Breaking News:

Penting ! Moms, Ini yang akan Terjadi Jika Anak-anak Aktif di Media Sosial

Baroness Susan Greenfield mengatakan medsos memiliki efek buruk pada kematangan emosional anak-anak.

Editor: Indry Panigoro
Media sosial mempengaruhi kesehatan mental 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Media sosial dan internet memang menjadi tantangan baru bagi orangtua di era informasi ini.

Walau mayoritas platform media sosial mensyaratkan usia minimal penggunanya adalah 13 tahun, nyatanya banyak anak-anak yang sudah memiliki akun media sosial dan aktif menggunakannya. 

Seorang ahli saraf terkemuka dari Inggris, Baroness Susan Greenfield mengatakan media sosial memiliki efek buruk pada kematangan emosional anak-anak, membuat mereka memiliki mental seperti anak berusia tiga tahun.

Menurutnya, terlalu sering menggunakan media sosial dan video game membuat anak-anak tidak dapat berkomunikasi satu sama lain dan berpikir untuk diri mereka sendiri.

Ini terjadi karena mereka terus mencari sesuatu untuk mengalihkan perhatian mereka.

“Apa yang saya prediksi adalah orang-orang akan menjadi seperti anak usia tiga tahun, dalam hal emosional, keberanian ambil risiko, keterampilan sosial yang buruk, identitas diri yang lemah dan fokus yang pendek,” katanya.

Berdasarkan penelitian tahun 2014 dari Virginia University dan Harvard University, para siswa lebih memilih mendapat kejutan elektrik daripada dibiarkan berpikir sendiri tanpa gangguan selama 10 menit.

Menurut Greenfield, riset tersebut menunjukan manusia perlu stimulasi konstan dari lingkungan mereka setiap saat dan tak lagi mampu merenungkan isi pikiran sendiri.

Hal ini dapat sangat merugikan bagi anak-anak. Baca juga: Jangan Ragu Tegur Orangtua yang Asyik Main Gadget Orangtua harus kembali memperkenalkan kegiatan nyata seperti berkebun, olahraga dan membaca sebagai cara untuk mengurangi waktu anak bermain dengan ponsel dan menstimulasi imajinasi mereka.

Namun, anak-anak membutuhkan contoh yang nyata.

Ini berarti orangtuanya harus lebih dulu mampu melakukan detoks digital. Atur waktu secara teratur, misalnya satu jam tanpa gawai di siang hari, atau hari minggu bebas gawai di rumah.

Ahli detoks digital bernama Tanya Goodin menyebutkan, berdasarkan riset, anak-anak yang dijauhkan dari perangkat digital selama seminggu lebih peka terhadap komunikasi non-verbal pada orang lain daripada anak yang aktif bermain gawai.

Goodin juga menambahkan penggunaan perangkat yang berlebihan juga memberi efek jangka panjang pada kepekaan bahasa tubuh untuk membaca, hidup, bekerja, sekolah dan dalam hubungan antar sesama.

Ia juga mengklaim anak-anak yang menggunakan media sosial dan aktif menggunakan perangkat digital rentan menderita depresi dan rendah diri, serta menjadi lebih narsistik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Anak-anak Seharusnya Tak Aktif di Media Sosial", https://lifestyle.kompas.com/read/2018/08/07/104544520/anak-anak-seharusnya-tak-aktif-di-media-sosial.
Penulis : Ariska Puspita Anggraini
Editor : Lusia Kus Anna

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved