Berawal dari Dendam Suami Selingkuh, Wanita Ini Pilih Jadi PSK di TKB Manado, Kisahnya Memilukan

Ya, dia mengandung di luar janji suci pernikahan. Perutnya yang kian membesar membuat ia terpaksa menikah diusia muda.

Berawal dari Dendam Suami Selingkuh, Wanita Ini Pilih Jadi PSK di TKB Manado, Kisahnya Memilukan
Net
Ilustrasi PSK 

Namun memasuki usia pernikahan ke empat tahun, suasana mulai beruba.

"Suami saya mulai jarang pulang, kadang pulang tapi sudah larut malam, sudah jadi pemabuk dan suka marah-marah," akunya.

Dia mengaku saat itu beberapa kali sempat menjadi sasaran pemukulan sang suami. "Saat uang sudah habis dia marah-marah bahkan sudah mulai memukul saya," akunya.

Mawar saat itu tak menaru curiga jika suaminya sudah main serong aliasa selingkuh. 

Namun panggilan telfon tengah malam menjadi bukti penyebab sifat suaminya beruba. 

"Waktu itu ada yang telfon, suami saya tidur, saat saya angkat suara wanita, saat saya bilang hallo langsung dimatikan. Tapi sebelumnya ada sms masuk yang berisi sayang kita so di TKB,"akunya.

Ia pun mulai yakin jika suaminya tak beres lagi dan mulai keluyuran ke TKB yang dikenal menjadi lokasi prostitusi.

Meski begitu ia sempat diam sampai akhirnya batas kesabaran Bunga habis saat barang prabotan, motor dan Tv dijual sang suami. "Dia jual semua dan dia jujur kalau uangnya mau pakai PSK di TKB. Saat itu saya menangis dan putus asa," jelasnya.

Bunga akhirnya memberanikan diri pergi ke TKB untuk melihat suaminya yang tak juga pulang. "Saya ingat itu masih jam 12 malam, saya lihat suami saya duduk di teras bangunan toko dengan seorang wanita. Saat saya ajak pulang dia justru pukul saya," akunya.

Meski begitu ia mengaku tak langsung pulang, ia sempat diam di sekitaran lokasi TKB sambil menangis. "Lalu ada ibu-ibu datang tanya kenapa saya menangis dia beri saya air di botol waktu itu. Karena saya juga tak punya keluarga di Manado saya pun bercerita pada ibu itu," jelasnya.

Namun curhatan Bunga kepada wanita tersebut justru menjadi pinta ia masuk ke dunia prostitusi

"Ibu itu bilang saya tidak usah sakit hati, saya harus balas kelakuan suami saya, dia juga menawarkan saya untuk ikut jual diri," jelasnya. 

Meski begitu ia tak sertamerta menerima tawaran tersebut sampai akhirnya ia dan suami berpisa. "Dari kejadian itu sekitar empat bulan kemudain suami saya lari dengan wanita lain dan tak kiembali," akunya. 

Sekitar dua bulan ia sempat bertahan, namun masalah ekonomi membuat ia dan anaknya kesusahan. "Saya pun ingat tawaran ibu itu untuk jadi PSK di TKB. Saya tak cari ibu itu tapi saya langsung mangkal di TKB," akunya.

Kini sudah beberapa tahun ia menjajakan diri dan jadi pemuas nafsu. 

Ia mengaku merasa bersalah dan malu jika sifat dan pekerjaannya diketahui sang anak yang sudah mulai besar. "Yang pasti saya sudah ada pikiran untuk tobat dan cari pekerjaan lain," akunya. 

Sampai saat ini ia mengaku tak tahu lagi keadaan sang suami. "Yang pasti terakhir saya dapat kabar dia sudah kerja di Samarinda tapi tidak tahu di mana, anaknya saja dia tidak pernah datang lihat," tandasnya mengakhiri perbincangan. (Valdy Suak)

5 Kisah PSK di Manado dan Bitung, Mulai Dibayar Pakai Uang Palsu Sampai Tobat Karena Tamu Tewas

TRIBUNMANADO.CO.ID- Sulawesi Utara (Sulut) tak lepas dari banyak Pekerja Seks Komersial (PSK).

Paling banyak Kota Manado dan Bitung, dimana dunia malam menjadi hal biasa dilihat bahkan dinikmati.

Tarifnya relatif, tergantung lokasi dan tipe PSK.

Meski begitu ada banyak kisah yang dialami para PSK di Bitung dan Manado. 

Tribunmanado.co.id merangkum beberapa kisah PSK yang sempat diwawancarai:

1. Dibayar Uang Palsu

Transaksi Esek-esek, Berakhir penipuan dengan uang palsu. Hal itulah yang dialami sebut saja Ratna (23) PSK yang sering mangkal di belakang pengadilan negeri Manado.

Seorang pelanggannya berinisial AO (23) warga Pakowa membayarnya dengan uang palsu, Selasa (7/6/2011) sekitar pukul 01.30 Wita.

Kasubag Humas Polresta Manado, AKP Deesy Hamang mengungkapkan telah menerima laporan korban atas transaksi uang palsu."Korban melapor dibayari uang palsu, total 450 ribu rupiah, pecahan 7 lembar 50 ribu dan 1 lembar 100 ribu," ujar Deesy Hamang.

Dari amatan tribun manado, uang tersebut hanya di cetak , menggunakan printer bermerek Pixma.

Hanya sebagian yang tercetak. Sedangkan sisanya sebagian, hanya berupa kertas putih. Tim buser kemudian langsung mengamankan AO dan W. Bersama barang bukti dua mesin printer.

2. Jual Diri Untuk Bayar Hutang

Wanita berinisial FL itu kini berusia 21 tahun. Dua tahun lalu, dia terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada laki-laki yang bersedia membayar utangnya.

Karena jumlah utangnya begitu besar hingga Rp 25 juta, terpaksa FL melayani tak hanya satu laki-laki. Dia jatuh ke pelukan dari satu laki-laki ke laki-laki lainnya.

Apa yang dilakukan FL semata demi anak semata wayangnya. Sejak dia kabur dari kampung halaman di Kotamobagu dalam keadaan hamil dan melahirkan di Manado.

Selama di Manado, dia hidup menumpang saudaranya. Dia bekerja di toko dan membesarkan sendiri anaknya.

Namun cobaan hidup kembali menerpa. Ketika anaknya berusia satu setengah tahun, timbul benjolan di sekitar telinga. Saat itu dia stres lantaran menurut rumah sakit dibutuhkan biaya operasi Rp 15 juta dan pengobatan Rp 10 juta.

"Besarnya seperti bola pingpong. Malah lama- lama membesar dan berubah jadi warna ungu," ujarnya saat ditemui Tribun Manado, beberapa hari lalu.

Demi bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi anaknya itu, dia meminta bantuan saudara untuk mencarikan pinjaman.

Beruntung, saudaranya itu memiliki banyak relasi sehingga uang total Rp 25 juta dapat dikumpulkan dan operasi anak laki-lakinya bisa segera dilaksanakan.
Setelah melewati serangkaian operasi dan perawatan medis, infeksi yang dialami anaknya bisa sembuh.

Namun lain muncul, yakni bagaimana mengganti pinjaman uang yang digunakan untuk membayar biaya operasi anaknya.

Sebagai seorang pegawai toko, uang Rp 25 juta menurutnya sangat sulit untuk bisa didapatkan dalam waktu singkat.

"Kasihan saudara saya itu. Dia yang dikejar- kejar orang yang kasih pinjaman. Setelah itu, malamnya pasti langsung tagih ke saya. Terkadang mintanya baik-baik, tapi terkadang juga sudah dengan emosi, karena mungkin sudah dituntut terus. Saya juga jadi tidak enak, apalagi saya hanya tinggal menumpang," ujarnya.

Hingga suatu hari, ketika ia pulang bekerja,

bertemu dengan seorang laki-laki. Waktu itu jarum jam sudah menunjuk sebelas malam. Laki-laki yang mengendarai mobil itu menghampirinya dan menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.

Entah mengapa, mendadak FL rela curhat segala apa yang dialaminya kepada laki-laki yang baru dikenalnya. Dan si laki-laki menyatakan siap membantu asal mendapat imbalan tidur bareng.

Hati dan pikiran FL goyah. Lalu keduanya mampir di hotel hingga terjadilah perbuatan yang hanya layak dilakukan pasangan suami istri itu.

"Seharian itu saya menangis di kamar. Apalagi saat lihat anak saya, air mata terus menetes. Malu, marah, sedih dan hina semua bercampur menjadi satu," kenangnya dengan mimik sedih.

Segepok uang imbalan yang ia terima sudah diserahkan kepada saudaranya. Meski segepok, masih belum mampu menutupi utangnya hingga ia mencoba mencari laki-laki lain yang mau memberia dia uang dengan imbalan tidur bareng.

Hingga akhirnya dia bertemu seorang germo yang membuatnya bergelimang uang. Dalam tempo tiga bulan, utangnya lunas. Saudaranya curiga akan pekerjaannya, namun ia menjawab itu merupakan keuntungan dari bisnis MLM.

"Sempat curiga, mana bisa tiga bulan dapat uang Rp 18 juta. Saya sempat bingung mau jelaskan bagaimana. Tapi dengan berbohong, kakak sudah tidak peduli lagi. Mungkin karena perasaannya juga sudah lega tidak dituntut bayar utang lagi," katanya.

Setelah semua utang dilunasi, dan sudah merasa malu jika melanjutkan pekerjaan ini, ia pun memilih untuk berhenti. FL mengungkapkan, tidak ingin terus menerus menafkahi buah hatinya dengan uang haram. Ia pun memilih untuk kembali bekerja sebagai karyawan toko.

"Biarlah itu menjadi masa lalu paling buruk dalam hidup saya. Meski perih, namun saya tetap harus menjalani kehidupan seperti itu demi anak saya. Dan semoga ini bisa menjadi pelajaran hidup bagi sebagian orang yang hidupnya bisa lebih beruntung," tandasnya.

3. Tobat Usai Tamu Tewas

Praktik prostitusi menghiasi dua kota besar di Sulawesi Utara, Manado dan Bitung.

Mulai dari yang membuka praktik secara terselubung melalui panggilan di hotel-hotel, menunggu tamu di dalam lorong, hingga terang- terangan menawarkan diri di tepi jalan raya.

Di Kota Manado misalnya, ketika malam tiba, di ujung Jalan Pierre Tendean Boulevard, berjajar para wanita yang siap di-booking para pria hidung belang.

Sementara di Kota Bitung, praktik prostitusi bisa ditemukan di Lorong Popaya atau populer disebut Lorpo. Lorong ini selalu ramai oleh pria pencari kenikmatan sesaat.

Di Lorpo ini pulalah, seorang pelanggan PSK, sebut saja Opa Har, tewas di kamar sebelum memadu kasih pada Minggu (9/2/2015) lalu. Tak pelak, pengalaman ini membuat takut si PSK yang sebut saja namanya Nani.

"Saya syok saat masuk ke kamar, Opa sudah jatuh ke lantai. Tak tahu kenapa," kata Nani saat diperiksa penyidik Polsek Urban Maesa, Bitung.

Nani mendapat imbalan Rp 120 ribu untuk sekali kencan. Namun sejak Opa Har meninggal di kamarnya, Nani memutuskan untuk berhenti menjalani pekerjaan haram itu.

Nani akan banting setir menjadi pedagang sayur. "Saya trauma, mau jualan sayur saja," katanya.

4. Jual Diri Usai Ditinggal Suami

Warung kecil di satu perumahan di pinggiran Kota Bitung itu ramai pengunjung.

Pemiliknya seorang wanita (40-an). Ia masih tergolong cantik. Kulitnya halus dan bertubuh kencang.

Saat ia tersenyum, keluar sebaris gigi putih. Wanita ini, sebut saja Dini. Ia adalah pelacur yang sudah bertobat.

"Semuanya kini  untuk memuliakan Tuhan," kata dia kepada tribunmanado.co.id, beberapa waktu lalu.

Ia bercerita, awalnya terjun ke dunia hitam karena ditinggalkan sang suami.

Diduga sang suami telah lari dengan wanita lain.

"Saat itu muncul masalah bagaimana membiayai tiga anak saya. Mereka sangat ingin sekolah, sedang saya tak punya penghasilan. Saya kalang kabut, pinjam uang sana sini," kata dia.

Untuk menyambung hidup, ia mencoba berbagai pekerjaan. Tour of duty mengantarnya bekerja di salon.

"Saat itu saya ketemu seorang pria, ia katakan saya sangat cantik, jika mau saya bisa dapat uang banyak," kata dia.

Penasaran, Dini pun mendatangi tempat pria itu. Ternyata ia germo. Ditawarilah Dini menjadi pelacur. Tawaran itu datang saat dia sedang butuh uang.

"Ia yang pertama mencicipi saya," kata dia.

Singkat cerita, tibalah ia ke Lorong Popaya Bitung, tempat pelacuran kelas bawah yang termasyur itu. Dia merasakan persaingan ketat antarpelacur.

Wajah cantiknya bukan jaminan. Ia harus berjuang keras untuk menang. Setiap hari bak pertandingan final.

"Saya belajar dandan, beli kosmetik, belajar isap rokok, bahkan pernah pakai pelaris," kata dia.

Lama kelamaan ia banyak diminati. Dini pun mulai berani menolak tamu.

"Saya tak sembarang terima, saya malah hanya ingin di-booking, harganya mahal," kata dia.

Seiring dengan kesuksesannya, kehidupan ekonomi keluarganya mulai menggeliat. Ia dapat memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.

"Bahkan pernah belikan PS," ujar dia.

Memasang wajah tersenyum setiap hari, kondisinya berlawanan dengan itu.

"Anak anak saya kerap tanya, mama ke mana dan saya bohong. Itu membuat saya resah," kata dia.

Dini enggan membeber kapan persisnya dan bagaimana pastinya ia bertobat. Ia hanya menyebut peristiwa itu anugerah.

"Saya berhenti, tempat pertama yang saya datangi adalah gereja," kata dia.

Tidak lagi melacur memiliki konsekwensi baginya yakni kembali ke kehidupan miskin.

Namun mukjizat kerap terjadi.

"Awalnya saya jualan nasi kuning, tak laku, lalu kerja di toko, kumpul uang, buka warung dan mulai berkembang, banyak berkat. Anak saya yang tua juga sudah kerja hingga ekonomi kami tercukupi," kata dia.

Dini menyebut momen tersulit hidupnya adalah harus mengaku kepada anaknya jika ia pelacur. "

Syukur mereka bisa mengerti," kata dia.

5. Jadi PSK Untuk Biayai Pacar

Praktek prostitusi di Kota Manado sudah bukan rahasia lagi. Sebab hal ini sudah dilakukan terang-terangan di ruang publik.

Beberapa lokasi di Kota Manado sudah diketahui tempat mangkal Pekerja Seks Komersil.

Sebut saja, Taman Kesatuan Bangsa, Belakang kantor Telkom, depan Pengadilan Tinggi Manado dan  sebuah tugu di dekat kantor Pemkot Manado.

PSK biasanya mangkal di lokasi tersebut menunggu pelanggan dan menawarkan jasa bagi pria hidung belang. Tarifnya pun terjangkau antara Rp 100 hingga Rp 300 ribu untuk short time.

Mereka tak hanya mangkal pada tengah malam, pukul 7 malam pun bisa menemukan mereka di TKB.

Alasan klasik selalu diungkapkan para PSK yang menjadi penyebab mereka menekuni pekerjaan sebagai pemuas nafsu hidung belang tersebut.  

Indi (20) bukan nama sebenarnya, penghuni kawasan Taman Kesatuan Bangsa (TKB) di Kota Manado.

Saat berbincang dengan tribunmanado.co.id, Sabtu malam akhir pekan di pertengahan April, Indi tampak cuek.

Mengenakan celana ketat coklat dan kaus tangan panjang bergaris, ia mengarungi kehidupan malam itu. Bibirnya merona, alis tampak bergaris dengan rapi.

Ia memegang botol kecil minyak yang sesekali dicium.

Pandangan matanya liar. Melihat ke mana-mana, memerhatikan sekeliling TKB. Seperti sedang mencari sesuatu. Beberapa lelaki menyapa, ia membalas dengan senyum simpul.

Saat tribunmanado.co.id menyapa, ia seketika berhenti. Ia mengambil tempat duduk di TKB. Pernah bertemu Indi dan sekawanannya akhir Februari 2018 di Tugu Lilin, kawasan Marina Plaza Manado.

Dengan polos Indi mengaku sedang mencari tamu, saat tribunmanado.co.id, menanyakan sedang apa dia di TKB.

Ya, dia mengaku menjadi seorang wanita panggilan yang biasanya mangkal di TKB dan sekitaran Pasar 45 Manado.

Taman Kesatuan Bangsa (TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN)
Kegiatan yang rutin ia lakukan setiap malam. Semalam bisa dapat Rp 200 ribu. Indi mulai mencari tamu pukul 19.00 hingga tengah malam. Tak tentu sampai pukul berapa.

"Kalau sudah ada, saya langsung berkumpul dengan teman-teman. Kalau tidak, tunggu sampai tengah malam," ucap Indi polos.

Tak setiap malam Indi mendapat tamu, kadang meski telah dandan, tak ada sepeserpun rupiah yang masuk ke kantong. Bayarannya kadang Rp 100 ribu, kadang pula Rp 200 ribu.

Indi terpaksa jadi PSK untuk makan, demikian pengakuannnya. Bukan ia yang memegang uang, tapi pacarnya. Buat ongkos hidup ia dan pacarnya di Manado.

Indi tak ingat jelas kapan keluar dari rumah. Ia berasal dari Tondano, Minahasa. Sebulan sekali pulang untuk menjenguk ibu dan enam saudaranya. Indi tujuh bersaudara.

Indi adalah anggota kelompok anak gelandangan yang menamakan diri Amitater. Atau singkatan dari anak miskin tapi terdidik.

Entah kenapa kelompok yang beranggotakan 20 orang ini menamakan diri Amitater, padahal rata-rata dari mereka putus sekolah.

Sehari-harinya, anak-anak ini hanya tidur di emperan toko di kawasan Pasar 45. Mereka pergi ke Jarod jika ingin buang air dan mandi. Jika waktu telah siang, mereka mulai berkumpul di Tugu Lilin hingga tengah malam. Setiap hari dengan rutinitas yang sama.

Penulis:
Editor:
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved