Kisah Awal Perayaan Hari Raya Galungan dalam Lontar Sri Aji Jaya Kesunu
Dalam lontar Sri Aji Jaya Kesunu diuraikan bagaimana awalnya perayaan Hari Raya Galungan.
TRIBUNMANADO.CO.ID, DENPASAR - Dalam lontar Sri Aji Jaya Kesunu diuraikan bagaimana awalnya perayaan Hari Raya Galungan.
Menurut staf Pusat Kajian Lontar Unud, Putu Eka Guna Yasa dalam lontar Sri Aji Jaya Kesunu diceritakan bahwa raja-raja yang memerintah sebelum Raja Jaya Kesunu mengalami penderitaan yang luar biasa seperti adanya gering atau penyakit, banyak warga masyarakat yang mengalami musibah.
"Dianggap pada waktu itu Bhuta Dunggulan tidak mendapat labaan sehingga kemudian ada bencana di wilayah kerajaan Bali," kata Guna yang ditemui Senin (28/5) siang.
Dengan adanya gering dan kesengsaraan yang melanda Bali, Raja Jaya Kesunu lalu melakukan tapa brata.
Saat melakukan tapa brata, ia didatangi Bhatari Durga dan diberikan informasi agar melaksanakan Hari Suci Galungan supaya tidak terjadi kegeringan atau musibah.
"Setelah melaksanakan Galungan ini menurut teks ini tidak terjadi lagi musibah tersebut," imbuhnya.
Dengan demikian menurut Guna, Galungan identik dengan Durga Puja karena ada prosesi penampahan yang dilaksanakan sehari sebelum Galungan.
"Dan bisa jadi jaman dahulu yang dipotong juga kerbau sebagai lambang Mahesasura Mardini dan di Buleleng maupun beberapa daerah di Tabanan masih ada tradisi nampah kerbau. Itu identik dengan pemujaan Durga atau ibu alam semesta sebagaimana bahasa Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dalam Kekawin Arjuna Wiwaha," imbuh Guna. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/lontar-galungan_20180530_141808.jpg)