Srikandi Caleg DPR RI Pendulang Suara: Lelaki Kuasai 81 Persen Pencalonan
Aroma patriarki tercium pada kontestasi DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Utara. Jumlah calon legislatif perempuan melampui
Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Aroma patriarki tercium pada kontestasi DPR RI dari Daerah Pemilihan Sulawesi Utara. Jumlah calon legislatif perempuan melampui ambang batas aturan 30 persen, 28 orang (37,3 persen).
Namun hanya tiga caleg dari PDIP, PSI dan PKPI yang menempati nomor urut 1 (18,75 persen). Artinya ada 81,25 persen partai politik yang masih mengandalkan caleg lelaki menuju Senayan.
Partai Nasdem, Hanura, PKPI, PBB dan Garuda tercatat sebagai partai terbanyak yang mengusung caleg perempuan (50 persen). Sisanya 11 parpol hanya cukup memenuhi zipper system yang mengatur setiap tiga bakal calon terdapat sekurang-kurangnya satu orang perempuan. Ketentuan ini terdapat dalam Pasal 55 ayat (2) UU No 10 Tahun 2008 tentang Pemilu.
Angka ini mengacuh dari penelitian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan jumlah minimum 30 persen memungkinkan terjadinya suatu perubahan dan membawa dampak pada kualitas keputusan yang diambil pada lembaga publik seperti DPR RI.
Vivi George, aktivis LSM Swara Parampuang ikut nyaleg.Vivi maju melawat PSI ke DPR RI nomor urut 1. Wanita yang sebelumnya aktif sebagai penyelenggara pemilu, Anggota KPU Sulut ini akhirnya memilih panggung politik untuk kiprah berikutnya.
Vivi tercatat sebagai Komisioner KPU Sulut periode 2013-2018.
Vivi mengungkapkan, keinginan nyaleg muncul setelah berdiskusi dengan pengurus PSI. Ia mengusung isu antikorupsi.
“Proses awal suka gabung dengan PSI punya visi dan misi yang sama terkait antikorupsi dan intoleransi,” ujar Vivi. Setelah punya visi yang sama, Vivi kemudian memutuskan maju ke DPR RI.
Selain antikorupsi dan intoleransi, fokus kampanye Vivi nanti menyangkut masalah perempuan. Ia sudah lama berkiprah di LSM terkait masalah perempuan, sebelum menjadi komisioner KPU.
Vivi mengaku, menyukai metode PSI soal menggalang dana dari publik. Hal ini sama ketika Presiden AS Barack Obama maju di pilpres.
“Appreciate buat PSI karena berupaya melakukan pendidikan politik yang membangun kesadaran publik sudah lebih banyak mengerti dan sadar bukan lagi cara-cara money politics, masyarakat diberi sembako, uang dan lain-lain untuk dapatkan suara,” kata dia.
Kontestasi caleg ke Senayan kian ketat. Sejumlah figur cukup berpengaruh di Sulut seperti Benny Mamoto masuk menjadi caleg Nasdem.
Benny merupakan caleg nomor urut 1 ke DPR sesuai Daftar Pemilih Sementara yang dikeluarkan KPU RI. Pensiunan jenderal dua bintang Polri ini pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional. Dalam kariernya di Polri, ia berhasil mencapai jenjang kepangkatan inspektur jenderal.
Benny merupakan penantang terkuat Olly Dondokambey ketika bertarung di Pemilihan Gubernur Sulut 2015. Formasi Nasdem cukup kuat karena selain Benny, di nomor urut 2 ada putri tunggal Elly Lasut Hilary Brigita Lasut.
Di daftar caleg ada pula nama Anggota DPRD Sulut dari Nasdem, Felly Estelita Runtuwene. Caleg Nasdem lainnya Farida Handayani, Emanuel Yosafat Tular dan Kamran Mochtar.
Sekretaris DPW Nasdem Victor Mailangkay membenarkan, nama Benny dan caleg lain masuk DCS. “Nasdem siap untuk bersaing DPR RI Sulut,” kata dia kepada tribunmanado.co.id, Selasa (14/8/2018).
Enam Politisi Berkarya Tereleminasi
Partai Berkarya kehilangan seluruh calegnya di DPR RI Dapil Sulut. Harusnya ada enam caleg diajukan, tapi tak satu pun nama yang keluar saat pengumuman DCS.
Adapun caleg yang dinyatakan tidak memenuhi syarat, yakni Paulus Pangau, Melky Tumbelaka, Mud Maena, Stefhanus G Dahua, Naima Bahmin dan Vemmy Malingkas.
Pangau juga merasa dirugikan karena masuk daftar caleg DPR RI Partai Berkarya. “Persoalannya karena ada caleg perempuan ada yang tidak memenuhi syarat berkas sehingga mempengaruhi syarat 30 persen perempuan yang wajib dipenuhi,” kata dia, Selasa (14/8/2018).
Kata Paulus, sebenarnya di data caleg Berkarya ada tiga perempuan melampaui syarat 30 persen. Ternyata dua caleg di antaranya dinyatakan tidak memenuhi syarat. “Lagi dimediasi di pusat,” ujar dia.
Sekadar Penuhi Syarat Normatif
Menurut Ferry Liando, pengamat politik dari Unsrat, sudah ada syarat 30 persen perempuan di daftar caleg .
Apresiasi bagi parpol yang memenuhi keterwakilan 30 persen perempuan. Namun yang dimaksud keterwakilan 30 persen itu bukan perempuan semata-mata pada jenis kelamin, tetapi perempuan yang dianggap mampu memperjuangkan kepentingan perempuan di parlemen.
Dari penempatan caleg perempuan, masih terkesan hanya sekadar untuk memenuhi syarat normatif, yaitu setiap daftar caleg wajib keterwakilan perempuan.
Penempatan wakil perempuan belum bermotif bahwa parpol berpihak pada kepentingan perempuan. Banyak sumber calon wakil rakyat dari unsur perempuan, misalnya para aktivis-aktivis perempuan yang selama ini dikenal publik diabaikan oleh parpol. Sebenarnya bukan susah mencari caleg perempuan, tapi tak diberi kesempatan. Kalaupun ada, itu syaratnya kerap dipersulit.
Harusnya para perempuan ini sudah dipersiapkan jauh sebelum pemilu. Bukan seperti sekarang, sebagian besar parpol sepertinya asal comot saja perempuannya, hanya sekadar kewajiban normatif.
Selektif Memilih
Harapan dari konstituen, bakal caleg yang mewakili Sulut ke Senayan bisa membawa aspirasi rakyat.
Menurut Palmalia Katarina Mandagi, warga tentu berharap legislatif nanti bisa kerja untuk rakyat.
“Saya minta enam anggota DPR yang nantinya akan duduk di DPR RI, harus punya peran dalam hal kebijakan pusat untuk pembangunan daerah,” ujar gadis kelahiran Kotamobagu 24 Maret 2001 saat ditemui di Lorong Maimosa, Keluarahan Mogolaing, Kecamatan Kotamobagu Barat, Selasa (14/8/2018).
Palmalia, sapaan akrab sang gadis mengatakan, masyarakat harus lebih cerdas memililih wakil rakyat.
Sering kali masyarakat lupa dan tidak tahu, pentingnya peran DPR RI. Sehingga sering memilih tidak selektif.
Kata anak tunggal dari pasangan suami-istri Riky Agustinus Mandagi dan Debby Wilhelmina Manopo, anggota DPR RI yang terpilih diharapkan ke depan bisa memperhatikan Sulut serta memperjuangkan seluruh kebutuhan seperti pembangunan infrastruktur.
Felly-Hillary-Adriana Punya Pemilih Sendiri
Sulut dikenal sebagai gudang politisi wanita handal sejak lama.
Kekuatan wanita kembali diuji pada Pemilu 2019. Gara-gara wanita, PDIP nyaris “tamat” di DPRD Sulut Dapil I Manado.
Seorang caleg wanita tidak memenuhi syarat administrasi.
Akibatnya keterwakilan perempuan 30 persen di dapil tersebut tak terpenuhi. Kekuatan wanita juga nampak dari susunan caleg dalam DCS.
Tak sekadar pemanis, umumnya caleg wanita yang dipasang punya keunggulan dalam hal intelektualitas, kemampuan finansial dan tentu saja kecantikan.
Mereka adalah mesin pendulang suara untuk partai. Faisal Pranoto, Sekretaris Bappilu DPW Partai Nasdem mengatakan, partainya mengandalkan dua wanita cantik, yakni Felly Runtuwene dan Hillary Lasut.
“Mereka berdua sangat kami andalkan, “ kata dia.
Menurut Faisal, Felly dan Hillary punya segmen massa sendiri.
Felly adalah anggota DPRD Sulut petahana dengan konstituen fanatik sementara Hillary punya kans mendulang suara kaum milenial.
“Target kami satu kursi, namun rasanya bisa dua, “ kata dia. PDI Perjuangan juga mengandalkan para caleg wanita.
Di DPR RI, Adriana Dondokambey punya kans kuat mengikuti jejak saudaranya Olly Dondokambey sebagai anggota DPR RI.
Adriana sudah punya pengalaman sebagai anggota Dewan Sulut. Ia juga berpengalaman sebagai birokrat. “Saya siap menggaet pemilih wanita, “ kata dia kepada tribunmanado.co.id, beberapa waktu lalu.
Di Minut, Fransiska Tuwaidan sementara menyusun kekuatan lewat kendaraan partai berjuluk moncong putih itu. Etha, panggilan akrabnya, hakul yakin ia bisa jaya kembali lewat PDIP. “Saya siap kembali ke dunia politik, “ kata dia.
Etha adalah mantan anggota DPRD Minut. Ia pernah diusung PDIP sebagai calon bupati Minut.
Kemunculannya bakal mengerek suara PDIP di DPRD Minut, Dapil Kauditan-Kema.
Gubernur Sulut Olly Dondokambey beberapa waktu lalu pernah menyebut caleg wanita di PDIP tak sebatas pemanis tapi adalah mesin pendulang suara.
“Di partai lain mungkin caleg wanita hanya dimajukan terpaksa karena melengkapi syarat pencalonan tapi di PDIP caleg wanita adalah andalan,” kata dia.
Kubu PSI juga mengandalkan dua caleg wanita yakni Jull Takaliuang dan Vivi George. Keduanya mantan aktivis yang punya jejaring kuat. (art/ven/ryo/dma)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/caleg_20180815_005221.jpg)