Riscon Siapkan Surat Berharga Baru: IHSG Masih Cukup Kuat
Sukses menerbitkan Surat Berharga Investasi Jangka Pendek (SBI-JP) Seri I, PT Riscon Victory bakal kembali menerbitkan SBI-JP Seri II.
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Sukses menerbitkan Surat Berharga Investasi Jangka Pendek (SBI-JP) Seri I, PT Riscon Victory bakal kembali menerbitkan SBI-JP Seri II. Pengembang properti yang juga dikenal dengan nama Riscon Realty ini kembali menggandeng Ascort Asia Group sebagai konsultan independen dalam penerbitan dan pendistribusian surat berharga tersebut.
Perusahaan ini juga kembali menggandeng Bank Rakyat Indonesia sebagai agen pembayaran sekaligus agen jaminan dan pemantau SBI-JP Seri II. Ini dilakukan untuk menjaga independensi dan transparansi atas aksi tersebut.
Ari Tri Priyono, CEO & Presiden Direktur Riscon Realty, mengungkapkan, penerbitan SBI-JP merupakan langkah awal untuk membuat Riscon Realty menjadi pemain utama yang mendukung pembangunan rumah sederhana sehat. Bukan hanya itu. "Kelak, Riscon Realty bakal melantai di Bursa Efek Indonesia," ujar Ari dalam keterangan tertulis, Kamis (27/9).
Sayang, manajemen Riscon belum mengungkapkan berapa target penghimpunan dana dari penerbitan surat berharga yang kerjasamanya telah diteken pada 27 September 2018 ini. Namun, saat penerbitan SBI-JP Seri I, perusahaan ini mampu menghimpun dana investor ritel hingga Rp 500 miliar.
Amunisi IHSG Masih Cukup Hingga Akhir 2018
Sesuai perkiraan, Bank sentral Amerika Serikat (AS) mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Meski begitu, kemarin (27/9), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil naik 0,95% ke level 5.929,22.
M. Nafan Aji, analis Binaartha Sekuritas, menilai, pelaku pasar justru lega setelah AS merealisasikan kenaikan suku bunga. Apalagi, Bank Indonesia juga ikut menaikkan suku bunga. Hal ini akan menjaga kestabilan rupiah, sehingga positif bagi pasar.
Selain itu, Nafan menilai, stabilitas makroekonomi domestik juga menyelamatkan IHSG dari tekanan sentimen eksternal. Ia memprediksi, hingga akhir pekan ini, masih ada peluang IHSG naik. Namun, kenaikan tidak akan signifikan, karena rawan profit taking di akhir pekan.
Dennies Christoper, analis Artha Sekuritas, menyebut, IHSG menguat lantaran investor mulai masuk ke pasar saham. Kenaikan Fed fund rate (FFR) sudah diantisipasi, sehingga sudah priced-in.
Dia memperkirakan, peluang penguatan indeks terbuka sampai akhir tahun ini. Ada potensi window dressing di akhir kuartal ketiga dan Desember mendatang.
Pertumbuhan kinerja emiten memang diprediksi tidak sedahsyat tahun lalu. "IHSG akhir tahun ini berpeluang ke 6.400," prediksi Dennies, Rabu.
Kepala Riset BNI Sekuritas Norico Gaman menyebut, meski indeks rebound, namun dalam waktu dekat, masih akan menghadapi tantangan dari eksternal. Seperti, perang dagang dan tren penguatan dolar AS. "Sehingga, pasar masih akan fluktuatif," tutur dia.
Pelaku pasar juga perlu mewaspadai kenaikan biaya bunga pinjaman akibat kenaikan suku bunga BI. Ini akan membebani biaya ekspansi perusahaan yang menggunakan dana pinjaman perbankan. Selain itu, kata Norico, bisnis emiten properti dan otomotif akan terkena dampak, karena konsumen akan menahan diri di tengah suku bunga yang tinggi.
Emiten perbankan dan multifinance juga akan terpapar. "Kredit bermasalah sektor perbankan dan multifinance rawan meningkat," imbuh Norico.
Meski begitu, kata Norico, IHSG masih akan tertopang fundamental domestik, seperti inflasi yang rendah dan stabilitas politik dalam negeri. Hingga akhir tahun, indeks berpeluang menguat ke 6.500.
Tentukan Tujuan Sebelum Berinvestasi
Bagi Ari Adil, Co-Founder dan Managing Partner Jagartha Advisor, berinvestasi merupakan wadah bagi setiap orang untuk belajar mengelola kekayaan dan risiko. Ia mengaku, pengalaman berkerja di industri pasar modal memberinya banyak manfaat mengenai seluk-beluk investasi.
Pengalaman pertama berinvestasi diperoleh Ari ketika bekerja di Danareksa Investment Management, 2003 silam. Kala itu ia mencoba instrumen reksadana pasar uang dan trading saham secara langsung.
Ia mengaku terinspirasi gara-gara lingkungan kantor. Selain itu, ia juga rajin membaca buku soal investor kelas kakap dunia, seperti Warren Buffett atau George Soros, hingga menonton film bertema investasi, seperti Wall Street.
Waktu terus berlalu, instrumen investasi yang menjadi pilihan utama Ari pun berubah. Lantaran sibuk bekerja, ia tak punya cukup waktu untuk mengamati perkembangan pasar modal secara intens.
Hal itulah yang membuat pria kelahiran 1975 itu tidak melakukan trading saham lagi. Sebagai gantinya, ia berfokus pada instrumen reksadana saham. Instrumen tersebut dinilai cocok untuk memenuhi kebutuhan investasi jangka panjang, karena menjanjikan imbal hasil yang tinggi, terlepas dari risiko yang juga jumbo.
Selain reksadana saham, ia juga berinvestasi di obligasi dan peer to peer (P2P) lending. Ia mencoba investasi di P2P seiring maraknya perusahaan financial technology di Indonesia. Ia punya tips khusus terkait investasi P2P. Sebar ke berbagai peminjam agar risikonya bisa diminimalisir, tutur dia.
Walau sudah hafal beluk beluk dunia investasi, tak membuat Ari kebal terhadap kerugian. Ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi 2008 silam, kinerja portofolio investasinya turut terpengaruh. Namun, ia sadar penyebab krisis lebih didominasi oleh faktor eksternal, sedang kondisi makroekonomi Indonesia masih stabil.
Makanya, ia memilih untuk tetap masuk secara berkala, terutama di reksadana saham. Dari situ, Ari belajar bahwa ada banyak pertimbangan yang perlu diambil ketika berinvestasi secara jangka panjang.
Jangka panjang
Pria lulusan S1 Teknik Industri Universitas Indonesia ini menjelaskan, hal terpenting yang mesti dilakukan investor adalah menentukan tujuan investasinya dahulu. Kemudian, barulah memilih instrumen yang sesuai dengan tujuannya.
Investor juga perlu melakukan diversifikasi portofolio. Dalam hal ini, jangan sampai dana yang diinvestasikan terkonsentrasi pada satu instrumen saja. Selain itu, perlu juga bagi investor untuk terus melakukan investasi secara berkala, sampai tujuannya tercapai.
Yang tidak kalah penting, investor juga mesti memahami perkembangan pasar keuangan Indonesia dan global. Dengan begitu, investor bisa tahu keputusan apa yang mesti diambil ketika pasar sedang mengalami gejolak.
Nah, salah satu tujuan Ari berinvestasi adalah untuk menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang pendidikan tertinggi. Karena tujuannya jangka panjang, maka instrumen yang dipilih adalah reksadana saham.
Dia menargetkan dapat memperoleh keuntungan maksimal dalam waktu 10 tahun. Maka dari itu, ia terus melakukan investasi secara berkala selama kurun waktu 58 tahun sejak pertama kali berinvestasi.
Jika target investasinya tercapai lebih cepat dari prediksi, maka di tahun-tahun terakhir ia memindahkan dana investasinya ke instrumen yang lebih aman, seperti reksadana pasar uang. Hal itu dilakukan untuk menghindari peningkatan risiko, terlebih jika di saat yang sama pasar sedang kurang kondusif. Yang terpenting, jangan ragu mengambil keputusan kalau sudah bisa membaca kondisi pasar, ucap Ari.
Sering Korbankan Waktu Senggang
Menjalani keseharian sebagai Co-Founder dan Managing Partner Jagartha Advisor cukup menyita waktu bagi Ari Adil. Bahkan, adakalanya pria kelahiran 1975 ini tetap berurusan dengan pekerjaan di akhir pekan.
Hal tersebut membuatnya sering mengorbankan waktu yang seharusnya dapat dihabiskan dengan keluarganya. Namun kini, ia berusaha lebih fleksibel dalam memanfaatkan waktu di akhir pekan. Ia berusaha mengatur agar urusan pekerjaan dan urusan berkumpul dengan keluarga tidak saling tumpang-tindih.
Kalau ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan, mau tidak mau saya lakukan. Tinggal atur waktunya saja dengan acara kumpul keluarga, kata penyandang gelar Master of Commerce dari The University of Sydney tersebut.
Ari menambahkan, ketika berlibur di akhir pekan, ada beberapa kegiatan yang biasa ia jalani. Di antaranya berolahraga di pusat kebugaran atau jalan-jalan ke tempat terbuka bersama keluarga.
Dia mengaku kerap mengajak keluarganya jalan-jalan ke tempat wisata. Tak mesti jauh-jauh. Salah satu tempat wisata di Jakarta yang sudah dia jajal antara lain Taman Lapangan Banteng.
Tidak hanya itu, ia juga memiliki hobi traveling, baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk luar negeri, saya paling suka berkunjung ke Jepang, Amerika Serikat bagian timur, dan Eropa bagian barat, kenang dia. (Dityasa Hanin Forddanta/Auriga Agustina/Dimas Andi Shadewo)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ihsg_20180730_230737.jpg)