Sabtu, 11 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Korban Selamat Longsor di Filipina Kirim Pesan Teks dari Bawah Puing

Kepala polisi setempat, Roderick Gonzales, menyatakan beberapa korban bahkan mampu mengirim pesan teks dari bawah puing-puing.

Editor:
AFP/Alan Tangcawan
Petugas mencari korban yang selamat di lokasi longsor di Naga, provinsi Cebu Kamis (20/9/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Tim penyelamat terus berupaya mengevakuasi puluhan orang yang dilaporkan hilang akibat bencana longsor menimpa kawasan perdesaan di Naga, provinsi Cebu, Filipina.

CNN mewartakan, hujan yang mengguyur Naga selama beberapa hari menyebabkan tanah longsor di beberapa wilayah yang terkenal dengan pantainya itu pada Kamis (20/9/2018).

Hingga Jumat (21/9/2018) pagi, sebanyak 22 korban tewas telah diangkat dari reruntuhan. Tanah longsor diperkirakan menyapu sekitar 60 rumah semi-permanen.

"Itu seperti gempa bumi dan ada gemuruh, ada dentuman suara yang keras," kata seorang penduduk, Cristita Villarba.

"Semua orang berlari. Banyak tetangga kami yang menangis dan berteriak meminta bantuan," ucapnya, seperti kutip dari BBC.

Setelah bencana terjadi, petugas terus melakukan upaya penyelamatan dan berhasil mengeluarkan korban selamat dari reruntuhan rumah yang ambruk.

Kepala polisi setempat, Roderick Gonzales, menyatakan beberapa korban bahkan mampu mengirim pesan teks dari bawah puing-puing.

Pesan teks itu dikirim oleh korban kepada kerabat yang lain. Para anggota keluarga memang khawatir, orang yang mereka cintai terperangkap dalam lumpur.  Namun, dengan munculnya pesan teks tersebut, menghadirkan sedikit kelegaan.

"Ada tanda-tanda kehidupan. Beberapa dari mereka berhasil mengirimkan pesan teks," katanya.

Dia berharap masih banyak orang yang masih bertahan hidup meski terjebak dalam reruntuhan.

Insiden tanah longsor di Cebu terjadi beberapa hari setelah bencana yang sama menewaskan 27 orang di Itogon, Cordillera, di bagian utara pulau Luzon, pada Sabtu lalu.

Bebatuan yang jatuh menghancurkan ratusan rumah dan mengubur puluhan orang, sebagian besar adalah pekerja tambang yang bekerja di penambangang kecil beserta keluarga mereka.

Tanah longsor itu disebabkan oleh hujan deras yang dibawa oleh siklon tropis Mangkhut, yang dikenal warga setempat dengan sebutan Ompong.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved