Rabu, 29 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

ZINC Incar Penjualan Rp 1,3 T Tahun 2019

PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menargetkan penjualan Rp 1,3 triliun tahun depan. Target tersebut mengacu pada peningkatan Izin

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
tribunnews
Rupiah 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menargetkan penjualan Rp 1,3 triliun tahun depan. Target tersebut mengacu pada peningkatan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) dari semula 390 hektare (ha) menjadi 1.519,25 ha area penambangan.

Kemungkinan, seluruh area penambangan bisa beroperasi penuh antara November hingga Desember 2018. Untuk sampai akhir tahun 2018 saja, volume produksi Kapuas Prima berpotensi terkerek 20%-35% ketimbang tahun lalu.

Namun area penambangan yang meluas menuntut biaya eksplorasi yang makin besar. Makanya, Kapuas Prima berencana mencari pendanaan hingga US$ 120 juta. Sebagian di antaranya akan mereka cari dari penerbitan surat utang alias obligasi.

Kalau tak meleset, jadwal penerbitan obligasi akan berlangsung pada akhir November atau awal Desember 2018 dengan target serapan hingga Rp 600 miliar. Rincian penggunaan dananya terdiri dari 40% untuk dana belanja modal, 40% untuk eksplorasi dan 20% untuk modal kerja.

Sejauh ini, Kapuas Prima masih mempertimbangkan kupon obligasi yang menarik. "Kami coba berbagai cara, kami merasa penerbitan obligasi ini menjadi alternatif yang paling cepat untuk saat ini," kata Hendra Wiliam, Direktur PT Kapuas Prima Coal Tbk, Rabu (26/9).

Dari Januari-September 2018, Kapuas Prima menjual 12.904,7 dmt timbal, 26.118,15 dmt seng dan 12,4 dmt perak. Karena produksi pertambangan pertambangan itu belum terolah, mereka menjual seluruhnya ke China.

"Smelter yang kami bangun akan menjadi yang pertama untuk timbal dan seng di Indonesia dan nanti juga akan kami jual domestik," tutur Hendra.
Smelter timbal Kapuas Prima sudah rampung. Mereka tinggal menunggu izin operasional dariKemenetrian Perindustrian.

Bank Indonesia
Bank Indonesia (kontan)

Pebisnis Masih Ragu, Kredit Perbankan Banyak Nganggur

Tampaknya banyak pebisnis yang masih ragu menjalankan agenda ekspansi mereka di tahun ini. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya kredit yang belum ditarik di perbankan atau biasa disebut undisbursed loan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Statistik Perbankan Indonesia per Juli 2018 menunjukkan peningkatan total kredit yang belum ditarik nasabah mencapai Rp 1.469,75 triliun. Jumlah tersebut naik 6,45% dari bulan Juli 2017 atau year on year (yoy).

Hingga Juli 2018, total penyaluran kredit perbankan sebesar Rp 5.029,62 triliun. Artinya kredit menganggur ini hampir mencapai 30%, tepatnya 29,22%i

Direktur Utama Bank Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan kondisi itu akibat sejumlah nasabah masih memantau perkembangan pasar.

"Macam-macam alasannya. Bisa karena penarikan bertahap sesuai kebutuhan operasional nasabah atau sesuai progres proyek," katanya ke KONTAN, Rabu (26/9).

Ia menjelaskan, beberapa nasabah memiliki plafon kredit di bank lain sebagai alternatif. Rata-rata untuk membandingkan besaran suku bunga antarbank. Undisbursed loan ini berlanjut di bulan Agustus.

Berdasarkan laporan keuangan Maybank per Agustus 2018 total fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik Rp 40,27 triliun. Jumlah tersebut naik 3,38% dibandingkan posisi tahun sebelumnya, Rp 38,95 triliun.

Bank OCBC NISP mengatakan, per Juli 2018 jumlah kredit yang belum ditarik sekitar 25%. Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja jumlah tersebut menurun dibanding Juni 2018. "Dibandingkan Juni atau Lebaran menurun tapi relatif stabil," ujarnya.

Sama seperti Taswin, Parwati beranggapan nasabah belum menarik kredit karena pembiayaan mayoritas bersifat bertahap. Dan jangan lupa, sejak Mei sampai Agustus 2018, Bank Indonesia menaikkan suku bunga 125 basis poin.

Direktur Utama Bank Mayapada Internasional Tbk Hariyono Tjahjarijadi menilai naiknya kredit belum ditarik oleh nasabah karenakan pebisnis masih wait and see. Atau belum memerlukan pinjaman bank.

Logo OJK
Logo OJK (tribunnews)

Pasar Volatil, Bank Sulit Mengejar Untung dari Pendapatan Non Bunga

Industri perbankan sedang gencar mencari peuntungan dari pendapatan non bunga atau fee based income. Langkah tersebut setelah tren kenaikan bunga sedang menghantui perbankan. Namun ternyata mencari pundi-pundi dari fee based income tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Simak saja dari pengakuan Direktur Bank Permata Lea Setianti Kusumawijaya yang menyatakan, pendapatan non bunga berasal dari bisnis ritel dan komersial. Pada bisnis ritel berasal dari transaksi wealth management.

Namun, "Wealth management juga penuh tantangan karena market sekarang agak volatil. Baik pasar ekuitas maupun pasar surat berharga banyak sekali tantangannya. Jadi, nasabah cenderung banyak tidak melakukan transaksi secara agresif," ujar Lea, pada Rabu (25/9).

Namun Lea berharap, pendapatan non bunga berasal dari bisnis UKM dan komersial yang ditopang oleh transaksi produk seperti letter of credit (LC) dan bilyet giro. Bank Permata juga mengharapkan pendapatan non bunga dari transaksi financing dan valuta asing.

Asal tahu saja, hingga Juli 2018, pendapatan operasional non bunga Bank Permata sebesar Rp 1,49 triliun. Nilai ini menurun 31,65% yoy dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,18 triliun.

Sementara Bank OCBC NISP mengalami penurunan dari biaya komisi di bisnis tresuri bank. Hal ini imbal hasil dari gejolak bunga dan kurs rupiah terhadap dollar AS.

"Fee based income ditopang oleh trade finance dan reksa dana. Sedangkan kurang baik pertumbuhannya adalah treasury income terkait gejolak bunga dan kurs yag terjadi akhir-akhir ini," ujar Presiden Direktur OCBC NISP Parwati Surjaudaja

Ia mengaku, fee based income OCBC NISP memang cenderung menurun. Meski demikian, pendapatan non bunga ini mampu memberikan kontribusi sebesar 17% dari pendapatan OCBC NISP.

Sementara laba bersih yang didapatkan OCBC NISP pada Juli 2018 sebesar Rp 1,61 triliun. Nilai ini tumbuh dari posisi yang sama tahun lalu sekitar Rp 1,3 triliun.  (Maizal Walfajri/Marshall Sautlan/Ridwan Mulyana)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved