Breaking News:

Sanger Sentil Bahasa Daerah Minahasa Makin Terancam

Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, terkesan mengabaikan bahasa daerah.

Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUN MANADO/FERDINAND RANTI
Feybe Sanger 

TRIBUNMANADO.CO.ID, TONDANO - Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, terkesan mengabaikan bahasa daerah yang menjadi salah satu ciri khas budaya Minahasa.

Kecenderungan itu bisa dilihat dari banyaknya anak muda sekarang yang tidak lagi menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dengan teman sepergaulan.

Bahkan anak-anak sekarang lebih cenderung mengabaikan penggunanaan bahasa daerah.

Hal ini dikatakan Anggota DPRD Komisi II fraksi PDI Perjuangan, Feybe Sanger, Kamis (23/08/2018).

"Fenomena ini harus disikapi secara serius sebab lama-kelamaan orang Minahasa akan kehilangan jati dirinya sebagai orang Minahasa, kesadaran generasi muda mengenai budaya dan bahasa daerah perlu ditingkatkan sebab kita harus jujur bahwa sekarang bahasa Minahasa lebih banyak digunakan oleh orang tua (kakek-nenek) itupun bukan dalam pergaulan luas melainkan hanya digunakan dalam komunikasi keluarga," kata anggota Dewan berparas cantik ini.

"Harus jujur diakui saudara-saudara kita di beberapa daerah kepulauan masih sangat kental penggunaan bahasa daerahnya dibuktikan dengan anak-anak muda di sana masih terus menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari," katanya.

Menurutnya, hal ini harus mendapatkan perhatian.

Sebab, pesatnya pertumbuhan teknologi melahirkan bahasa-bahasa baru yang oleh anak muda diidentikkan dengan bahasa-bahasa gaul dan kosakata-kosakata baru, sehingga terancam menghilangkan jati diri anak daerah ke depan.

Berdasarkan pemikiran tersebut, lanjut dia, maka perlu di tekankan pada generasi muda sekarang yang adalah penerus masa depan Minahasa dan bangsa ini akan pentingnya bahasa daerah yang memuat budaya dan pemikiran lokal yang telah terbukti mampu membuat generasi-generasi terdahulu beradaptasi dengan lingkungan serta hidup berkembang sampai sekarang.

"Saya sendiri tidak mahir berbahasa daerah tapi belumlah terlambat untuk kita menghidupkan bahasa daerah yang adalah identitas daerah,sehingga di lingkungan rumah sebisanya menggunakan bahasa daerah yang tak jarang harus diluruskan oleh mereka yang mahir berbahasa setidaknya telah memulai dan perlu menularkan pemikiran bahwa penerimaan bahasa asing adalah penting di tengah persaingan antar bangsa tapi dengan tidak mengabaikan budaya dan bahasa daerah," ujarnya.

Lanjut dia, apalagi berdasarkan data tahun 2009 Bahasa Minahasa berdasarkan klasifikasi tahap kepunahan bahasa masuk dalam kategori berpotensi terancam (Bahasa yang hanya digunakan oleh beberapa anak dalam semua ranah atau bahasa yang digunakan oleh semua anak dalam ranah tertentu).

"Kita akan dorong kepedulian dan kecintaan orang Minahasa akan bahasanya sendiri, Dinas Pendidikan Kabupaten Minahasa sebagai mitra kerja Komisi II Perlu perhatian serius,sehingga sejak anak-anak SD diajarkan kosakata-kosakata Bahasa Minahasa,kecenderungan kita memperkenalkan bahasa asing untuk masa depan anak-anak tidaklah salah tapi tanpa mengabaikan mengajarkan bahasa daerah,solusi konkrit lainnya yang bisa dilakukan oleh Diknas adalah mencanangkan paling sedikit 1 Jam pada hari tertentu seminggu sekali untuk menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi di sekolah,dan mengadakan lomba-lomba yang menekankan pada penggunaan bahasa daerah," tambahnya.

Pada Perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 73 di Kecamatan Kakas Barat salah satu perlombaan yang menarik adalah Lomba Pidato Bahasa Daerah antar Hukum Tua se-kecamatan, hal-hal ini bisa melestarikan bahasa daerah kita.

"Dinas Pariwisata sebagai pelaksana event pemilihan waraney dan wulan Minahasa harus menjadikan bahasa daerah sebagai salah satu aspek penilaian sehingga Bahasa Daerah kita tetap lestari, tentunya perhatian akan pelestarian akan bahasa daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Minahasa saja melainkan membutuhkan kepedulian dan kesadaran akan keberlangsungan bahasa daerah dan saat ini belum terlambat sebelum bahasa daerah kebanggan kita punah," pungkasnya.(Tribunmanado.co.id/Ferdinand Ranti)

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved