Bank Mandiri Turunkan Target NIM, BRI Naikkan Kredit

Bankir masih cukup optimistis memandang bisnis di semester II ini meski perbankan harus putar otak agar kinerja tetap optimal

Bank Mandiri Turunkan Target NIM, BRI Naikkan Kredit
TRIBUNMANADO/HERVIANSYAH
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Wilayah Manado menbagikan 2.000 paket sembako kepada kaum duafa. 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Bankir masih cukup optimistis memandang bisnis di semester II ini meski perbankan harus putar otak agar kinerja tetap optimal di tengah ekonomi yang masih belum begitu bergairah. Sementara suku bunga acuan dalam tren meningkat.

Yohan Setio, Head of Investor Relation Bank Mandiri mengatakan, dalam kondisi ekonomi seperti sekarang pihaknya saat ini berstrategi fokus kepada penyaluran kredit yang memiliki risiko rendah seperti sektor konsumer dan kredit usaha, kecil dan menengah (UKM).

"Tahun ini Bank Mandiri banyak mengurangi eksposur kredit menengah atau komersial untuk mengurangi kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL)," kata Yohan, Rabu (29/8).

Karena itulan bank berlogo pita kuning biru itu menurunkan target margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) di 2018. Awalnya Bank Mandiri menargetkan NIM di kisaran 5,7%-5,8%. Tapi turun menjadi berkisar 5,5%-5,7%.

Meskipun mengoreksi NIM, target kredit dan laba sampai akhir tahun tidak ada perubahan. Sampai akhir 2018, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 11%-13% yoy dan laba sekitar 30%.
Kredit tumbuh tinggi

Sebagai gambaran, hingga Juli 2018 Bank Mandiri mencatat pertumbuhan kredit 11,32% secara yoy menjadi
Rp 668 triliun. Dari pertumbuhan kredit ini laba Bank Mandiri naik 21,97% yoy menjadi Rp 14 triliun. Sementara itu dana pihak ketiga (DPK) tumbuh lebih lambat daripada kredit, yakni hanya 7,65% menjadi Rp 724 triliun. Sejauh ini baru tiga bank yang mengeluarkan kinerja keuangan per Juli 2018. (lihat tabel).

Bank Rakyat Indonesia (BRI) lebih optimistis. BankBUMN ini tengah mengajukan proposal perubahan rencana bisnis bank (RBB) tahun 2018, terutama untuk merevisi rencana bisnis penyaluran kredit.

Haru Koesmahargyo, Direktur Keuangan BRI mengatakan, penyaluran kredit pada Juli 2018 tumbuh di angka 15% secara yoy.

"Yang sangat signifikan adalah pertumbuhan kredit yang awalnya 12% secara yoy akan direvisi menjadi 14% yoy," ujar Haru, Rabu (29/8).

Namun perubahan RBB ini masih proposal yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Direktur Hubungan Kelembagaan BRI Sis Apik Wijayanto menambahkan, revisi kredit ini lantaran kondisi pertumbuhan perekonomian nasional yang membaik di semester 1-2018. Selain itu juga produktivitas dengan adanya BRI Spot membuat layanan kredit semakin membaik.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved