Jenazah Perintis Kembalinya Gereja Katolik Dimakamkan Kembali di Desa Kawatak

Dua peti jenasah diarak dengan menggunakan mobil terbuka dikawal Legio Christi.

Jenazah Perintis Kembalinya Gereja Katolik Dimakamkan Kembali di Desa Kawatak
Tribun manado / David Manewus
Jenazah Daniel Mandagi dan istrinya Tentji Londah dimakamkan kembali di Desa Kawatak, di hari Minggu (2/9/2018). 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Jenazah Daniel Mandagi dan istrinya Tentji Londah dimakamkan kembali di Desa Kawatak, di hari Minggu (2/9/2018).

Jenasah dimakamkan kembali setelah digali Sabtu (1/8/2018), dan disemayamkan dalam peti di Pekuburan Amongena.

Daniel dan istrinya merupakan tokoh perintis Gereja Katolik kembali, tumbuh dan berkembang di wilayah Keuskupan Manado.

Sejak pagi rangkaian kegiatan pemakaman kembali dibuat. Pada pukul 09.00 pagi Uskup Manado, Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC tiba dan disambut meriah dengan kabasaran dan drum band.

Di tenda depan pekuburan diadakan penyerahan jenazah dari keluarga dan pemerintah Desa Amongena.

Peristiwa dalam rangkaian perayaan puncak Yubileum 150 tahun Gereja Katolik kembali, tumbuh dan berkembang di wilayah Keuskupan Manado tingkat Kevikepan Tondano-Mitra itu berlangsung meriah.

Dua peti jenasah diarak dengan menggunakan mobil terbuka dikawal Legio Christi. Iring-iringan mobil dan sepeda motor yang mengikuti mengular dari Amongena ke Kawatak.

Setelah disambut di Desa Kawatak, jenazah disemayamkan sebentar di gereja Stasi Kawatak. Uskup Rolly lalu memakamkan kembali keduanya dalam kuburan raksasa yang sudah dibangun. Misa perayaan puncak lalu dibuat setelah itu.

Bukan Kebetulan

Misa dimulai pukul 11.00 siang. Waktu itu tanpa disengaja sama dengan misa perdana Pastor Van De Vries di Langowan 1868. Catatan tentang misa pukul 11.00 itu dibacakan oleh Uskup Emeritus Josef Suwatan sebelum renungan Uskup Rolly. Catatan itu merupakan catatan Daniel Mandagi tentang kedatangan Pastor Van De Vries.

Bukan kebetulan pula bahwa Kawatak, tempat Daniel dimakamkan kembali, merupakan Kalekeran (tanah milik) Daniel Mandagi. Sepuluh tahun lalu Dionisius (generasi keempat keturunan Daniel Mandagi) juga berencana memugar kubur bersama Uskup Suwatan tapi belum jadi.

Uskup Rolly mengatakan, karya Tuhan terjadi dalam sejarah hidup sehari-hari. Termasuk hari-hari hidup Daniel Mandagi dan tokoh-tokoh perintis zaman itu. Roh Tuhan bukan hanya mengerakkan pribadi Daniel dan Pastor Van De Vries.

Gerakan Tuhan mulai kembali 150 tahun lalu. Sebelumnya ada pembatisan Katolik pada 1534. VOC datang dan menghambat dan akhirnya Katolik hadir kembali mulai 150 tahun lalu.

Di Bumi Nyiur Melambai, Pastor Lorenzo Geralda harus mati di 1644. Semua katanya terangkum dalam peristiwa Yubileum, akhirnya semua menjadi kabar sukacita.

"Dalam kerja sama kita menjadi besar begini. Hanya mungkin terjadi karena berpaut pada Tuhan," katanya.

Ia mengatakan, yang kedua bisa terjadi dengan mendengar Firman Tuhan. Sabda Tuhan tertanam dalam
hati terpancar keluar. Karena yang keluar najis maka perlu niat baik, semua tidak boleh menajiskan tapi menghargai kemajemukan.

Semua diharapkan memberi kesaksian untuk tetap menjadi kabar sukacita. (dma)

Penulis: David_Manewus
Editor: David_Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved