Rabu, 15 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Door, Pencuri Sapi di Bolsel Roboh: Eli Lari usai Membuka Borgol

Peternak sapi di Sulawesi Utara boleh sedikit lega. Polisi mengungkap keterlibatan sindikat pencuri ternak

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
TRIBUN MANADO/FELIX TENDEKEN
Sapi curian yang kini diamankan oleh Polsek Bolaang Uki 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MOLIBAGU – Peternak sapi di Sulawesi Utara boleh sedikit lega. Polisi mengungkap keterlibatan sindikat pencuri ternak asal Provinsi Gorontalo yang beroperasi di wilayah ini.

Eli Anwar, anggota sindikat, terpaksa dilumpuhkan timah panas oleh petugas setelah tersangka berusaha kabur, Kamis (2/8/2018). Teman Eli berhasil kabur dalam aksi penggerebekan Tim Buru Sergap (Buser) Polsek Urban Bolaang Uki, Bolaang Mongondow Selatan.

Dalam menjelankan aksinya, kelompok ini kerap mengeksekusi ternak incaran di lokasi perkebunan. Mereka hanya mengambil bagian tubuh berharga dari ternak.

Terbongkarnya kelompok ini bermula dari penangkapan Eli. Ia mencuri sapi di Perkebunan Pangia, Kecamatan Helumo, Kabupaten Bolsel. Warga Kelurahan Dulugo Selatan, Kota Gorontalo ini ditangkap saat bersembunyi di Desa Posigadan pada Sabtu (28/7/18).

Kapolsek Urban Bolaang Uki, Kompol Baharudin Samin, mengatakan pelaku ‘dihadiahi’ timah panas lantaran berusaha melarikan.

“Saat kami meminta dia menunjukan lokasi rumah tersangka lain, dia berusaha lari usai borgol di jarinya lepas. Kami tembak kaki kanannya,” ujar Kapolsek saat ditemui tribunmanado.co.id di ruang kerjannya, Kamis kemarin.

Lanjut Kapolsek, diduga setelah mengetahui temannya ditangkap, pelaku lain melarikan diri. Namun petugas terus pengejaran di daerah Gorontalo. Kapolsek menjelaskan, dari pengembangan kasus, diketahui tersangka sebelum menjual sapi curian sehari sebelumnya datang ke rumah Udin, seorang penadah di Desa Tolondadu.

“Tapi saat dia datang Udin sedang tidur. Pelaku kemudian bercengkrama dengan penduduk sekitar rumah penada sambari menunggu Udin bangun dari tidurnya. Dia (tersangka) mengaku kepada warga bernama Randi,” ujar Baharudin.

Polisi kemudian melakukan penelusuran di kediamannya di Desa Momalia. Namun warga di sana mengaku tidak mengenal orang bernama Randi, orang sering berkomunikasi lewat telepon seluler dengan Udin.

Belakangan diketahui, tersangka hanya tinggal sementara waktu di desa itu. Orang itu bernama Eli Anwar, beralamat di Provinsi Gorontalo.

“Saat itu kami pertemukan dengan penadah yang kecolongan membeli sapi curian, lalu dikatakan dialah yang menjual sapi,” ujar Kapolsek.

Tersangka langsung ditangkap dan digiring ke kediaman satu orang pencuri lainnya yang diketahui berboncengan menggunakan sepeda motor usai menjual sapi curian. “Lalu pelaku berusaha melarikan diri, borgol di jari lepas, makanya kami tembak kakinya,” ujar Baharudin.

Kata Kapolsek mengaku pencuri sapi memiliki keahlian memotong ternak secara cepat. Bahkan, untuk memenggal sapi yang masih hidup tidak membutuhkan waktu yang lama. Hanya 10 menit sampai 15 menit.

“Pernah ada kejadian pada tahun 2016, tapi karena diduga ini motif pencurian berskala besar kami alihkan ke Polres Bolmong,” ujarnya.

Kejadian seperti ini jarang terjadi. Biasannya setahu sekali pada saat merayakan hari besar. “Jelang Lebaran, Kurban dan Lebaran Haji. Biasannya permintaan daging sapi dan kambing tinggi dan harganya mahal,” ujarnya.

Sayangnya dari sebagian besar warga yang kehilangan sapi, jarang yang melaporkan ke pihak kepolisian. “Tahun 2017 tidak ada kasus. Tahun 2018 sudah ada dua (kasus). Ada yang melapor hari ini kehilangan dua ekor sapi,” ujarnya.

Burhan, peternak di Bolsel, mengaku kehilangan dua ekor sapi. Ia mengaku sudah berusaha mencari hewan ternaknya, namun tidak ditemukan lagi.

“Sudah beberapa hari sapi saya tidak ditemukan. Saya dirugikan Rp 20 juta untuk dua ekor sapi. Makanya saya laporkan,” kata dia.

Kapolres Tomohon, AKBP I ketut Agus Kusmayadi, mengatakan untuk tahun 2018, belum ada kasus pencurian sapi di wilayah Tomohon. “Kalau tahun-tahun sebelumnya memang pernah terjadi. Paling banyak pada tahun 2016,” kata Kusmayadi, Kamis kemarin.

Katanya, pencurian sapi sesuai data tahun 2016 ada 40 lokasi pencurian sapi. Kemudian tahun 2017, hanya delapan titik. “Kasus pencuriannya berbeda, ada yang dicuri tersisa tulang belulang. Ada yang hilang satu ekor,” katanya.

Kapolres mengimbau kepada masyarakat agar mengaktifkan pos kamling serta bekerja sama antara TNI/Polri, pemerintah kelurahan maupun kecamatan untuk melakukan penjagaan.

Herman, satu di antara peternak sapi pernah kehilangan sapi mengakui kini Tomohon aman. “Dulu di daerah sini sering kehilangan sapi, memang banyak peternak sapi yang mengikat sapi di kebun Puncak Wawo tepatnya di Kelurahan Wawo,” katanya.

Ia menceritakan saat kejadian dua tahun lalu, ia hendak memberi makan sapi miliknya, ia pun kaget melihat sapinya tersisa tulang belulang. “Saya ingat sekali waktu itu karena sapi yang disembelih pencuri dalam keadaan hamil,” ujarnya. “Kalau dirupiahkan sapi saya yang dicuri harganya sekira Rp 20 juta,” kata dia.

Polres Bolmong Catat 115 Kasus

Kasus pencurian sapi sepertinya menjadi kasus yang banyak terjadi di beberapa wilayah di Sulawesi Utara.

Polres Bitung mencatat dua kasus pencurian sapi di tahun 2018. “Tahun ini ada dua kejadian, pertama di Aertembaga dilaporkan dan tersangkanya sudah kami tangkap tiga orang warga Bolmong, sudah maju sidang,” kata Kapolres Bitung, AKBP Philemon Ginting, Kamis (2/8).

Satu lagi, di Matuari namun tidak dilaporkan lantaran sudah diselesaikan secara kekeluargaan. “Kalau yang di Aertembaga itu empat ekor yang dicuri. Modusnya sama yaitu mereka sembelih di lokasi hanya diambil dagingnya saja, isi perut dan tulang ditinggalkan,” ujar dia.

Sementara Polres Minut di 2018 baru mencatat satu kali kejadian pencurian sapi. “Selama ini baru satu, mungkin banyak di Polsek. Satu kasus pencurian sapi tersebut juga sudah selesai, sapinya ditemukan dan pemiliknya tidak keberatan,” ucap Aiptu Melky Pontoh, Kanit Reskrim Polres Minut.

Kasat Reskrim Polres Bolmong, AKP Ronny Maridjan mengatakan, total kasus pencurian dari Januari-Juli berjumlah 115 kasus. “Kasus ini sudah termasuk pencurian ternak sapi,” ujar AKP Ronny Maridjan, Kamis (2/8/2018).

Kata dia, kasus pencurian hewan ternak seperti sapi sangat diseriusi oleh Polres Bolmong dan polsek.
Polsek Bolaang Uki berhasil mengamankan EA (31) diduga melakukan pencurian hewan ternak di Desa Pangia, Kecamatan Helumo, Kabupaten Bolsel. Dia diamankan Buser Bolaang Uki di Desa Posigadan pada Sabtu (28/7/18).

Menurut dia, Polres akan seriusi laporan masyarakat terutama masalah pencurian ternak sapi. Kapolsek Urban Kotamobagu, Kompol Muslikan mengatakan, sampai hari ini belum ada laporan dari masyarakat mengenai kehilangan sapi.

“Kami belum menerima laporan masyarakat. Jika memang ada pasti ditindak lanjuti,” ujar Muslikan.

Pelaku Cari Jalan Potong

Prof Ferdinand Kerebungu, Sosiolog dari Unima, mengatakan perilaku masyarakat dalam kasus pencurian ternak disebabkan beberapa faktor.

Kondisi ekonomi pelaku, tak berbanding lurus dengan perkembangan iptek globalisasi. Banyak masyarakat tak bisa bersaing karena pendidikan rendah dan kemiskinan.

Kenapa miskin, karena banyak sistem pemberdayaan masyarakat yang keliru. Banyak masyarakat termanja. Kalau teori sosiologi disebut kemiskinan terstruktur yakni kemiskinan yang dibuat karena kebijakan yang salah sasaran.

Secara teoritis pemberdayaan masyarakat seharusnya menggunakan anggaran yang lebih kecil. Tapi butuh waktu lama, bisa satu periode pemerintahan.

Di era pasar bebas, masyarakat tak berdaya. Tak mampu bersaing. Kuncara Ningrat bilang mereka memiliki mentalitas menerabas.

Cari jalan potong, bagaimana cepat dapat uang. Salah satunya mencuri sapi. Fenomena ini sudah lama terjadi. Di Malalayang (Manado) banyak mengalami (korban).

Polisi di daerah hanya sebatas bertindak sebagai pemadam kebakaran, bukan secara preventif. Ada Babinkamtibmas, tapi kurang maksimal.

Keamanan di tiap desa, kelurahan harus ditingkatkan. Tingkatkan siskamling, jangan hanya aktif kalau ada kejadian. Kalau ditingkatkan akan mencegah berbagai kejadian.

Peternak Malah Pergi ke ‘Orang Pintar’

Ada tradisi unik di Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur.

Peternak yang kehilang hewan peliharaan seperti sapi enggan melaporkan ke polisi. Mereka malah pergi ke dukun atau ‘orang pintar’ untuk mencari ternak.

Kapolsek Kotabunan, Kompol Suparno mengakui peristiwa pencurian sapi di wilayah hukum Polsek Kotabunan sering tak dilaporkan ke polisi.

Petugas sering mendengar terjadi pencurian, namun tidak dilaporkan. Kasusnya, selain kasus pencurian di Tombolikat pada bulan Juli 2018, tidak ada lagi kasus yang dilaporkan. “Ada sekitar tiga sapi. Tapi mereka tidak lapor polisi,” katanya.

Kata Suparno, korban hanya memakai dukun atau ‘orang pintar’ untuk mencari ternak yang hilang. Itu menyulitkan kepolisian jika menemukan tersangka. “Kalau bertemu bagaimana. Seharusnya dilapor dulu,” katanya.

Ia mencontohkan kasus pencurian sepeda motor di Ratatotok, Minahasa Tenggara. Kedua motor ditemukan di wilayah Polsek Urban Kotabunan. “Ya dikembalikan. Itu harus melapor,” katanya. Lanjut Kapolsek, pernah terjadi pencurian ternak satu ekor kambing pada tahun 2016, selebihnya tidak ada lagi laporan pencurian. (amg/ven/lix/fer/dma)

Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved