Prostitusi di Manado
DPRD Minta Pemkot Manado Lebih Serius Tangani PSK dan Gepeng
masalah pekerja seks komersial, gelandangan dan pengemis adalah masalah mendesak yang harus ditangani pemerintah kota.
Penulis: Finneke | Editor: Aldi Ponge
Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Manado mengatakan masalah pekerja seks komersial, gelandangan dan pengemis adalah masalah mendesak yang harus ditangani pemerintah kota.
"Permasalahan sosial ini jelas terlihat orang luar. Jangan menitik beratkan program ke program seremonial misalnya," ujar Wakil Ketua DPRD Richard Sualang, Rabu (2/5/2018).
Baca: Selain TKB, Inilah 3 Lokasi Mangkal PSK di Manado, Tarifnya Segini
Polisi PDIP ini memberi usulan bagaimana jika pemerintah kota membuat rumah singgah, menampung gepeng dan PSK. Lalu kemudian memberi mereka ketrampilan.
"Didik mereka, supaya kembali ke masyarakat. Kalau tampung saja, tanpa pendidikan, pasti mereka balik lagi di jalan, balik lagi cari tamu," ucapnya.
DPRD meminta Pemkot Manado untuk tak menunda-nunda mengatasi permasalahan ini. Sebab Manado bukan hanya didatangi wisatawan dalam negeri, tapi juga dari luar negeri.
"Kalau mereka berkeliaran wajah kota kan jadi tak bagus. Semisal gepeng, di lampu merah ada, di toko-toko ada, di pintu masuk kawasan bisnis ada. Masalah sosial ini mendesak," ucapnya.
Menilai program Pemkot Manado beberapa tahun terakhir, Sualang menilai pemerintah perlu ada inovasi program. Berkeliarannya gepeng dan PSK saat ini itu tandanya program tak jalan.
"Perlu ada inovasi. Jangan hanya jalankan program nasional, program provinsi. Kota juga harus berinovasi dengan kondisi di lapangan," ucapnya.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Manado, Olga Krisen mengatakan membangun rumah singgah bagi PSK dan gepeng, maupun waria masih sebatas rencana yang belum tahu kapan realisasinya.
Sebelumnya, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Manado, Xaverius Runtuwene mengatakan pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk membangun rumah singgah bagi pekerja seks komersial dan waria yang sering mangkal di jam-jam tertentu di pusat kota.
"Jadi di rumah singgah ini mereka akan mendapat pelatihan keterampilan. Misalnya menjahit, gunting rambut dan kegiatan lainnya. Ini modal bagi mereka untuk mencari uang dengan cara yang lebih layak," ujarnya. (fin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/richard-sualang_20180503_110635.jpg)