Dewan Pers : Wartawan Ujung Tombak Suksesnya Pemilukada Berintegritas
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulut menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Aryaduta Hotel Manado dan bekerjasama dengan Dewan Pers
Penulis: Handhika Dawangi | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Handhika Dawangi
MANADO, TRIBUNMANADO.CO.ID - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Focus Group Discussion (FGD), Sabtu (21/4/2018) di Aryaduta Hotel Manado.
Pada kegiatan tersebut KPU bekerjasama dengan Dewan Pers.
Pada FGD yang menghadirkan pimpinan organisasi wartawan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), serta para jurnalis baik media cetak, online, maupun televisi ini bertemakan Etika Jurnalisme Pemilu Berintegritas.
Ketua KPU Provinsi Sulut Yessy Momongan mengatakan bahwa KPU merancang kegiatan agar mendapatkan ide-ide brilian dari semua peserta terkait dengan partisipasi masyarakat dan peran media.
"Bagaimana KPU harus bersikap, mendesain pemilu. Media itu menjadi ujung tombak untuk proses kecerdasan, pentingnya edukasi kepada masyarakat," ujar ketua KPU.
Lanjut ketua KPU Sulut, pada kegiatan tersebut dari Dewan Pers sudah memberikan dan menjelaskanvmateri mengenai kode etik wartawan.
"Kami juga mendiskusikan kedepan agar supaya bisa membuat format yang pas, tepat, agar supaya pemilu itu berintegritas. Jadi teman-teman media yang benar-benar profesional itu akan mengawasi penyelenggara pemilu. Tapi juga akan mengkritik, dan mensupport ketika penyelenggara itu bekerja sesuai dengan aturan main yang ada. Itu yang kita perkuat,sehingga kita butuh dukungan dari semua organisasi wartawan ini untuk menjadi bagian kami untuk mengawal proses demokrasi," ujar ketua KPU.
Pada FGD ini selaku moderator yakni Amanda Komaling Ketua IJTI Sulut.
Dan narasumber ada dari Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulut Aswin Lumintang dan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado Lynvia Gundhe.
Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aswin Lumintang menyampaikan bahwa dalam mencetak wartawan muda yang baik, PWI lebih menggiatkan pada uji kompetensi wartawan.
"Sehingga nantinya pada iven-iven seperti pemilu ini ada kesadaran. Kesadaran dari wartawan untuk mengutamakan aturan yang ada. Ketika melakukan sesuatu kegiatan jurnalisnya akan lebih memperhatikan etika jurnalisme," ujar Aswin.
Aswin juga menyampaikan mengenai kedekatan wartawan dengan pejabat.
"Saya kira dekat dengan pejabat adalah satu keharusan sebagai wartawan. Harus dekat, seperti pemilukada ini wartawan harus dekat dengan pimpinan KPU, calon, maupun dari parpol. Dekat untuk berkomunikasi. Jika tidak dekat, berarti tidak bisa berkomunikasi," ujar dia.
Lanjut Aswin Di UKW juga ada sesi, dimana wartawan harus berkomunikasi dengan relasinya.
"Jadi silakan dekat. Yang tidak bisa itu yaitu 'berselingkuh' dengan calon," ujar Aswin.
Aswin juga mengatakan pendapatnya, bahwa mengambil informasi di medsos itu bisa saja dilakukan sebagai informasi awal.
"Informasi awal yang kemudian ditindaklanjuti dengan mengecek kebenarannya. Itu bisa dilakukan. Yang tidak bisa itu kita mengcopy mentah-mentah dan menyebar berita hoax," ujar dia.
Mengenai iklan, Aswin juga menegaskan bahwa bisnis itu urusannya teman-teman di bagian bisnis. "Kita ini di redaksi. Tugas dan tanggung jawab kita yaitu di pemberitaan," ujar Aswin.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado Lynvia Gundhe juta mengatakan hal senada. Kata dia dalam jurnalistik kita bukan hanya mengumpulkan informasi dan memasukkannya dalam berita.
Melainkan ada kode etik jurnalistik.
"Di Aji ada kode etik dan kode perilaku yang harus dipatuhi oleh anggota AJI. Tahun ini ada dua anggota AJI diminta mundur karena memilih menjadi tim media center satu paslon di Sitaro dan anggota panwascam pilkada di Mitra.Wartawan yang terlibat pemilukada dan politik praktis kami minta mundur," ujar dia.
Lanjut Lynvia, dalam menghadapi pemilukada integritas itu sangat penting.
"Sekarang menjadi wartawan itu mudah. Semua bisa menjadi wartawan. Berbeda dengan kami dulu tidak langsung menjadi wartawan penuh. Harus mengikuti training begitu lama. Kami terus dilatih," ujar dia.
Jimmy Silalahi Anggota Dewan Pers Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan mengatakan bahwa perbedaan adalah warna.
"Inilah warna. Bukan hanya warna anda menyajikan pemberitaan, tetapi warna pola pikir anda. Saya berterima kasih selama ini saya diterima di online, televisi, radio, dan cetak. Oleh sebab itu inilah warna sesungguhnya bahwa teman-teman pers ini pasti tidak akan sama. Pola pikirnya pasti akan berbeda-beda. Tapi disinilah kekayaan kita. Keberagaman itu tercermin dengan perbedaan yang ada di antara anda," ujar Jimmy.
Lanjut Jimmy, media sosial bisa dijadikan sumber informasi.
"Sumber informasi, bukan sumber berita. Ketika anda mengambil dari media sosial. Itu menjadi background. Lakukan proses kejurnalistikan, lakukan verifikasi sebelum dijadikan berita," ujarnya.
Dia mengatakan Dewan Pers berharap mudah mudahan pilkada di enam wilayah di Sulut kondusif, terdukung dengan edukasi atau pemberitaan anda.
"Kami berharap jangan ada lagi nanti mengedepankan ego dari masing-masing organisasi wartawan. Ketika anda memberitakan itu, walaupun dengan warna yang berbeda-beda. Tapi tolong ada berdiri di atas satu kepentingan yang sama. Anda membela kepentingan masyarakat. Tidak peduli anda dari organisasi mana. Bagi kita yang paling penting adalah anda bertanggung jawab terhadap proses munculnya enam pasang kepala daerah yang baru nanti," ujar Jimmy.
Jimmy menegaskan bukan hanya tugas KPU dan Bawaslu untuk mewujudkan pilkada yang suskses.
"Saya selalu mengingatkan ini. Bahwa ini adalah bagian dari tugas penting. Mau jungkir balik sekalipun KPU dalam melaksanakan tugas. Tapi kalau anda tidak ikut berkontribusi menyampaikan kepada publik. Tidak ada gunanya. Makanya tadi saya sampaikan tugas anda kontribusi anda itu penting. Anda itu ujung tombak. Apapun yang disampaikan KPU dan Bawaslu kalau keliru anda sampaikan kepada masyarakat. Maka keliru nanti semuanya," ujar Jimmy.
Jimmy mengajak agar mari kuatkan barisan dalam konteks kita sebagai satu kesatuan.
"Bahwa memang kita harus menghadirkan informasi yang benar dalam bentuk berita yang mengedukasi masyarakat," ujar dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/manado_20180421_161141.jpg)