MUI Sebut Santri Harus Menjadi Kelompok Pembangunan dan Kerukunan
Santri di Pondok Pesantren di Sulawesi Utara harus berperan dalam pembangunan, karena merupakan sikap sesungguhmya dari seorang santri sejati.
Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Santri di Pondok Pesantren di Sulawesi Utara (Sulut) harus berperan dalam pembangunan, karena hal tersebut merupakan sikap sesungguhmya dari seorang santri sejati.
"Setelah lulus jadi pondok pesantren diharapkan santri di Sulut bisa masuk ke kelompok pembangunan, kelompok kerukunan, kelompok toleransi," ujar Ketua MUI Sulut KH Abdul Wahab Abdul Gofur dalam Tauziah Wisuda dan Penamatan se-Sulut di Auditorium Universitas Sam Ratulangi (Samrat), Sabtu (12/5/2018).
Hal ini untuk menunjukkan agar para alumni dari pondok pesantren bisa menunjukkan akhlak yang baik.
Sebab saat ini pondok pesantren di Jawa yang berimbas di Sulut dilema, karena adanya stigma teroris identik dengan pondok pesantren.
Padahal hal tersebut tidak benar.
"Ini ibarat pepatah yang mengatakan nila setitik merusak susu sebelanga," ungkapnya.
Oleh karena itu para alumni pondok pesantren di Sulut harus bisa menunjukkan keunggulan dari pondok pesantren.
"Jika nantinya jadi polisi harus yang berakhlak. Begitu pula jika menjadi TNI juga harus berakhlak mulia," katanya.
Hal ini karena pondok pesantren satu di antara tempat untuk melahirkan manusia Indonesia yang unggul.
"Apalagi Sulut yang memiliki semboyan Torang Samua Basudara, Torang Semua Ciptaan Tuhan," katanya.(Tribun Manado/Herviansyah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/tauziah-wisuda-dan-penamatan-se-sulut_20180512_114255.jpg)