Hapus Buku NPL Paruh II hingga Akuisisi Freeport

Strategi para bankir menjaga kredit bermasalah rupanya cukup berhasil. Ini terlihat dari tren penurunan rasio kredit bermasalah

Hapus Buku NPL Paruh II hingga Akuisisi Freeport
Net
PT Freeport Indonesia 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Strategi para bankir menjaga kredit bermasalah rupanya cukup berhasil. Ini terlihat dari tren penurunan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di industri perbankan yang terus menurun.

Mengutip riset Trimegah Securities pada 11 Juli 2018, NPL bank sejak Agustus 2016 terus menurun. NPL gross tertinggi dalam lima tahun terakhir terjadi pada Agustus 2016 yaitu di level 3,22%. Angka ini terus menurun, hingga 2,79% pada April 2018.

Meski begitu, jumlah kredit bermasalah yang dilakukan hapus buku atau write off terus mengalami kenaikan. Pada kuartal III 2016 rasio jumlah kredit yang dihapus bukukan sebesar 1,2% dari total nilai kredit. Namun pada kuartal IV 2016 rasionya terus mengalami kenaikan.
Pada kuartal 1 2018 rasio kredit perbankan yang dihapus buku sebesar 1,8% atau jumlahnya mencapai Rp 85,3 triliun. Jumlahnya naik dibanding periode sama di 2017 yang sebesar 1,3%.

Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP mengatakan, hapus buku di semester I-2018 terutama dilakukan di kredit konsumer. Namun trennya menurun dibandingkan hapus buku di semester I-2017. "Apabila kondisi makro membaik, harapannya sampai akhir semester II 2018 jumlah kredit yang dihapus buku bisa mengalami penurunan," kata Parwati, Senin (16/7) tanpa menyebut nilainya.

Sementara Nixon Napitupulu, Direktur Collection & Asset Management PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mengatakan, jumlah hapus buku BTN di semester 1 2018 sebesar Rp 300 miliar. "Jumlah kredit yang dihapus buku di tahun ini sama persis dengan tahun lalu," kata Nixon.

Adapun Bank Rakyat Indonesia (BRI) melakukan hapus buku dengan nominal yang relatif kecil. Suprajarto, Direktur Utama BRI bilang, jumlah kredit yang dihapus buku semester 1 2018 tidak besar.

Raihan Kontrak Anak Usaha WIKA Moncer

Dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk di sektor konstruksi optimistis bisa meraih target kinerja tahun ini. Maklum, performanya selama enam bulan pertama terbilang moncer.

Lihat saja, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) telah meraih order book atau kontrak dihadapi senilai Rp 11,77 triliun hingga akhir Juni 2018. Angka tersebut belum termasuk rencana perolehan kontrak baru senilai Rp 2,6 triliun pada Juli.
Kontrak tersebut berasal dari proyek di luar induk usaha. "Kami yakin proyek itu akan kami peroleh, karena penawaran kami yang terendah," kata

Direktur Utama WEGE, Nariman Prasetyo dalam keterangan resminya, Minggu (15/7).
Perolehan kontrak WEGE selama enam bulan pertama setara 70,95% dari target order book sepanjang tahun ini yang sebesar Rp 16,59 triliun. WEGE pun merevisi naik target penjualan tahun ini menjadi Rp 5,88 triliun, dari semula sebesar Rp 5,56 triliun. Target tersebut naik 51,20% dibandingkan realisasi tahun lalu sejumlah Rp 3,89 triliun.

Halaman
1234
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved