5 Orangtua Korban Penganiyayan Kecewa, Hanya Disuruh Berdamai
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Sulut mengaku kaget ketika para orangtua datang ke Posbakum meminta pembelaan.
Penulis: Nielton Durado | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Lima orangtua siswa penganiyayan oleh oknum anggota Sabhara Polda Sulawesi Utara (Sulut) mengungkapkan kekecewaannya kepada Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A).
Revoi Wala, salah satu orangtua korban kepada TribunManado.co.id, Jumat (29/6/2018), mengungkapkan kekecewaannya.
"Kami tidak pernah dibela, justru kami diminta untuk mediasi dengan pihak Polda Sulut," kata dia.
Padahal Revoi punya harapan besar jika Dinas P3A Manado bisa membantu mereka untuk memperoleh keadilan.
"Tapi kami justru didatangi di rumah dan dimintakan untuk berdamai, padahal anak-anak kami sudah ada yang patah gigi dan babak belur," ujarnya.
Sementara itu, kuasa hukum dari kelima korban yakni Adv E K Tindangen juga mengatakan kekecewaannya.
Menurutnya Dinas P3A harusnya lebih peduli karena para korban masih di bawah umur.
"Sesuai tupoksinya harusnya mereka dibela jangan diminta untuk berdamai, karena ini korbannya anak di bawah umur," ucapnya.
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Sulut ini juga mengaku kaget ketika para orangtua datang ke Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Pengadilan Negeri Manado untuk meminta pembelaan.
"Kalau diminta berdamai bagaimana nasib anak-anak yang masih SMA ini. Jangan karena mereka polisi jadi seenaknya saja, keadilan harus ditegakkan tanpa pandang bulu," pungkasnya. (Tribun Manado/Nielton Durado)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/para-orangtua-korban_20180629_080141.jpg)