Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Turis Asing Ikut Lepas Penyu Bareng BKIPM Manado

Dua turis asing asal Perancis dan Swiss ikut melepas penyu bersama BKIPM Manado

Penulis: Nielton Durado | Editor: Aldi Ponge
TRIBUNMANADO/NIELTON DURADO
2 turis asing asal Perancis dan Swiss ikut melepas penyu bersama Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Manado, di Pulau Ponteng, Minahasa Tenggara (Mitra), Sabtu (4/5/2018) 

Laporan Wartawan Tribun Manado Nielton Durado

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Yoan Parizot dan Roxane Lab, dua turis asing asal Perancis dan Swiss ikut melepas penyu bersama Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Manado, di Pulau Ponteng, Minahasa Tenggara (Mitra), Sabtu (4/5/2018) 

Keduanya begitu antusias melepas penyu ke habitatnya, bahkan Roxane sempat mengobati salah satu penyu yang kakinya terluka akibat diterjang predator.

"Penyu adalah salah satu yang hewan yang dilindungi, untuk itu masyarakat harusnya tidak menangkap penyu tapi turut menjaga keberlangsungan habitatnya," kata Yoan.

Ia juga menyangkan bahwa masih banyak masyarakat Minahasa Tenggara yang masih menjual dan memakan Penyu.

"Disini masyarakat masih sering menangkap penyu dan menjualnya, bahkan ada yang dikonsumsi. Mestinya itu tidak boleh, karena keberadaan mereka hampir punah," aku dia.

Kepala BKIPM Manado, M Hatta Arisandi mengatakan ada 7 penyu yang dilepasliarkan oleh pihaknya.

"Penyu ini kami dapatkan dari masyarakat tapi melalui pendekatan. Kami memberikan pemahaman terkait adanya aturan yang melarang Penyu untuk diperjualbelikan atau bahkan dikonsumsi," ujar Hatta.

Melalui pendekatan itu, masyarakat kemudian bersedia memberikan penyu itu secara cuma-cuma untuk dilepasliarkan.

"Kami juga memberikan penyuluhan tentang adanya hukuman pidana bagi masyarakat yang menangkap Penyu, dengan harapan kedepannya mereka tidak menangkap atau menjual penyu lagi," kata dia.

Hatta juga sangat bersyukur karena dari tujuh penyu yang dilepasliarkan, beratnya mencapai 100 Kilogram.

"Di tubuh tujuh penyu ini kami sudah pasang chip untuk mendeteksi pergerakan mereka saat di laut dan kapan mereka akan naik untuk bertelur," tandasnya.

Ia berharap melalui kegiatan pelapasliaran ini masyarkat di Desa Tumbak Minahasa Tenggara tidak lagi mengkonsumsi penyu.

"Harapannya masyarakat sadar dan mau sama-sama melindungi penyu untuk generasi yang akan datang, karena menurut penelitian penyu itu tidak baik untuk dikonsumsi. Dalam dagingnya mengandung zat yang tidak baik untuk tubuh manusia, makanya masyarakat perlu untuk mengetahui hal ini," tandasnya. (nie)

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved