Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

FIFA World Cup Russia 2018

Kenal Maroko dari Kacamata Zak

Maroko atau Kerajaan Maroko kini telah berubah pesat. Perubahan yang paling terasa adalah kehidupan masyarakatnya.

Penulis: Tim Tribun Manado | Editor: Lodie_Tombeg
Boladport.com
Timnas Maroko selebrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Maroko atau Kerajaan Maroko kini telah berubah pesat. Perubahan yang paling terasa adalah kehidupan masyarakatnya. Di Maroko mulai terjadi pergeseran gaya hidup dari yang konservatif menjadi modern.

Itu adalah kacamata Abderrazak Chefii, seorang pria asal Maroko yang saya temui di Moskow, Rusia, Sabtu (23/6). Zak, begitu dia memperkenalkan namanya kepada saya.

"Saya lebih suka menyebut diri Zak karena kamu tahu sendiri nama Abderrazak dan nama-nama Arab lain punya citra yang negatif bagi sejumlah orang," ujar dia.

Usia Zak masih 31 tahun. Dia lahir dan besar di Maroko, namun pernah kuliah di Kanada. Agamanya Islam, tapi dia mengaku bukan seorang Muslim yang taat.

Saya dan Zak berkenalan di Pasar Izamailovo saat hendak memesan shashlyk. Saat itu dia memesan sebotol bir dingin merek ternama.

Zak datang jauh-jauh ke Rusia untuk mendukung negaranya berlaga di Piala Dunia kali ini. Ia bergabung bersama ratusan pendukung Maroko lainnya.

Sayangnya, tim jagoan mereka sudah dipastikan harus angkat kopor karena belum mendapatkan satu pun poin dari dua laga terakhir di penyisihan grup B, setelah ditekuk Iran, dan Portugal masing-masing dengan skor 0-1.

Alih-alih berbicara tentang sepak bola di negaranya, Zak kemudian menuturkan kondisi sosiologis di Maroko, yang sepertinya tak berbeda jauh dengan di Indonesia.

Sama seperti di Indonesia, mayoritas masyarakat Maroko memeluk agama Islam. Dari data yang saya himpun, persentasenya mencapai 99 persen.

"Yahudi adalah yang terbesar kedua, berikutnya Kristen dan Katolik. Di Maroko banyak orang Yahudi," papar Zak kepada saya.
Kehidupan di kota-kota besar di Maroko juga mirip dengan di Indonesia. Meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, di Maroko terdapat banyak bar dan tidak sulit menemukan minuman beralkohol. "Hanya beberapa tempat yang tutup selama Ramadan," katanya.

Masyarakat Maroko, kata Zak, terutama generasi mudanya, cenderung maju dan berkembang. Sejak mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar, mereka mempelajari dua bahasa. Sampai kelas 4 sekolah dasar, mereka wajib mempelajari bahasa Arab dan Prancis.

"Begitu kelas 4 ke atas kami harus pilih bahasa ketiga dan keempat. Saya pilih bahasa Spanyol dan Inggris," tuturnya.
Saya mengakui Zak memang fasih berbahasa Spanyol dan Inggris. Dia secara mudah berbincang dengan orang-orang Argentina yang duduk di samping kami. Saya bahkan menganggap kemampuan berbahasa Inggrisnya jauh lebih baik dari saya.

"Saya ini suka traveling dan ketika kamu ingin traveling, kamu harus punya kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Bahasa Inggris adalah bahasa internasional dan paling mudah," kata pria yang bekerja di sebuah perusahaan manufaktur milik Kanada ini.

Bagi Zak, ini adalah kali pertama bagi dirinya berkunjung ke Rusia. Dia mengaku jatuh hati kepada Rusia. Kunjungan ini berhasil membuka matanya soal Rusia. Dia tidak menemukan Rusia versi dunia Barat.
"Setelah sampai di sini saya melihat apa yang dikatakan Barat ternyata tidak seperti itu. Rusia negara yang bagus dan saya suka di sini," ujar Zak. (Tribunnews/deo)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved