China vs AS: Perang Ideologi hingga Dagang, Siapa Paling Diuntungkan?

Pada 11 Maret lalu, parlemen China telah menghapuskan batas dua periode masa jabatan presiden. Hal ini membuka jalan kepada Xi Jinping

China vs AS: Perang Ideologi hingga Dagang, Siapa Paling Diuntungkan?
afp
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping 

Terlepas dari hal itu, perisitiwa ini telah membuktikan bahwa tidak hanya perang perdagangan Washingtong-Beijing yang terjadi, namun kompetisi ideologi Washington-Beijing telah terjadi dan akan masih menyajikan konstelasi politik internasional yang menarik untuk dikaji.

Demikian pendapat Khairil Ramadhani
Chulalongkorn University
Permitha Thailand (ppidunia.org). Penulis adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia.

Menebak Pihak Paling Merugi dalam Perang Dagang AS-China

Pemerintah China bersiap membalas langkah Presiden AS Donald Trump, dengan mempertimbangkan pemberlakuan tarif bea masuk untuk berbagai produk AS senilai 3 miliar AS atau sekitar Rp 40 triliun.

Presiden Cina Xi Jinping
Presiden Cina Xi Jinping (Net)

Daftar produk AS yang bisa dikenakan bea masuk di China antara lain daging babi, minuman anggur, buah, dan kacang-kacangan serta pipa baja anti karat (stainless steel), dan lain-lain.

Meski demikian, China menyerukan agar AS untuk tidak mengarahkan hubungan perdagangan kedua negara ke "wilayah yang berbahaya".

Beijing mengatakan, mereka berharap AS akan kembali menarik diri "dari ambang" perang dagang.

Pada Kamis (22/3/2018) pemerintah AS mengumumkan rencana memberlakukan tarif hingga  60 miliar dolar atau  Rp 826 triliun terhadap berbagai barang yang diimpor dari China dan membatasi investasi negara itu di AS.

Langkah ini disebut merupakan pembalasan terhadap dugaan pencurian kekayaan intelektual oleh Cina sejak beberapa tahun lalu.

Menangapi hal itu, Kementerian Perdagangan China, pada Jumat (23/3/2018) mengatakan, kerjasama ekonomi adalah satu-satunya pilihan yang tepat untuk kedua negara.

Mereka mendesak AS untuk menangani masalah melalui dialog dan menghindari akibat buruk jangka panjang terhadap hubungan kedua negara.

Meski demikian, Pemerintah China mengatakan berencana untuk mengambil dua langkah pengenaan tarif sekaligus sebagai pembalasan:

Tarif cukai 15 persen untuk 120 barang senilai hampir 1 milyar dolar atau Rp 13,5 triliun terhadap produk seperti buah segar, kacang dan minuman anggur
Tarif cukai 25 persen untuk delapan barang senilai hampir 2 miliar dolar AS atay Rp 27 triliun, termasuk berbagai produk aluminium.

Langkah pertama akan diberlakukan jika AS tidak mencapai kesepakatan perdagangan. Langkah kedua diambil setelah evaluasi lebih lanjut pada tarif bea masuk AS.

China mengatakan, meski tidak menginginkan perang dagang, negeri itu tidak takut untuk melakukannya.

JANGAN LEWATKAN: Babak Baru Perang Dagang: China Pasang Tarif Impor 25% pada 128 produk AS, Dunia di Ambang Krisis

Beijing juga menyiapkan rencana melakukan tindakan hukum melalui Asosiasi Perdagangan Dunia untuk menggugat pemberlakuan tarif bea masuk oleh AS terhadap produk baja dan almunium impor yang ditetapkan bulan lalu.

Pasar saham di Asia anjlok karena kekhawatiran AS dan China akan memulai perang dagang. Isu ini juga membuat pasar saham AS juga ditutup pada nilai lebih rendah pada Kamis.

Para pejabat AS mengakui kemungkinan terjadinya pembalasan dari China, tetapi menurut mereka, raksasa Asia itu akan menjadi pihak yang lebih merugi.

Jika benar-benar diterapkan,  tarif cukai AS dapat menyebabkan konsumen dibebani biaya lebih tinggi, sementara pembalasan China akan memukul sektor-sektor utama ekonomi AS termasuk pertanian dan kedirgantaraan.

China adalah pasar terbesar ketiga untuk ekspor AS pada 2016 dan merupakan salah satu pembeli terbesar jagung, daging babi, dan pesawat terbang buatan Amerika.

China juga merupakan konsumen kedelai terbesar di dunia dengan mengonsumsi sekitar sepertiga produk kedelai AS.

Namun, sebuah berita cukup melegakan para petani AS karena kedelai ternyata tak termasuk dalam aksi balasan yang direncanakan China. *

Artikel ini telah dimuat di kompas.com dengan judul: China Versus AS: Perang Ideologi Jilid 2

Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved