Kisah Pengrajin Atap Rumbia di Kotamobagu, Hingga Kini Masih Bertahan
Neni Pasambuna (65), salah satu pengrajin atap rumbia, Kelurahan Mongondow, Kotamobagu, Sulawesi Utara, yang masih bertahan.
Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, KOTAMOBAGU - Neni Pasambuna (65), salah satu pengrajin atap rumbia, Kelurahan Mongondow, Kotamobagu, Sulawesi Utara, yang masih bertahan.
Umur Neni Pasambuna sudah tak muda lagi untuk bekerja, namun masih mampu menganyam atap rumbia per hari 20 lembar.
Amatan tribunmanado.co.id, Jumat (1/6/2018), di rumah Neni Pasambuna, ia sedang menganyam atap rumbia.
Wanita paruh baya ini begitu serius menganyam atap.
Tangan dan jari-jari Neni sudah tidak cekatan seperti dulu, untuk menganyam atap.
Biasanya hanya perlu waktu beberapa menit selesai, namun sekarang hampir setengah jam menyelesaikan satu atap rumbia.
Selesai menganyam, Neni harus berdiri mengantar atap rumbia yang sudah dirajutnya, untuk dikeringkan di luar rumah.
Kedua kakinya terasa berat melangkah, namun semangat mencari uang yang membuatnya tetap kuat.
"Saya sehari hanya sanggup mengerjakan 15 lembar atap rumbia," ujar Neni dengan nada pelan.
Kata dia, pekerjaan ini tidak dilakukan per hari.
Tapi dilaksanakan jika ada pesanan.
Usaha ini tak seramai dulu.
Karena kebanyakan rumah telah mengunakan seng, multiroof serta lainnya.
Menurutnya, pesanan atap rumbia berasal dari pengusaha kafe dan rumah makan memakai konsep zaman dulu serta pondok di kebun.
Harga atap rumbia dijualnya Rp 8 ribu per lembar.
Bahan bakunya masih mudah dicari.
Karena masih ditanam di area perkebunan.
"Per bulan saya bisa jual atap rumbia mulai 100-200 lembar. Uang dipakai untuk biaya hidup tiap hari," ujar dia lagi.
Ia menambahkan, hari ini masih banyak langganan datang, karena menurut mereka kualitas jahitan dan atap rumbia tahan lama dibandingkan beli di tempat lain. (Tribunmanado.co.id/Vendi Lera)