Melihat Aktivitas Para Kusir Bendi Kawasan Pecinan Manado
Menigkatnya transportasi online di Manado tak mengurung niat para kusir bendi ini untuk meninggalkan profesi tersebut.
Penulis: Chintya Rantung | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Menigkatnya transportasi online di Manado tak mengurung niat para kusir bendi ini untuk meninggalkan profesi tersebut.
Bagi mereka rejeki sudah diatur yang Maha Kuasa. Kalau kita berusaha pasti ada hasilnya. Seperti yang dialami Sonny Longkutoy 48 tahun warga Teling yang sudah hampir 30 tahun menggeluti profesi tersebut.
Berawal dari hobi hingga menjadi pekerjaan yang bisa mwmbawa hasil untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
"Kuda dan bendi pun bukan milik kami. Kami hanya kusir yang diberi gaji oleh pemiliknya. Sehari itu bisa dapat sampai 100 ribu. Tetapi itu harus dibagi tiga. Kepada pemilik,makanan kuda dan sisanya untuk kami.
Dan terkadang hasil yang diperoleh hanya untuk diberikan kepada pemilik ataupun untuk makanan kuda. Setelah dibagi tak sebanding dengan lelah kami seharian mencari uang. Tapi untunglah istri di rumah mengerti dan paham dengan kondisi yang dialami," cerita Sonny kepada Tribun Manado (24/4).
Berkat usaha dan kerja serta doa dari keluarga Ia mampu menyekolahkan anaknya hingga jenjang perguruan tinggi.
Meskipun begitu mereka tak pernah berniat meninggalkan profesi menjadi kusir bendi. Karena kami yakin rejeki sudah diatur.
Begitupun dengan Midun Bu 53 tahun kusir bendi warga Perkamil itu. Selama 20 tahun bertahan menjadi kusir bendi. Itu karena keyakinan dan usaha serta doa. "Karena yakin segela usaha yang dilakukan pasti diperhitungkan Tuhan," ungkap Midun.(Tribunmanado.co.id/Chintya Rantung)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bendi-di-pecinan-manado_20180424_163248.jpg)