Lukisan Maria Bunda Segala Suku

Kisah di Balik Devosi Kebangsaan “Maria - Bunda Segala Suku”

Diawali dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), devosi terkini kepada Bunda Maria menyebar ke seluruh Indonesia

Kisah di Balik Devosi Kebangsaan “Maria - Bunda Segala Suku”
TRIBUNNEWS.COM/IST
Uskup Agung Jakarta, Mgr. Suharyo Pr memberi penghargaan kepada pemenang lomba seni rupa, patung dan fotografi dengan thema Maria, Bunda Segala Suku, pada 22 Mei 2017 lalu. Lukisan Maria Bunda Segala Suku, karya Robert Gunawan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fx Ismanto

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Diawali dari Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), devosi terkini kepada Bunda Maria menyebar ke seluruh Indonesia dalam saat yang tidak pernah bisa diduga sebelumnya. “Maria - Bunda Segala Suku” adalah sebutan istimewa untuk Bunda Maria dan disebut fenomenal karena terkait dengan merebaknya ancaman terhadap keutuhan kebangsaan dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Di dunia ini, tidak ada yang kebetulan,” tegas Uskup Agung Jakarta, Mgr. Suharyo Pr dalam pidatonya saat memberi penghargaan kepada pemenang lomba seni rupa, patung dan fotografi dengan thema “Maria, Bunda Segala Suku”, pada 22 Mei 2017 lalu.

Lukisan Maria Bunda Segala Suku, karya Robert Gunawan.
Lukisan Maria Bunda Segala Suku, karya Robert Gunawan. (TRIBUNNEWS.COM/HO)

Pengumuman pemenang sayembara lomba lukis, patung dan fotografi seharusnya dilakukan pada 30 Mei 2016 atau setahun setelah pembukaan resminya pada 30 Mei 2015. Namun , dengan berbagai alasannya. Pengumuman baru terjadi pada 22 Mei 2017, ketika Indonesia terpolarisasi berlatarbelakang agama ketika Pilkada DKI Jakarta berlangsung.

“Tidak ada suatu yang kebetulan. Mengapa lomba ini harus terundur dua tahun baru kita ketahui setelah kita memasuki masa sulit dalam membangun kerukunan karena toleransi menjadi masalah kehidupan berbangsa. Dan Maria Bunda Segala Suku adalah jawaban dan hadir ketika Indonesia berada pada masa suli seperti sekarang ini, ” ujar Uskup Agung Jakarta, Mgr I. Suharyo Pr, seperti yang ditirukan oleh Gregorius Gomas Harun, pencetus ide Lomba Seni Rupa, Patung dan Fotografi bertajuk “Maria – Bunda Segala Suku”.

Gomas mengisahkan, lomba yang dibuka tahun 2015 berangkat dari janjinya untuk membaktikan diri kepada Bunda dengan caranya. Maka, jadilah ide membuat lomba tersebut sebagai sarana untuk mengumpulkan berbagai karya seni berthemakan Bunda Maria yang merupakan hasil karya anak bangsa dengan bertitik tolak pada budaya masing-masing suku. Menurutnya, hasil karya hasil lomba tersebut nanti akan ditempatkan pada sebuah museum yang sekarang telah memasuki tahap perencanaan.

Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan idenya tersebut, ia meminta beberapa tokoh awam Gereja Katolik untuk duduk dalam kepanitiaan. Panitia itu antara lain terdiri dari, Laksda TNI (Pur) Christina Maria Rantetana, M. Hanafi, Antonius Sunyata, Harry Sanjaya dan AM Putut Prabantoro serta masih banyak yang lain.

Kunjungan Panita ke Kardinal Julius Darmaatmadja SJ.
Kunjungan Panita ke Kardinal Julius Darmaatmadja SJ. (TRIBUNNEWS.COM/HO)

“Thema lomba Maria – Bunda Segala Suku (MBSS) diusulkan oleh sahabat saya, Putut Prabantoro. Dari ceritanya, nama Maria - Bunda Segala Suku sebenarnya merupakan thema sebuah acara kebangsaan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda di Sendang Sono, Yogyakarta yang rencananya diadakan pada Oktober 2010. Namun acara Sumpah Pemuda di Sendang Sono, Yogyakarta itu akhirnya batal karena beberapa alasan termasuk di antaranya adalah beberapa Uskup yang dihubungi menyatakan tidak dapat hadir mengingat sudah ada jadwal pertemuan para Uskup di Jakarta. Oleh karena itu, acara peringatan hari Sumpah Pemuda itu dibatalkan oleh Putut Prabantoro, yang menjadi Ketua Panitia acara tersebut,” kisah Gomas.

Namun pembatalan acara di Sendang Sono, Yogyakarta tersebut, Gomas melanjutkan kisahnya, bagi Putut Prabantoro diyakini sebagai campur tangan Tuhan mengingat kemudian pada Oktober 2010, Gunung Merapi meletus hebat yang menewaskan 353 orang termasuk mbah Marijan. Thema “Maria – Bunda Segala Suku” ternyata menjadi terwujud dalam konteks yang berbeda namun sangat terkait erat dengan Sumpah Pemuda.

MINTA IJIN
Sudah merupakan tradisi dalam setiap kegiatan besar yang menyangkut keagamaan Katolik, diperlukan restu dari pimpinan Gereja Katolik setempat. Oleh karena itu, dipimpin oleh Antonius Sunyata dan Laksda TNI (Pur) Christina Maria Rantetana, pertama kali menghadap Uskup Agung Jakarta, Mgr. I. Suharyo Pr, Uskup Agung Semarang Mgr. Y. Pujasumarta Pr dan Julius Kardinal Darmaatmadja SJ.

Halaman
123
Editor: Aswin_Lumintang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved