Rini: Ada Apa Sih Dengan Rekaman? Saya Tuh Tidak Ada Masalah

Ia mengaku telah menyerahkan segala urusan terkait rekaman telepon dengan Sofyan kepada pengacaranya.

Rini: Ada Apa Sih Dengan Rekaman? Saya Tuh Tidak Ada Masalah
TRIBUNNEWS
Menteri BUMN Rini Soemarno bersama Dirut PLN Sofyan Basir 

TRIBUNMANADO.CO.ID, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno enggan menanggapi usulan dari beberapa pihak untuk membuka sendiri rekaman perbincangan dirinya dengan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN Sofyan Basir.

Ia mengaku telah menyerahkan segala urusan terkait rekaman telepon dengan Sofyan kepada pengacaranya.

"Ada apa sih dengan rekaman? Saya tuh tidak ada masalah. Saya sudah berikan kuasa kepada pengacara dan pengacara saya sudah laporkan ke pihak kepolisian hari Senin, jadi tanya kan saja ke mereka," ujar Rini di Kompleks Gedung BI, seperti dilansir CNN, Kamis (3/5).

Rini menekankan bahwa persoalan rekaman itu sudah masuk bentuk pencemaran nama baiknya. Pasalnya, ia menyebut bahwa rekaman yang beredar di publik, tidak lengkap dan sudah dipotong pada bagian-bagian yang rentan disalahartikan.

Dengan begitu, memang bentuk penyelesaiannya harus melalui jalur hukum dan diurus oleh tim kuasa hukumnya. "Saya merasa dirugikan, saya merasa nama saya dicemarkan karena yang beredar itu sudah dipotong-potong dengan tujuan tertentu, yaitu mencemarkan nama baik saya," tekannya.

Rini juga menegaskan bahwa kebijakan yang diambilnya selama menjabat kursi Menteri BUMN sudah cukup baik dan bisa menguntungkan BUMN dan negara.

"Saya meyakini sepenuhnya, selama saya tiga setengah tahun apa yang saya lakukan adalah untuk kepentingan BUMN," katanya.

Ia juga menegaskan penawaran saham sebesar 15 persen yang dilakukan PT Bumi Sarana Migas (BSM), anak usaha Kalla Group kepada PT Pertamina (Persero) dan PLN memang wajar saja. Pasalnya, kedua perusahaan BUMN itu memang perlu memiliki porsi saham untuk ikut menentukan biaya-biaya yang dikenakan sebagai keluaran dari proyek tersebut.

"Itu penting dong. Kami diminta untuk punya ikut saham supaya kami tahu cost structurenya seperti apa, untuk kepentingan BUMN selalu," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan meminta Rini dan Sofyan membuka rekaman tersebut agar berita yang beberapa waktu terakhir beredar dapat lebih jelas.

"Rini harus menjelaskan dan Sofyan harus jelaskan secara terang benderang, rekaman utuhnya kasih. Kalau tidak nanti kami khawatir timbul fitnah. Kan belum tentu benar atau salah. Oleh karena itu perlu terang dan dijelaskan seterang-terangnya dan sejelas-jelasnya agar tidak salah paham dan timbul fitnah," katanya. (*)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved