Breaking News
Jumat, 24 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Miyamoto Musashi, Ahli Pedang Legendaris Jepang

Sosok Miyamoto Musashi atau Niten Doraku, merupakan filsuf, penulis, hingga ahli pedang hebat dari Jepang pada awal zaman Edo.

Editor: Aldi Ponge
Utagawa Kuniyoshi via Wikipedia
Miyamoto Musashi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sosok Miyamoto Musashi atau Niten Doraku, merupakan filsuf, penulis, hingga ahli pedang hebat dari Jepang pada awal zaman Edo.

Namanya melegenda karena dia merupakan pengguna dua pedang yang terbilang unik pada masa itu, dan tak terkalahkan dalam 61 duel.

Dia merupakan penemu teknik pedang Nito-Ichi-ry?, dan penulis seni bela diri dan berpedang Go Rin No Sho atau The Book of Five Rings dan Dokkodo atau The Path of Aloneness.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut merupakan biografi dari Ronin, atausamurai tak bertuan, tersebut.

1. Kelahiran dan Berkenalan dengan Pedang

Merujuk kepada buku Go Rin No Sho, Musashi lahir sekitar 1584 di desa Miyamoto, Provinsi Harima. Nama kecilnya adalah Bennosuke atau Takezo.

Ayah Musashi adalah Shinmen Munisai. Seorang seniman bela diri dan pengguna senjata jitte yang sering dipakai polisi zaman Edo.

Sejak usia tujuh tahun, Musashi diasuh oleh pamannya, Dorinbo, seorang biksu di Kuil Shoreian, tiga kilometer dari Hirafuku.

Dorinbo dan Tasumi, pamannya yang lain, mengajari dia agama Buddha dan pendidikan dasar seperti menulis dan membaca.

Adapun untuk ilmu bela diri, Musashi sudah menerima cara menggunakan jitte dari sang ayah, hingga Munisai meninggal pada 1592.

2. Duel Pertama

Jika merujuk kepada ceritanya di Go Rin No Sho, lawan pertama Musashi adalah samurai bernama Arima Kihei, pengguna Kashima Shinto-ryu ketika dia berusia 13 tahun.

William Scott Wilson, penerjemah samurai terkenal berkata, Kihei pada saat itu berkelana untuk mempertajam ilmu berpedangnya.

Di Hirafuku, Kihei mengunggah tantangan publik, yang kemudian ditanggapi Musashi dengan menuliskan namanya sendiri di kertas.

Seorang pembawa pesan lalu datang ke kuil Dorinbo di mana Musashi tinggal, dan memberi tahu bahwa tantangannya telah diterima oleh Kihei.

Dorinbo terkejut. Kepada Kihei, dia meminta agar pertarungan dengan keponakannya dibatalkan mengingat usia Munisai masih belia.

Kihei menolak. Dia berkata satu-satunya jalan adalah Musashi harus datang saat hari pertarungan, dan minta maaf secara langsung.

Jadi, saat hari pertarungan tiba, Dorinbo meminta maaf atas nama Musashi. Di luar dugaan, Musashi malah berteriak menantang Kihei.

Kihei yang marah kemudian menyerang Musashi menggunakan wakizashi. Namun, Musashi melempar Kihei hingga terjengkang.

Saat Kihei berusaha bangun, Musashi langsung memukulnya tepat di antara dua matanya, dan kemudian memukul hingga tewas.

"Arima konon adalah samurai yang arogan, selalu bersemangat dalam pertarungan, dan bukan samurai yang terlatih," kata Wilson. 

3. Mengembara

Di 1599, diperkirakan saat itu usianya 16 tahun jika mengacu duelnya dengan Arima, Musashi meninggalkan desa dan mengembara.

Dalam pengembaraan, diketahui Musashi terlibat dalam banyak pertarungan. Salah satu duel terkenalnya adalah melawan Tadashima Akiyama dari Provinsi Tajima.

Pada 1600, ketika pertempuran antara Klan Toyotomi dan Klan Tokugawa pecah, Musashi memihak Toyotomi, dan bergabung dengan Pasukan Barat dengan nama Klan Shinmen.

Konon, dia terjun dalam berbagai medan. Antara lain serangan dalam memperebutkan Istana Fushimi pada Juli 1600.

Kemudian, dia melindungi Kastil Gifu pada Agustus 1600, dan terakhir adalah Pertempuran Sekigahara yang terjadi pada 21 Oktober 1600.

Setelah pertempuran, Musashi sempat menghilang, dan kemudian dilaporkan berada di Kyoto pada usia sekitar 20 atau 21 tahun.

Saat itu, dia menantang murid-murid dari Sekolah Pedang Yoshioka yang pada saat itu adalah satu dari delapan perguruan bela diri terkenal di Kyoto.

Ayahnya pernah bertarung dengan pemilik perguruan itu, dan menang dua dari tiga ronde di hadapan Shogun Ashikaga Yoshiaki, yang memberi julukan "Tak Tertandingi di Bumi" kepada Munisai.

Awalnya, Musashi menantang kepala perguruan, Yoshioka Seijuro, yang kemudian menyepakati duel dilakukan di Rendaiji.

Saat hari pertarungan, Musashi datang terlambat yang kemudian menuai kemarahan dari Seijuro hingga dia tak bisa mengendalikan gaya berpedangnya.

Ketika mereka berhadapan, dengan mudah Musashi menghancurkan bahu kiri Seijuro yang mewariskan perguruan ke adiknya, Yoshioka Denshichiro.

Denshichiro menantang Musashi untuk balas dendam. Dia menggunakan tongkat besi. Namun, untuk kedua kalinya, Musashi datang terlambat.

Ketika Musashi melihat senjata Denshichiro, dia melucutinya, dan mengalahkannya sehingga membuat keluarga Yoshiaki marah.

Kali ini kepala baru perguruan, Yoshioka Matashichiro, melakukan manuver dengan membawa pasukan berisi ahli pedang dan pemanah.

Kali ini, Musashi datang lebih awal beberapa jam. Dia bersembunyi, dan melakukan serangan mendadak serta membunuh Matashichiro.

Musashi berusaha melarikan diri dari kepungan pengikut keluarga Yoshioka. Untuk melawan mereka, dia terpaksa menarik pedang keduanya, sehingga muncul aliran dua pedang atau niten'ichi.

Setelah meninggalkan Kyoto, beberapa dokumen menceritakan Musashi sempat berkunjung ke Hozoin di Nara. Di mana dia berduel dan belajar dari biksu setempat.

Antara 1605-1612, dia bepergian ke seluruh Jepang sebagai musha shugyo, atau samurai peziarah yang mengasah kemampuan lewat duel.

Selama berkeliling Jepang itu, Musashi telah melakukan duel sebanyak 60 kali dan tak terkalahkan menggunakan bokken atau pedang kayu.

Di 1611, Musashi mulai mempelajari seni meditasi atau zazen di kuil Myoshin-ji di mana dia bertemu Nagaoka Sado, abdi samurai bernama Hosokawa Tadaoki.

4. Duel dengan Sasaki Kojiro

Mungkin, duelnya yang paling terkenal adalah melawan Sasaki Kojiro yang dikenal sebagai "Setan dari Provinsi Barat".

Kojiro dikenal sebagai ahli nodachi, atau pedang yang bentuknya lebih panjang dari pedang samurai biasa. Saat itu, usia Musashi 30 tahun.

Musashi yang datang terlambat kemudian mengusulkan agar pertarungan digelar di Pulau Funajima di Selat Kanmon yang membatasi Honshu dan Kyushu.

Pertarungan berlangsung singkat. Legenda berkata, Kojiro terbunuh dengan bokken yang diasah dari dayung yang membawa Musashi ke pulau duel.

Banyak sekali legenda yang menyebar tentang bagaimana cara Musashi mengalahkan Kojiro. Salah satunya dia menunggu matahari berada di posisi yang tepat.

Ketika duel dimulai, dia sengaja memunggungi matahari terbit sehingga Kojiro dibutakan oleh sinar yang membuat Musashi dengan mudah membunuhnya.

Atau dugaan lain di mana dia sengaja datang terlambat sehingga memancing kemarahan Kojiro, yang membuatnya menyerang Musashi secara serampangan.

Saat Musashi datang terlambat, pendukung Kojiro berkata dia tidak menghormati lawannya.

Adapun pendukung Musashi berkata itu cara wajar untuk mengintimidasi lawan.

5. Masa Tua dan Kematian

Pada 1633, Musashi tinggal bersama daimyo (penguasa) Istana Kumamoto, Hosokawa Tadatoshi yang ironisnya, merupakan tuan dari Sasaki Kojiro.

Musashi meninggal diperkirakan pada usia 60 tahun di gua bernama Reigando pada 13 Juni 1643, dan diyakini menderita kanker paru-paru.

Saat dia meninggal, Musashi baru saja merampungkan buku Dokkodo berisi 21 aturan tentang kedisiplinan diri bagi generasi masa depan.

Jenazahnya dimakamkan menggunakan baju zirah di desa Yuge, dekat jalan utama Gunung Iwato, adapun rambutnya ditanam di Iwato.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Biografi Tokoh Dunia: Miyamoto Musashi, Ahli Pedang Legendaris Jepang", 

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved