Kredit Impor Tumbuh 16,25% Menjadi Rp 59,92 Triliun

Pelemahan nilai tukar mata rupiah tak menyurutkan minat bank menyalurkan kredit ke impor.

Kredit Impor Tumbuh 16,25% Menjadi Rp 59,92 Triliun
tribunnews
Layanan BNI 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar mata rupiah tak menyurutkan minat bank menyalurkan kredit ke impor. Amunisi lindung nilai atau hegding menjadi tameng bank dalam memberikan kredit ke segmen bermata uang valuta asing (valas) tersebut.

Rupiah tak berdaya terhadap dollar Amerika Serikat (AS) ini terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Dari Mei hingga Juni tahun ini, kurs rupiah tak jauh dari level Rp 14.000 per dollar AS.

Data terakhir, kredit impor tumbuh 16,25% menjadi Rp 59,92 triliun per April 2018, dibandingkan senilai Rp 51,54 triliun di April 2017. Ini lebih baik dari kredit ekspor yang turun 2,57% menjadi Rp 112,43 triliun di periode sama.

Kendati kredit impor bertumbuh, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) tetap menjadikan mitigasi risiko sebagai syarat utama pemberian kredit. Tujuannya, agar tidak memicu kredit macet atau non performing loan (NPL).

Mohammad Irfan, Direktur Manajemen Risiko BRI mengatakan, BRI telah melakukan mitigasi risiko. Salah satunya, dengan skema hedging untuk nasabah yang mengambil fasilitas kredit impor maupun ekspor.
Senada, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) sudah menyusun strategi untuk meningkatkan manajemen risiko kredit impor. Maklum, kurs rupiah terus tertekan terhadap dollar AS.

Bob Tyasika Ananta, Direktur Manajemen Risiko BNI menuturkan, pihaknya memiliki dua strategi untuk menangkal risiko kredit impor. Pertama, debitur wajib melakukan hedging dan memiliki pendapatan dalam valas.

Nah, jika syarat tersebut tidak dipenuhi, maka debitur diwajibkan melakukan hedging. Meskipun, BNI mencatat eksposur debitur yang terjadi miss match kurs ini sangat kecil.

Strategi kedua, melakukan stress test untuk mengukur kemampuan debitur dalam menghadapi kenaikan kurs. Dengan strategi ini, BNI optimistis NPL bisa terjaga dengan baik. Ke depan, BNI berharap tidak ada penambahan NPL di sektor impor karena pelemahan kurs.

Sementara itu, Frans Alimhamzah Direktur Bisnis Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk menyebut, pelemahan rupiah diperkirakan akan menyebabkan penurunan pada volume. "Kami masih bisnis kredit impor seperti biasa," ucapnya, Selasa (26/6)

Boedi Armanto, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menuturkan, kredit impor untuk bahan baku industri yang tidak tergantung pada nilai tukar. Kredit impor lebih banyak untuk barang modal dan bahan baku. (Galvan Yudistira)

Halaman
12
Penulis: reporter_tm_cetak
Editor: Lodie_Tombeg
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved