Perang Dagang dan Dollar AS Menopang Olympic
PT Cahaya Sakti Multi Intraco, atau yang lebih dikenal Grup Olympic hampir bisa memastikan jika capaian penjualannya hingga
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - PT Cahaya Sakti Multi Intraco, atau yang lebih dikenal Grup Olympic hampir bisa memastikan jika capaian penjualannya hingga akhir tahun 2018 nanti, bakal tumbuh 100%.
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China dan pengutan nilai tukar dollar AS tas rupiah, menjadi katalis positif bagi bisnis furnitur mereka.
Perang dagang AS versus China menyebabkan AS melirik pemasok furnitur dari negara lain. Negara yang mereka lirik seperti Indonesia, Vietnam dan beberapa negara lain. Sementara selain di pasar domestik, Grup Olympic juga mengail peruntungan di pasar mancanegara.
Dua momentum tadi, bisa mengompensasi kondisi pasar dalam negeri yang tengah lesu. Grup Olympic melihat, pasar furnitur domestik saat ini sejatinya sedang turun 20%-30% ketimbang tahun lalu.
Pemicu penurunan adalah pergeseran konsumsi. "Orang kita sekarang lebih senang belanja makanan, pakaian, travelling dibanding belanja furnitur," ujar Au Bintoro, Pendiri sekaligus Komisaris Utama Grup Olympic, Selasa (4/9).
Dari Januari sampai Juni 2018 kemarin, Grup Olympic mengantongi penjualan funitur di pasar dalam negeri sebesar Rp 600 miliar. Untuk nilai penjualan ekspor, perusahaan itu tak mengungkapkan besarannya.
Yang terang, komposisi penjualan Grup Olympic saat ini terdiri dari 80% penjualan domestik dan 20% penjualan ekspor. Lalu, total pertumbuhan penjualan selama semester I 2018 mencapai 15%-20% ketimbang periode yang sama tahun lalu.
Sementara target penjualan Grup Olympic sepanjang tahun ini sekitar Rp 1,5 triliun. Perusahaan tersebut memperkirakan, produk bedroom set atau tempat tidur dan kasur springbed bakal menjadi kontributor terbesar hingga 80% terhadap total penjualan.
Dalam upaya mengejar penjualan, Grup Olympic menempuh aneka jalur pemasaran. Termasuk, jalur pemasaran online. Bukan pemasaran model e-commerce, melainkan mereka memilih konsep penjualan online dengan menyediakan pemesanan produk via call center.
Melalui layanan call center tersebut, konsumen bisa memesan furnitur sesuai keinginan dan kebutuhannya. Kemduain, petugas Olympic akan mendatangi rumah konsumen untuk menindaklanjuti pesanan secara langsung.
Secara khusus Grup Olympic menganggarkan biaya investasi mencapai Rp 2 miliar-Rp 3 miliar untuk membeli mesin call center. asal Jerman. "Kami gunakan teknologi mesin dari Eropa, melalui mesin ini mau bikin satu atau 10 buah, harganya akan sama saja," beber Au Bintoro.
Sambil mengejar target kinerja tahun ini, Grup Olympic mengawal rencana ekspansi pabrik. Perusahaan tersebut berencana menambah dua pabrik baru di Sukabumi (Jawa Barat) dan Pontianak (Kalimantan Barat).
Nanti, pabrik di Sukabumi untuk mendukung target perluasan pasar ekspor. Maklum, dalam lima tahun ke depan Grup Olympic ingin menikmati komposisi penjualan sama besar antara lokal dan ekspor.
Berniat Ekspansi, Passpod
Bidik Rp 50 Miliar Melalui IPO
PT Yelooo Integra Datanet (Passpod) membidik pendanaan dari pasar modal. Perusahaan start up di bidang jasa pariwisata ini akan melakukan penawaran perdana saham kepada publik alias initial public offering (IPO) pada tahun ini.
Passpod merupakan perusahaan inkubator BEI pertama yang akan melantai di bursa. Salah satu layanan unik Passpod adalah penyewaan modem bagi wisatawan yang berpergian ke luar negeri.
Rencananya, Passpod akan melepas sebesar 34% sahamnya kepada publik. "Kami berharap bisa memperoleh pendanaan antara Rp 40 miliar hingga Rp 50 miliar dari aksi korporasi ini," kata Hiro Whardana, Direktur Utama Passpod, saat ditemui KONTAN, Selasa (4/9).
Perusahaan ini akan IPO menggunakan buku April 2018. Dengan demikian, Passpod harus sudah memperdagangkan sahamnya di bursa efek paling lambat pada awal kuartal keempat mendatang. Passpod udah menunjuk Sinarmas Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi.
Nantinya, Passpod akan menggunakan dana hasil IPO untuk ekspansi. Sebesar 70% dari dana yang diperoleh digunakan untuk melakukan pengembangan serta memenuhi kebutuhan pendanaan research & development pada aplikasi Passpod.
Menurut Hiro, ada beberapa hal akan dilakukan untuk mengembangkan aplikasi serta infrastruktur pada Passpod. Namun ia tak merinci rencana pengembangan tersebut.
Sisa dana IPO juga dialokasikan untuk modal kerja.Usai IPO, Passpod berencana menambah layanan dan memperluas kerjasama dengan beberapa pihak di luar negeri.
Hiro menyebut, salah satu tujuan IPO adalah agar perusahaan bisa merambah pasar internasional. "Perusahaan yang sudah tercatat di pasar modal lebih mudah masuk ke pasar regional," ungkap dia.
Tahun depan, Passpod berencana merambah pasar regional. Pasar yang dibidik yaitu Vietnam, Myanmar, Singapura dan Malaysia. Selain itu, perusahaan ini juga tengah mempertimbangkan untuk merambah pasar Hongkong dan Filipina.
ACES Bersiap Buka Dua Ace Express
PT Ace Hardware Indonesia Tbk akan menambah dua gerai Ace Express lagi tahun ini. Hingga Agustus 2018, mereka sudah membuka tiga Ace Express.
Sebagai perbandingan, gerai regular Ace Hardware rata-rata memiliki luas 1.500 meter persegi (m²). Sementara luas gerai Ace Express sekitar 1.000 m².
"Ace Express itu berbeda dari segi ukuran saja, segmen yang dituju sama," ujar Helen Tanzil, Sekretaris Perusahaan PT Ace Hardware Indonesia Tbk kepada KONTAN, Selasa (4/9).
Dalam catatan pemberitaan KONTAN, biaya investasi gerai Ace Hardware mencapai Rp 5 miliar per m². Sementara sepanjang tahun ini, perusahaan tersebut mengalokasikan dana belanja modal alias capital expenditure (capex) Rp 200 miliar untuk ekspansi gerai.
Target ekspansi Ace Hardware tak hanya berkutat di lokasi yang sudah dirambah. Perusahaan yang tercatat dengan kode saham ACES di Bursa Efek Indonesia tersebut juga ingin hadir di lokasi-lokasi baru.
Dari Januari hingga Agustus 2018, Ace Hardware menambah 15 gerai baru. Kalau tak meleset, perusahaan tersebut bakal mengoperasikan sekitar 154 gerai hingga tutup tahun nanti.
Sejurus dengan ekspansi gerai, Ace Hardware membidik pertumbuhan penjualan 15% year on year (yoy). Sepanjang tahun lalu, penjualan mereka terhitung naik 20,49% yoy menjadi Rp 5,88 triliun.
Sementara laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh 9,45% yoy menjadi Rp 777,73 miliar.
Selain mengandalkan tambahan pendapatan dari gerai anyar, Ace Hardware menggeber aneka strategi promosi pemasaran. "Kami masih menjalankan promosi tematik yang berbeda setiap bulannya, termasuk masih ada satu boom sale," terang Helen.
(Andy Dwijayanto/Elisabet Lisa Listiani/Aulia Fitri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ilustrasi-dollar-as_20180119_184658.jpg)