Breaking News
Jumat, 1 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Darmi Bersaudara Siap IPO November

Minat korporasi mencari pendanaan dari bursa efek rupanya masih besar. PT Darmi Bersaudara termasuk salah satu perusahaan

Tayang:
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
kontan
Pergerakan IHSG 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Minat korporasi mencari pendanaan dari bursa efek rupanya masih besar. PT Darmi Bersaudara termasuk salah satu perusahaan yang berniat mencari dana dari bursa efek. Perusahaan ini berniat menggelar penawaran saham perdana atawa initial public offering (IPO).

Perusahaan yang bergerak di sektor perdagangan kayu olahan dengan merek Darbe Wood ini berencana bisa melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pertengahan November 2018 mendatang. Perusahaan ini melakukan IPO dengan tujuan mendapatkan dana segar untuk meningkatkan kinerja.

Direktur Independen Darmi Bersaudara Lie Kurniawan mengatakan, pihaknya melihat ada potensi yang luar biasa bagi perusahaan untuk lebih besar di masa mendatang. Dus, manajemen memutuskan membawa perusahaan ke level yang lebih baik lagi dan berkesimpulan menggunakan cara go public.

Dengan IPO, Darmi berharap bisa lebih mudah mendapat akses terkait pendanaan dan perizinan usaha. "Selain itu kami menjadi lebih dipercaya oleh buyer, pada akhirnya ini bagus juga untuk citra perusahaan" kata Lie saat ditemui di BEI, Jumat (21/9).
Darmi Bersaudara berencana melepas sebanyak 22,58% saham dari seluruh modal disetor dan ditempatkan. Melalui IPO, perusahaan ini berharap mampu mendapat dana segar sebesar Rp 22 miliar.

Nantinya, sekitar 80% dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja. Sementara sisanya akan digunakan untuk membeli aset produktif dan untuk pembangunan pabrik. Perusahaan ini memiliki pabrik yang berada di Gresik, Jawa Timur.
Darmi Bersaudara termasuk perusahaan yang berorientasi ekspor. Mayoritas hasil produksi perusahaan ini, sekitar 90% dari total produksi, diekspor ke luar negeri dengan pasar utama India. "Kami memperdagangkan kayu. Yang diekspor adalah produk kayu setengah jadi, dengan pasar utama Asia Selatan, terutama India dan Nepal," ujar Lie.

Permintaan di India, menurut Lie, sangat besar. Ia menjelaskan, saat ini dengan kisaran kontainer, Darmi Bersaudara mampu mengekspor sekitar 40 kontainer per bulan ke India. Usai menggelar IPO, perusahaan ini berharap kapasitas produksi bisa semakin besar lagi, sehingga ekspor bisa meningkat signifikan, sekitar dua kali lipat.

Sebagai penjamin emisi, perusahaan ini menunjuk PT Artha Sekuritas. Chief Operating Officer Artha Sekuritas, Suparno Sulina mengatakan, saat ini untuk valuasi sahamnya masih dinegosiasikan. "Valuasi masih dinegosiasikan dengan kisaran di bawah Rp 200, dengan PER 11 kali," ujar Suparno.

Pantuan pergerakan saham di BEI
Pantuan pergerakan saham di BEI (kontan)

Natura City Patok Harga IPO Rp 120 per Saham

Perhelatan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) dari PT Natura City Developments telah memasuki tahap pembentukan harga. Mengutip informasi dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Natura City menetapkan harga pelaksanaan IPO sebesar Rp 120 per saham. Sebelumnya, perusahaan ini menawarkan saham dengan rentang harga Rp 110-Rp 140 per saham.

Natura akan menerbitkan 2,6 miliar saham ke publik. Jadi, perusahaan ini akan meraup dana segar Rp 312 miliar. Masa penawaran umum dilakukan mulai 21 September 2018 hingga 24 September 2018. Sedang tanggal penjatahan dilakukan pada 26 September 2018. Pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) dijadwalkan pada 27 September 2018.

Bersamaan dengan penerbitan saham baru, Natura juga merilis 975 juta waran, atau setara 34,82% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Adapun harga pelaksanaan waran Rp 150 per waran. Artinya, Natura juga bakal meraup
Rp 146,25 miliar dari penerbitan instrumen pemanis IPO tersebut. Masa konversi waran dilakukan mulai 28 Maret 2019 hingga 27 September 2021.

ARNA Optimistis Penjualan Bisa Tumbuh Hingga 15%

PT Arwana Citramulia Tbk semakin fokus mendongkrak kinerja tahun ini. Berbekal penjualan ritel yang berkembang, produsen keramik itu meneruskan penetrasi pasar, baik di dalam maupun luar negeri.

Edy Suyanto, Direktur Arwana Citramulia, mengatakan, penjualan perusahaannya sampai saat ini masih on the track. Namun, dia belum bisa membeberkan secara lebi perinci. "Pokoknya, sesuai target perusahaan dan diharapkan tahun ini bisa bertumbuh antara 10% hingga 15%," ungkapnya kepada KONTAN, Jumat (21/9).

Untuk penjualan segmen proyek, memang masih lesu. Karena itu, Edy bilang, perusahaannya tetap fokus pada segmen ritel yakni pengguna akhir (end user). "Secara tren, memasuki kuartal tiga dan empat, pada umumnya permintaan keramik meningkat," ungkap dia.

Selain dalam negeri, lewat merek Arwana dan Uno, perusahaan dengan kode saham ARNA ini juga intensif meningkatkan penjualan di negara tetangga. "Kami dapat feedback positif dari beberapa negara, seperti Malaysia, Brunei, Filipina, Mauritius, Korea, Pakistan. Dalam waktu dekat coba penetrasi ke Thailand," sebut Edy.

Sepanjang semester I-2018, pendapatan Arwana Citramulia meningkat 14,42% menjadi Rp 932,52 miliar dibanding periode sama 2018. Selama paruh pertama tahun ini, beban pokok penjualan juga masih naik sebesar 14,89% jadi Rp 705,61 miliar, dari Rp 614,14 miliar di masa sama tahun lalu. Meski begitu, peningkatan tersebut tidak menyurutkan laba bersih Arwana Citramulia yang bertumbuh 12,79% menjadi Rp 70,12 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 62,16 miliar.

Ilustrasi asuransi
Ilustrasi asuransi (Thinkstock/Nelosa)

Kuartal III Premi Asuransi Properti Naik 5%

Pendapatan premi asuransi properti diperkirakan tumbuh positif. Namun, kenaikannya hanya 5% sampai akhir kuartal III-2018.
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe mengatakan, pertumbuhan ini lebih baik dibanding tahun 2017. Sampai akhir Desember tahun lalu, premi asuransi properti susut 5% menjadi Rp 18,29 triliun.

"Pertumbuhan ekonomi diharapkanmendorong pertumbuhan perumahan maupun permintaan bangunan komersial," kata Dody ke KONTAN, Jumat (21/9). Akhirnya meningkatkan permintaan asuransi properti di kuartal III maupun sampai akhir 2018.
Wakil Ketua merangkap Ketua Bidang Statistik, Riset, Analisa dan Aktuaria AAUI Trinita Situmeang sepakat, jika bisnis asuransi properti masih akan meningkat. Sebab premi besar terutama dari segmen korporasi biasanya di pengujung 2018.

Apalagi, berbagai kebijakan pemerintah seperti loan to value (LTV) dapat membantu menggenjot permintaan kredit pemilikan rumah (KPR) bisa meningkat yang pada akhirnya berefek positif pada asuransi properti. PT Asuransi Wahana Tata (Aswata) mencatatkan kenaikan pendapatan premi asuransi properti atau kebakaran sampai Agustus 2018. Hal ini didukung strategi pengembangan bisnis yang apik.

Presiden Direktur Aswata Christian Wanandi mengatakan, sampai delapan bulan ini meraih total premi Rp 1,1 triliun. Dari jumlah itu, lini bisnis properti menyumbang 38%. "Sampai Agustus 2018 asuransi properti kami tumbuh 6%," kata Christian.
Sampai akhir 2018, Aswata optimistis premi asuransi properti naik 10%-12%. Yang akan mendukung adalah penambahan mitra bisnis. Christian bilang akan banyak menggaet nasabah korporasi.

Realisasi premi asuransi properti Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) tumbuh 6,6% sampai Juli 2018. Direktur Operasi Ritel Jasindo Sahata L. Tobing mengatakan, premi asuransi properti mencapai Rp 483,5 miliar, naik dari periode sama tahun 2017 sebesar Rp 453,6 miliar. Jasindo optimistis, sampai akhir 2018, lini bisnis kebakaran tumbuh positif. Apalagi potensi premi lanjutan di pengujung 2018.

"Segmen korporasi untuk premi lanjutan akan masuk di kuartal IV," kata Sahata. Dia berharap pertumbuhan ekonomi membaik sehingga mendukung perolehan premi asuransi properti. Sahata mencontohkan premi cukup besar berasal dari PLN, Telkom dan BUMN lain.

Ayers Asia AM Siapkan Dua Reksadana Anyar

Sebagai pemain baru di industri reksadana Indonesia, PT Ayers Asia Asset Management cukup ekspansif. Perusahaan yang baru mulai beroperasi pada 24 November 2017 ini sudah berencana menerbitkan dua reksadana anyar di sisa tahun ini.
Pertama, reksadana penyertaan terbatas (RDPT).

Perusahaan ini berencana menawarkan RDPT pada bulan November mendatang. Kedua, reksadana saham syariah offshore yang rencananya akan diluncurkan di bulan Desember 2018.
Direktur Utama Ayers Asia Asset Management Dastin Mirjaya Mudijana menjelaskan, penerbitan untuk RDPT saat ini masih positif.

"Kami melihat antusiasme investor profesional dan juga ada peluang bagus di sektor properti, hingga nantinya produk RDPT kami bakal memiliki underlying proyek properti,' jelas dia, Jumat (21/9).
Sayangnya, dia masih belum bisa merinci isi protofolio dari aset RDPT tersebut. Maklum saja, Ayers masih menunggu pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dastin pun tak menganggap lesunya industri properti saat ini akan berpengaruh negatif pada RDPT tersebut. "Meski pasar keuangan sedang koreksi, kami malah menilai ini adalah saat yang tepat untuk mulai berinvestasi. Karena harga saham sudah undervalued, sedangkan harga properti pun atraktif dan secara historikal sektor tersebut selalu untung," tegas dia.
Senior Chief Economist PPA Capital Ferry Latuhihin juga sepakat bahwa prospek properti di Indonesia masih akan positif karena mendapat dukungan dari pemerintah.

Sementara untuk penerbitan reksadana syariah offshore, Idrus, Direktur Ayers Asia AM beralasan, saat ini permintaan dalam negeri cukup banyak lantaran instrumen tersebut masih kurang.

Nah, dengan adanya dua reksadana anyar, Ayers Asia AM akan memiliki lima produk. Sebelumnya, manajer investasi yang baru berdiri tahun lalu ini sudah punya reksadana pasar uang bertajuk Ayers Asia Asset Management Money Market Fund.
Selain itu, Ayers Asia AM juga memiliki reksadana pendapatan tetap yang berisi obligasi pemerintah bernama Reksadana Ayers Asia Asset Management Bond Fund. Paling baru, Ayers menerbitkan reksadana indeks Sri Kehati.

Dastin mengungkapkan, per Agustus 2018 jumlah dana kelolaan atawa asset under management (AUM) perusahaan ini baru Rp 25 miliar. Perusahaan ini menargetkan, hingga akhir tahun mampu meraih dana kelolaan sebesar Rp 300 miliar-Rp 500 miliar.
Sekadar informasi, Ayers Asia Asset Management merupakan perusahaan yang tergabung dalam grup Ayers Alliance Wealth Management Hong Kong.  (Danielisa Putriadita/Willem Kurniawan Lombu/Dityasa Hanin Forddanta/Agung Hidayat/Umi Kulsum)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved