Ini Makna Pasang Lilin Bagi Brani di Aksi Solidaritas untuk Surabaya
Ribuan warga Manado Sulut melakukan aksi seribu lilin dan cahaya blitz sebagai ungkapan belasungkawa terhadap korban bom bunuh diri.
Penulis: Indry Panigoro | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Ribuan warga Manado Sulawesi Utara (Sulut) melakukan Aksi Seribu Lilin dan Cahaya Blitz sebagai ungkapan belasungkawa terhadap korban bom bunuh diri yang terjadi di gereja Surabaya dan Jawa Timur pada umumnya.
Ribuan warga kota Tinutuan Bumi Nyiur Melambai ini tumpah ruah di ruas Jalan Piere Tendean depan Polresta Manado, Senin (14/5/2018) malam.
Selain diikuti oleh mahasiswa berbagai Universitas di Sulut, para pemuda agama, aparat kepolisian dan TNI, serta masyarakat Sulut, aksi solidaritas ini juga diikuti oleh Anggota DPD RI Benny Ramdhani.
Satu persatu peserta perwakilan organisasi terlihat melakukan orasi dan doa dari berbagai perwakilan lintas agama.
Berbagai lagu Nasional dan lagu-lagu yang membangkitkan rasa kepahlawanan dan kemanusiaan pun diperdendagkan.
Tiba pada waktunya mengheningkan cipta, satu persatu lilin dinyalakan.
Ada yang saling berpelukan, ada yang berdoa sambil berlutut di lantai, tak sedikit juga dari mereka bergandengan tangan berdoa tertunduk dan menitikan air mata, bahkan ada yang menangis tersedu-sedu.
"Tuhan lah segala bentuk kekuatan. Saya dan seluruh warga Indonesia yang ikut aksi ini tidak ada apa-apanya tanpa ada kasih dari Tuhan," kata Erna Buria mahasiswi semester IV Akademi Kebidanan Trinita.
"Dengan bersujud dan berdoa, kami meminta untuk dijauhkan dari marabahaya, Tuhan mau tetap melindungi kami di manapun kami berada, kiranya bangsa ini senantiasa aman," harapnya.
Dilain tempat Brani kepada Tribun Manado mengungkapkan makna dari pasang lilin yang diikutinya itu.
"Apa yang dirasakan oleh saudara-saudara umat kriatiani. Itu juga yang dirasakan oleh saya. Kita bisa tidak sama keyakinan, tapi yakinlah sebagai sesama umat manusia cipataan Tuhan, sesungguhnya kita bersaudara dalam kemanusiaan. Manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang sama," ujar Brani.
"Ketika kita memasang lilin secara bersama-sama, saat itu juga semangat dan solidaritas kita menyalah, saat lilin kita mati, lilin yang di depan, belakang, kiri dan kanan pun senantiasa memberikan apinya agar kita tidak berjalan dan berdiri serta berjuang sendiri dalam kegelapan," terangnya. (Tribunmanado.co.id/Indri Panigoro)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/aksi-seribu-lilin-dan-cahaya-blitz-di-depan-mapolresta-manado_20180515_110656.jpg)