Breaking News:

Tajuk Tamu - Pendidikan Sebagai Pembinaan Karakter dan Aksiologi 

Pendidikan disatu sisi dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak namun disisi lain sangat penting bagi kebutuhan masyarakat

Ist
Fr. Michael Hart Terok 

Pengetahuan yang diperoleh secara formal di sekolah, diterjemahkan dalam bahasa orangtua dengan sikap yang secara nyata dibuat oleh anak itu sendiri dalam lingkungan tempat ia berada. Nah, hasil yang diperoleh bukan diorientasikan atau bukan difokuskan pada hasil akhir, melainkan cenderung pada hasil yang ada dalam prosesnya.

Disadari atau tidak, setiap proses pasti akan ada hasilnya. Hasil akhir itu berupa kesimpulan dari buah-buah yang telah diperoleh selama proses. Maka tak dapat dipungkiri bahwa kualitas belajar anak, ditentukan sendiri oleh kuantitas yang dimilikinya. Sedangkan kuantitas, mendukung kualitas belajar dari anak.

Dari situlah nampak bahwa pendidikan bukan hanya menitik beratkan pada gagasan atau teori yang menyatakan bahwa kebaikan itu akan menghasilkan buah yang sempurna.

Tapi pendidikan mengajarkan bahwa kebaikan itu akan menjadi sempurna jika kita berusaha dan berjuang untuk melakukannya. “orang-orang yang cukup menyadari dengan benar arti suatu hidup yang baik, akan melaksanakan itu juga” (Socrates: Dialektika Hukum dan Moral). Hal itu yang secara nyata diajarkan oleh pihak-pihak sekolah kepada anak bina mereka; dan oleh orangtua, semua sikap itu terus menerus dikembangkan dalam relasi sosialnya.

Belajar, bukan hanya sekedar proses untuk mengetahui, tapi juga proses untuk mengenal karakter dan mengenal nilai untuk kemudian direalisasikan secara signifikan dalam kehidupannya.

Pendidikan karakter dan pendidikan nilai, secara ideal dipandang sebagai norma dan prinsip yang substansial(mendasar); secara real, dipandang sebagai sesuatu yang baik untuk mengatur dan mengarahkan kehidupan seseorang; secara konkret dan praktis, dipandang sebagai norma dan prinsip untuk memenuhi kebutuhan masyarakat; dan secara bebas dan bertanggungjawab, dipandang sebagai pendirian individu yang dapat disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan berdasarkan kebebasannya sebagai individu.

Dengan demikian, saya belajar bukan untuk mengejar hasil akhir, melainkan belajar demi meraih prinsip untuk mengaplikasikan proses lewat pembinaan karakter dan pengembangan nilai-nilai kehidupan.

Karena ketika manusia merasa puas dengan pengetahuan yang dimilikinya, saat itulah ia mulai berhenti berproses tentang idealismenya.

Maka, ada ungkapan kuno yang menyatakan bahwa tak penting seberapa lambat kamu menjalaninya(berproses), tapi yang terpenting ialah jangan pernah mencoba untuk berhenti.

Artinya, berproseslah sekalipun itu perlahan-lahan, tapi jangan pernah meragukan proses, karena dengan proses membuat orang sukses akan keep on progress.

Editor:
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved