Minggu, 26 April 2026
Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Negeri Bogani di Desa Mengkang, Tae Kungsi, Tiga Bogani Tinggal dan Berkuasa

Menelusuri asal-usul Negeri Bogani yang terletak di Desa Mengkang melalui bernama Tae Kungsi yang menceritakan kisah budayawan yang tersisa

Penulis: | Editor:
TRIBUNMANADO/VENDI LERA
Rumah Adat Bogani di Desa Mengkang, yang menyimpan berbagai peninggalan dari nenek moyang 

Laporan Wartawan Tribun Manado Vendi Lera

KOTAMOBAGU,TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebelum kerajaan di Bolaang Mongondow, terbentuk, masyarakat dipimpin oleh Bogani.

Bogani merupakan pemimpin yang dipercaya masyarakat sebelum abad 12 masehi atau tahun 1200.

Tugas mereka menjaga dan melindugi serta menjadi teladan yang baik di wilayah kekuasaan.

Satu diantaranya cerita Bogani di wilayah kekuasaan Lolayang dan sekitarnya bernama Rondongbekiki, Tarongpogayow, dan Pondadat.

Ketiganya hidup dan menetap di desa Mengkang, Kecamatan Lolayan.

Ketiga berkuasanya di seluruh Lolayan. Mereka membentuk suatu stuktur pemerintahan kecil.

Rondongbekiki memimpin para Bogani bernama Tumompot, Bangiloi dan Gayuda, sedangkan Tarongpogayow memimpin Dalungmasingkang.

Selanjutnya Pondadat Mokoluodan, Moropakandau dan Bangkaulu.

Para Bogani ini dipilih karena memiliki kemampuan untuk menyembuhkan, kuat dalam memimpin, adil, jujur, beraklat tinggi, rela berkorban serta mencintai anggotanya.

Memasuki abad 14 atau 1400 komunitas tersebut telah membuat kerajaan yang dipimpin oleh raja atau Punu.

Menurut Tae Kungsi (68) budayawan desa Mengkang, Bogani yang tersisa atau tinggal lama di desa Mengkang adalah Mokoluodan, sehingga membuat patung disini.

"Kami membuat patung, karena sejarah bahwa mereka pertama kali membuka daerah Lolayan termasuk Mengkang," ujar Tae Kungsi, Rabu (2/5/2018).

Kata dia, beberapa peninggalan alam yang ditinggalkan seperti pohon besar di hutan berumur ratusan tahun, konon ditanam oleh para Bogani serta beberapa tanda di batu.

Sangadi Desa Mengkang, Marsidik Kadengkang mengatakan, warga desa Mengkang menjaga adat dan budaya, sehingga membuat rumah adat.

Berbagai peninggalan nenek moyang diletakan di rumah ini, termasuk barang bogani seperti tombak serta patung Mokoluodan.

"Rumah ini dibangun hanya untuk mengumpulkan sejarah, agar anak cucu bisa tahu sejarah Bolaang Mongondow," ujar Marsidik.

Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved