tinggal dengan dia karena saya tidak bisa melakukan apa saja untuknya dan saya pikir dia sedang sekarat. Aku hanya mencoba untuk meyakinkan dirinya dan menenangkannya," tutur Mr Ng.

"Saya mencoba menggerakkan beton itu, tetapi tidak mampu memindahkannya. Dia telah terjebak di sana selama sekitar satu hingga dua jam sampai beberapa penduduk setempat datang untuk membantu. Entah bagaimana kita mampu untuk mengangkat beton dan menarik dia keluar."tambah Mr Ng.

Halaman
123
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved