Pedemo Salah Sebut Nama Rektor Unsrat, Maramis Sebut Ada Massa Bayaran
Dari puluhan pedemo itu, tak satupun yang dikenali Ronny Maramis sebagai mahasiswa Unsrat.
Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Wakil Rektor II Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) DR Ronny Maramis terperangah saat menyaksikan aksi demonstrasi pihak yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa Hukum Indonesia (Gemahi) di Kantor Kemenristekdikti beberapa waktu lalu.
Demonstran menuntut Presiden Jokowi dan Menristekdikti Mohamad Nasir membatalkan pelantikan Rektor Unsrat, Prof Dr Ir Ellen Joan Kumaat MSc DEA.
Dari puluhan pedemo itu, tak satupun yang dikenali Ronny sebagai mahasiswa Unsrat.
Yang lebih aneh, pedemo salah menyebut nama rektor Unsrat.
"Ada yang teriakkan nama Ellen Rumaat atau Ellen Kuwat, atau apalah, tak jelas," kata dia.
Ronny menduga itu massa bayaran.
Ia prihatin.
"Kalau itu mahasiswa Unsrat, saya terima keluhannya, dialog habis itu minum kopi, tapi ini bukan mahasiswa, juga tak Unsrat, tapi kok teriak Unsrat," kata dia.
Ronny menilai apa yang disebut para pedemo semuanya hanyalah asumsi.
Pedemo tak memaparkan data yang jelas.
"Hanya asal teriak saja," kata dia.
Rignolda Djamaluddin salah satu anggota Senat punya pengalaman lebih heboh.
Ia mendapati adanya dugaan pedemo bayaran.
"Ada yang mengaku dapat uang," kata dia.
Dia mengaku sangat geram dengan ulah pedemo.
Yang geram ternyata bukan hanya dia, tapi juga pihak Kementerian.
"Pihak kementerian juga mendapat tudingan oleh pedemo soal gratifikasi," kata dia.
Sebut dia, pihak kementerian meminta pihak Unsrat menelusuri dugaan adanya pihak - pihak di Unsrat yang bermain.
"Siapapun dia, guru besar atau dosen akan ditindak," kata dia.
Ajak Bangun Unsrat
Maramis mengakui riak yang seolah tak pernah habis seputar pilrek membuat energi habis.
"Kalau kita hanya penuh berkutat pada hoax dan fitnah, kapan kita maju," kata dia.
Menurut Maramis, Rektor Unsrat saat ini Ellen Kumaat punya sejumlah program untuk memajukan Unsrat.
Salah satunya pembangunan rumah sakit pendidikan.
"Itu satu satunya di Indonesia," kata dia.
Program lainnya, bebernya, adalah BLU, akreditasi international sejumlah prodi hingga pembuatan banyak titik spot wifi.
Unsrat juga bertekad masuk 30 besar universitas di Indonesia.
"Untuk itu kami mengajak pihak pihak yang berseberangan untuk sama sama membangun Unsrat," kata dia.
Menurut Maramis, jika ada pihak yang masih ingin mempersoalkan soal kasus di Unsrat hendaknya menyampaikan lewat saluran yang benar.
"Kami siap dialog," kata dia.
Ahli hukum Toar Palilingan mengatakan, tuntutan pedemo terkesan selalu berulang ulang dan tendensius.
"Itu tidak ada hubungannya dengan pilrek sama sekali," kata dia.
Sebut Toar, pilrek sudah selesai.
Secara hukum, Ellen Kumaat sudah sah sebagai rektor.
Jubir Unsrat Heski Kolibu berharap agar Hoax seputar Unsrat dihentikan.
"Save Unsrat, jangan permalukan Unsrat, ini institusi pendidikan, apalagi jika ternyata yang terlibat orang dalam Unsrat sendiri," kata dia.
Dikatakan Heski, Menteri Riset dan Teknologi RI Mohamad Nasir telah berpesan pada Ellen untuk menjalankan amanah sebagai rektor Unsrat.
"Bu rektor diminta lanjutkan pembangunan, tingkatkan pelayanan," beber dia.
Gubernur Sulut Olly Dondokambey juga berpesan agar Ellen dapat menjadikan Unsrat sebagai universitas nomor satu di Indonesia Timur. (Tribunmanado.co.id/Arthur Rompis)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/universitas-sam-ratulangi-manado_20180701_185703.jpg)