Buya Syafii Maarif dan Sumanto Al Qurtuby: Stop Politisasi Agama!

Senada dengan Buya, Sumanto menganggap, praktik politisasi agama hanya merendahkan martabat agama bahkan menghina Tuhan.

Buya Syafii Maarif dan Sumanto Al Qurtuby: Stop Politisasi Agama!
Basuki
Buya dan Sumanto: Muslim harus cerdas, jangan mau dibodohi para tengkulak agama. 

Oleh : BASUKI

Penggunaan agama sebagai kuda tunggangan dalam politik, tidak hanya tunamoral, tapi juga sangat berbahaya.

Politisasi agama berpotensi menyulut intoleransi, diskriminasi dan persekusi.

Bahkan, dengan indoktrinasi masif, politisasi agama mampu menggerus akal sehat, menciptakan manusia-manusia yang taklid pada teologi maut, pribadi-pribadi penuh paradoks: siap mati, tapi tidak siap hidup.

Demikian Buya Ahmad Syafii Maarif dan Sumanto Al Qurtuby menyampaikan pandangannya dalam diskusi kebangsaan bertajuk “Agama, Politik dan Politisasi Agama” yang dihelat Himpunan Dokter Bhinneka Tunggal Ika di Gedung Museum Kebangkitan Nasional (STOVIA), Jakarta Pusat (29/7/18).

Buya Ahmad Syafii Maarif: Agama yang benar ialah agama yang membela kemanusiaan, keadilan dan yang sanggup merayakan perbedaan
Buya Ahmad Syafii Maarif: Agama yang benar ialah agama yang membela kemanusiaan, keadilan dan yang sanggup merayakan perbedaan (Basuki)

Buya menegaskan, agama yang benar ialah agama yang membela kemanusiaan, keadilan, dan yang sanggup merayakan perbedaan.

“Agama jelas bukan alat untuk menyebarkan kebencian. Agama merupakan rahmat yang semestinya membuat pemeluknya sadar bahwa langit dan bumi ini untuk semua orang. Tapi, di negeri kita, repotnya, yang terlibat politisasi agama ini ada juga profesor lulusan Amerika. Bahkan, ada yang berambisi meniru Mahathir. Mahathir kita tahu prestasinya, tapi yang ini?” ujar mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini disambut sorak peserta.

Senada dengan Buya, Sumanto menganggap, praktik politisasi agama hanya merendahkan martabat agama bahkan menghina Tuhan.

Dosen di King Fahd University of Petroleum, Arab Saudi ini meluruskan, agama seharusnya dijadikan kekuatan moral.

“Lihatlah Pilkada DKI 2017, Pilkada terburuk di sepanjang sejarah. Di Pilkada ini, masjid sebagai tempat suci dikotori dengan ujaran kebencian. Salah satu pendukung paslon tertentu sampai menghalalkan segala cara, bahkan mayat pun dilibatkan dalam pemilihan. Apakah Pilkada DKI 2017 menghasilkan pemimpin berkualitas? Sama sekali tidak!”

“Bagi saya,” demikian Doktor Antropologi jebolan Boston University, Amerika Serikat ini berkeyakinan, “pemimpin politik-pemerintahan, tidak harus seorang Muslim. Juga tidak penting sama sekali apakah ia Islami atau tidak, bisa salat atau tidak, fasih membaca ayat-ayat Al-Quran atau tidak. Yang dibutuhkan seorang pemimpin politik-pemerintahan itu bukan idiologi dan agama tertentu tetapi kejujuran, kebersihan dan komitmen pada keadilan sosial.”

KELOMPOK WARAS JANGAN DIAM

Melihat masifnya pembodohan umat, kepada para dokter yang hadir, Buya menyeru agar kelompok waras tidak tinggal diam.

Kalau kelompok waras diam, akibatnya yang tidak waras akan memimpin.

Katanya, “Dokter-dokter harus speak up, harus turun ke lapangan. Jadilah dokter-dokter yang memikirkan rakyat. Teladani dokter-dokter pejuang, dokter-dokter hebat, seperti: Dokter Sutomo, Abu Hanifah, Tjipto Mangunkusomo, Wahidin Sudirohusodo dan sebagainya.”

Namun sayang, seperti disampaikan Sekjen NKRI Sehat Dr Maria Mubarika, kini virus radikalisme terlanjur mewabah, bahkan merambah di kalangan medis.

Seorang peserta menceritakan tentang adanya dokter yang menolak untuk mengobati pasien lantaran ia tidak seagama.

Sumanto Al Qurtuby: Yang dibutuhkan seorang pemimpin politik-pemerintahan itu bukan idiologi dan agama tertentu tetapi kejujuran, kebersihan dan komitmen pada keadilan sosial.
Sumanto Al Qurtuby: Yang dibutuhkan seorang pemimpin politik-pemerintahan itu bukan idiologi dan agama tertentu tetapi kejujuran, kebersihan dan komitmen pada keadilan sosial. (Basuki)

Menanggapi fenomena ini, Sumanto berkata, “Saya menduga, dokter-dokter jenis ini mungkin kurang tamasya. Karena itu, para dokter perlu meluaskan wawasannya. Para dokter jangan hanya membaca ilmu kedokteran. Baca sumber-sumber yang lebih komprehensif. Makanya, kalau belajar agama jangan dari tengkulak agama yang hanya bermodal sorban, cadar, dan jenggot. Sorban, cadar dan jenggot itu tidak menjamin Anda masuk sorga. Masak masuk sorga diukur dari panjang-pendeknya jenggot? Ini pembodohan umat yang keterlaluan!”

Sumanto mengingatakan, para dokter yang terlanjur mendukung khilafah dan menjadi cheerleaders Hizbut Tahrir (HT) perlu tahu.

HT didirikan oleh Taqiyuddin al-Nabhani.

Ia dicurigai menyimpan agenda terselubung untuk membangkitkan kembali kekuasaan suku Bani Nabhan yang pernah menjadi penguasa politik di Oman tahun 1154-1624.

HT hanyalah “alat” untuk menggolkan ambisi Taqiyuddin.

“Khilafah” hanyalah nama saja untuk mewujudkan ilusinya.

“Saya heran, di Indonesia, HT laku dijual. Padahal, di negara asalnya, HT sepi peminat. Bahkan, di negara-negara Arab, HT dilarang,” ujar Sumanto.

Menyoroti maraknya mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen eksakta yang terpapar radikalisme, Buya menengarai, fenomena ini terjadi karena pengetahuan agama mereka masih tingkat TK.

“Kita harus bisa membedakan antara Islam dan Arabisme. Arabisme tidak semuanya baik. Arabisme ada yang baik ada yang salah jalan. Arabisme yang tersesat hanya fokus pada bungkus atau casing. Karena levelnya masih ritual, jangan heran kalau mereka lebih mengagumi jenggot daripada hal-hal yang substansial,” sindirnya.

Buya yang dikenal hidup sangat sederhana dan pernah menolak tawaran untuk menjadi Komisaris Utama sebuah perusahaan BUMN ini mengingatkan agar Muslim Indonesia makin cerdas.

Katanya, “Peradaban Arab Muslim sekarang ini sedang jatuh. Negara-negara Timur Tengah disibukkan dengan konflik horizontal. Masak rongsokan peradaban Arab yang jatuh ini kita impor? Kita beli? Yang cerdas dikit, dong!”

KEMBANGKAN NALAR KRITIS

Buya yang menempuh S3-nya di Chicago di bawah bimbingan ahli Islam ternama kelahiran Pakistan, Prof Fazlur Rahman ini berpesan, kita para intelektual, jangan sampai malas belajar, malas membaca.

Katanya, “Jika Anda mengeluh tidak punya waktu, ingatlah pesan Dokter Bahder Djohan. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Natsir dan Wilopo ini selalu mendorong para cerdik cendikia untuk meluaskan wawasan dengan membaca. Curi waktu tidurmu untuk membaca! Katanya selalu.”

Sumanto di tengah para penggemar yang minta berswafoto.
Sumanto di tengah para penggemar yang minta berswafoto. (Basuki)

Tidak hanya tekun membaca, Sumanto menambahkan, sebagai seorang intelektual, ia juga harus berani bersikap kritis.

Anggota Dewan Pendiri Nusantara Institute ini dengan tegas mengatakan, bahwa pendidikan tanpa kritisisme tidak ada artinya.

Pengetahuan tidak mungkin berkembangkan tanpa kritisisme.

Demikian pun di ranah politik. Semua harus diperjuangan.

Katanya, “Orang mengira saya pro Ahok, itu salah. Saya tidak kenal dan tidak pernah bertemu Ahok. Ketika saya bersuara tentang Ahok, saya tidak dalam posisi membela Ahok. Karena bagi saya, sepanjang dia adalah WNI dari suku dan agama apa pun, jika dicurangi akan saya bela. Kita jangan menerapkan standar ganda. Giliran Cina, diserang sebagai non-pri; tapi begitu Arab, tidak dianggap non-pri. Proses politik yang demikian inilah yang saya lawan. Sekali lagi saya tidak membela orangnya. Yang saya bela adalah kualitas individunya. Karena itu, untuk NKRI yang berperadaban, kita harus sama-sama berjuang. Kita jangan takut berjuang, apa pun risikonya!”

Penulis: Basuki (Penulis bisa dihubungi di: basuki_cakbas@yahoo.com)

Editor: Sigit Sugiharto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved