Selasa, 21 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Belajar Soal Erupsi Gunung Kerinci pada 2016, Pernah Semburkan Asap Kelabu 500 Meter

Terpantau, pada Sabtu (29/09/2018) pagi, Gunung yang ada di Jambi itu mulai mengeluarkan abu.

Editor: Indry Panigoro
Berita Sumbar
Gunung Kerinci 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Gunung Kerinci kembali menunjukan aktivitasnya.

Terpantau, pada Sabtu (29/09/2018) pagi, Gunung yang ada di Jambi itu mulai mengeluarkan abu.

Diulur kebelakang, rupanya pada Juni 2016, Gunung Kerinci pernah erupsi.

Saat itu, keluar asap kelabu yang mencapai ketinggian 500 meter.

Saat itu, erupsi Kerinci menyebabkan hujan abu tipis di Desa Sungai Sikai dan Desa Tangkil Kecamatan Gunung Tujuh Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi dengan ketebalan sekitar 0,01-0,05 Mm.

Dalam catatan tribunjambi.com, status Kerinci mulai ditetapkan "Waspada" pasca gempa bumi berkekuatan 6,5 SR. Saat itu, gempa dirasakan hingga Singapura. Gempat itu merusak 2.663 rumah di Sumatera barat dan Bengkulu.

Apakah erupsi Kerinci saat itu terkait gempa bumi? Secara umum, mungkinkah erupsi gunung berapi dipengaruhi oleh aktivitas gempa Bumi?

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) kala itu, Daryono, mengatakan untuk menjawabnya, perlu dilihat letak Kerinci atau gunung berapi tertentu secara relatif terhadap patahan-patahan sumber gempa.

 

"Kerinci terletak di zona sesar Sumatera dan relatif dekat dengan zona subduksi lempeng," ujarnya.

Proses pembentukan Kerinsi sendiri tidak lepas dari tektonik dan vulkanik di wilayah tersebut.

Dengan demikian, kondisi fisiografi, kegempaan, dan kegunungapiannya juga tak lepas dari aktivitas sesar Sumatera dan subduksi hasil tumbukan lempeng Indo-Australia dan Eurasia di barat Sumatera.

"Jika aktivitas gunung api sebagai bagian dari aktivitas subduksi lempeng, maka meningkatnya aktivitas Gunung Kerinci saat ini tidak lepas dari aktivitas seismik dan dinamika tektonik regional yang sedang aktif akhir-akhir ini," kata Daryono.

Baca: Gunung Kerinci Erupsi, Sejak Pagi, Abu Menyembur ke Arah Barat

Secara umum, gempa bumi memang dapat mengaktifkan erupsi gunung berapi. Sebabnya, aktivitas gunung berapi memengaruhi aktivitas tektonik di kantung magma.

Gempa bumi besar bisa memicu aliran magma ke kantung magma untuk selanjutnya dilepas keluar. Terjadilah erupsi.

"Aktivitas erupsi gunung api lebih sering terjadi pada gunung api yang terletak di zona tektonik paling aktif," ujarnya.

Daryono mengungkapkan bahwa ada sejumlah teori tentang cara gempa bumi memicu erupsi.

Teori pertama, tegangan gelombang gempa menimbulkan tekanan yang kemudian merambat ke tempat magma berada, membuatnya naik ke kantung magma dan kemudian dilepaskan.

Teori lain, menyatakan bahwa gempa bumi besar bisa mengubah tekanan gas di dalam dapur magma sehingga memicu erupsi.

"Fenomena ini dapat dianalogikan seperti sebuah botol minuman soda yang dikocok hingga timbul gelembung-gelembung gas yang kemudian bergerak naik, selanjutnya menekan dan melepaskan sumbatan hingga terjadi letupan keras," jelas Daryono kepada Kompas.com, Minggu (5/6/2016)

Namun apakah semua erupsi gunung berapi yang berdekatan dengan gempa saling terkait?

Saat gempa Yogyakarta 2006 misalnya, warga menyaksikan Merapi mengepulkan asap. Apakah keduanya terkait.

Dari Kerinci dan gempa bumi yang memicunya, kita semakin mendapartkan pengetahuan bahwa orang Indonesia hidup di negeri yang dikelilingi bencana. Maka, membangun kewaspadaan adalah hal yang perlu.

Artikel ini telah tayang di Tribunjambi.com dengan judul Apakah Erupsi Gunung Kerinci Terkait Gempa Bumi?, http://jambi.tribunnews.com/2016/06/06/apakah-erupsi-gunung-kerinci-terkait-gempa-bumi.

 

 
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved