Dituding Lecehkan Agama Setelah Baca Puisi Gus Mus, Ganjar: Kenapa Ributnya Sekarang?
'Kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat'
Penulis: Siti Nurjanah | Editor: Siti Nurjanah
TRIBUNMANADO.CO.ID - Publik kembali dihebohkan dengan sebuah puisi yang disebut-sebut menyudutkan agama Islam.
Jika sebelumnya publik dihebohkan dengan puisi karya Sukmawati Soekarnoputri berjudul 'Ibu Indonesia' kini giliran puisi karya KH Ahmad Mustofa Bisri taua yang akrab dipanggil Gus Mus berjudul 'Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana'.
Puisi Gus Mus kini tengah ramai diperbincangkan usai dibacakan cagub Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.
Puisi tersebut disebut-sebut melecehkan agama Islam.
Pasalnya, terdapat salah satu bait pada puisi tersebut dianggap menyudutkan umat Islam soal panggilan Azan.
Tak hanya itu, penggalan bait lainnya yang berbunyi 'Kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau sendiri memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat' itupun dianggap melecehkan agama.
Diketahui sebelumnya, puisi karya KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) berjudul 'Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana' dibuat pada tahun 1987.
Tak hanya kali ini, pada tahun 2016 puisi ini juga sempat dibacakan oleh mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar dan Ketua MUI NTT Abdul Kadir Makarim.
Dilansir Tribunmanado.co.id dari situs resmi Nahdatul Ulama (NU) pada klarifikasi 24 Mei 2016 dan menyebut puisi tersebut adalah hoax.
Meski dulu sempat heboh, namun bukan terkait menyudutkan agama melainkan ketika beredar puisi tiruan.
Dlansir Tribunmanado.co.id dari situs resmi Kementrian Agama, berikut isi puisi karya Gus Mus berjudul 'Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana'.
Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana….
Kau ini bagaimana…
Kau bilang aku merdeka
Tapi kau memilihkan untukku segalanya
Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku berfkir
Aku berfikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bergerak
Aku bergerak kau waspadai
Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau tuduh aku apatis
Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip
Kau tuduh aku kaku
Kau ini bagaimana…
Kau suruh aku toleran
Aku toleran kau tuduh aku plin-plan
Aku harus bagaimana…
Kau suruh aku bekerja
Aku bekerja kau ganggu aku
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa
Tapi khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu
Langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum
Kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin
Kau mencontohkan yang lain
Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai
Kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun
Aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung
Aku menabung kau menghabiskannya
Kau suruh aku menggarap sawah
Sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah
Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi
permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab
kau sendiri terus berucap Wallahu A’lam Bis Showab
Kau ini bagaimana..
Aku kau suruh jujur
Aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar
Aku sabar kau injak tengkukku
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku
Sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku
Aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana..
Kau bilang bicaralah
Aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang kritiklah
Aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternative kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau
Kau tak mau
Aku bilang terserah kita
Kau tak suka
Aku bilang terserah aku
Kau memakiku
Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
Ternyata puisi karangan Gus Mus tersebut pada zaman Orde Baru kerap menjadi inspirasi pergerakan dan demonstrasi terhadap pemerintahan era Soeharto.
Bahkan lirik dalam setiap bait puisi tersebut bertebaran dalam pamflet penggerak aksi demonstrasi.
Mengenal lebih dekat sosok KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)
Dilansir dari Wikipedia, KH Ahmad Mustofa Bisri atau yang akrab dipanggil Gus Mus lahir di Rambang, Jawa Tengah, pada 10 Agustus 1944.
Gus Mus merupakan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin yang juga salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini.
Sosok Gus Mus juga dikenal sebagai penyair.
Karya-karyanya sangat dikenal dalam lingkungan sastrawan.
Atas dedikasinya pada 13 Agustus 2015, Presiden Joko Widodo memberikan tanda kehormatan berupa Bintang Budaya Parama Dharma kepada Gus Mus.
karena perjuangan hak asasi manusia melalui ajaran agamanya Gus Mus raih Yap Thiam Hien Award 2017.
Tanggapan Ganjar Pranowo
Dilansir Tribunmanado.co.id dari Kompas.com Ganjar Pranowo menanggapi atas tudingan yang menyebutkan puisi yang Ia bacakan menyudutkan agama Islam.
“Padahal itu puisi sejak tahun 1987 dan Gus Mus sendiri yang membaca, bahkan semua membaca kenapa diributkan sekarang? Tendensinya itu muncul,” tuturnya.
Belakangan muncul pesan berantai dari yang mengatasnamakan kelompok tertentu.
Dalam broadcast ini disebutkan bahwa kelompok tersebut menilai bahwa puisi yang dibaca Ganjar sangat menyinggung umat Islam, di mana terdapat kalimat yang mengandung unsur SARA dan penistaan agama.
Penggalan kalimat tersebut adalah "Kau ini bagaimana Kau Bilang Tuhan Sangat dekat, Kau Sendiri yang memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat...".
Kelompok ini kemudian akan melaporkan Ganjar Pranowo secara resmi ke Bareskrim Mabes Polri, Selasa (10/4/2018) siang.
Pesan berantai ini juga mencantumkan nama dan nomor telepon ketua FUIB yang juga sebagai pelapor. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/ganjar-pranowo_20180409_152023.jpg)