Minggu, 31 Mei 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Saksi Mata Sebut Razan Najjar Sudah Lambaikan Tangan, Tapi Duaaar ia Malah Ditembak

Ibunda Razan Najjar, Sabreen al-Najjar terus menangisi putrinya yang tewas ditembak tentara Israel.

Tayang:
Editor:
New York Times
Razan Najjar 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Ibunda Razan Najjar, Sabreen al-Najjar terus menangisi putrinya yang tewas ditembak tentara Israel.

Sabreen bahkan mengingat terakhir kali melihat wajah putrinya, Razan Najjar.

"Dia berdiri dan tersenyum kepada saya, mengatakan dia menuju ke tempat protes," kata Sabreen mengingat Razan Najjar kepada Al Jazeera dari rumahnya di Khuza'a, Jalur Gaza selatan.

"Dia terbang seperti burung di depanku."

Kala itu adalah aksi demonstrasi Jumat ke-10 yang diadakan oleh Palestina sejak 30 Maret 2018 dekat perbatasan Israel yang dijuluki the Great March of Return.

Di tempat protes di Khuza'a, saksi mengatakan bahwa Razan Najjar mendekati pagar pada hari Jumat dengan mengenakan rompi medisnya.

Niatnya adalah untuk mengevakuasi seorang pengunjuk rasa yang terluka berbaring di sisi lain pagar, setelah dia berhasil memotong lubang melaluinya.

Dengan kedua lengannya terangkat untuk menunjukkan kepada tentara Israel yang berjaram 100 meter jauhnya bahwa dia tidak menimbulkan ancaman.

Naas, Razan Najjar malah tertembak di dadanya dengan peluru tajam, satu peluru menembus lubang di bagian belakang rompi.

Dia menjadi orang Palestina ke-119 yang dibunuh oleh pasukan Israel sejak protes populer mulai menyerukan agar hak Palestina untuk kembali ke rumah dari mana mereka diusir dari tahun 1948.

Lebih dari 13.000 orang lainnya telah terluka.

Sabreen, ibunda Razan Al Najjar memperlihatkan baju putrinya berlumuran daerah
Sabreen, ibunda Razan Al Najjar memperlihatkan baju putrinya berlumuran daerah (Tribun Lampung)

Rida Najjar, juga seorang relawan medis, mengatakan dia berdiri di samping Razan ketika dia ditembak.

"Ketika kami memasuki pagar untuk mengambil para pengunjuk rasa, Israel menembakkan gas air mata ke arah kami," kata pria 29 tahun, yang tidak terkait dengan Razan, kepada Al Jazeera pada hari Sabtu.

"Kemudian seorang sniper menembakkan satu tembakan, yang langsung mengenai Razan. Fragmen peluru melukai tiga anggota lain dari tim kami", katanya seperti dilansir tribunjambi.

"Razan pada mulanya tidak menyadari dia telah ditembak, tetapi kemudian dia mulai menangis, 'Punggung saya, punggungku!' dan kemudian dia jatuh ke tanah".

"Itu sangat jelas dari seragam kami, rompi kami dan tas medis, siapa kami," tambahnya.

"Tidak ada pendemo lain di sekitar, hanya kami. Menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi yang terluka."

Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 20 April, Razan Najjar mengatakan bahwa dia merasa itu adalah "tugas dan tanggung jawabnya" untuk hadir di antara pendemo dan membantu yang terluka.

"Tentara Israel berniat untuk menembak sebanyak yang mereka bisa," katanya pada saat itu.

"Ini gila dan aku akan malu jika aku tidak ada di sana untuk bangsaku."

Berbicara kepada The New York Times bulan lalu, Razan Najjar menggambarkan antusiasme yang dia miliki untuk pekerjaan yang dia lakukan.

"Kami memiliki satu tujuan - untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi [orang-orang yang terluka]," katanya.

Razan Najjar
Razan Najjar (Kolase Serambi Indonesia)

"Kami melakukan ini untuk negara kami," lanjutnya, menambahkan bahwa itu adalah pekerjaan kemanusiaan.

Razan Najjar juga menolak penilaian masyarakat terhadap perempuan yang bekerja di lapangan, di mana ia sendiri akan melakukan shift 13 jam, mulai dari jam 7 pagi sampai jam 8 malam.

"Perempuan sering diadili tetapi masyarakat harus menerima kita," kata Razan Najjar.

"Jika mereka tidak mau menerima kami karena pilihan, mereka akan dipaksa untuk menerima kami. Karena kami memiliki kekuatan lebih daripada siapa pun", tutup Razan Najjar.

(banjarmasinpost.co.id/restudia)

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved