China vs AS: Perang Ideologi hingga Dagang, Siapa Paling Diuntungkan?

Pada 11 Maret lalu, parlemen China telah menghapuskan batas dua periode masa jabatan presiden. Hal ini membuka jalan kepada Xi Jinping

China vs AS: Perang Ideologi hingga Dagang, Siapa Paling Diuntungkan?
afp
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping 

Baru-baru ini, Xi menyatakan bahwa model pemerintahan Republik Rakyat China layak diadopsi oleh negara-negara lain karena telah terbukti efektif dalam pembangunan negeri dengan populasi ribuan juta jiwa.

Dilaporkan oleh Quartz News, pemerintah China dimulai dari tahun 2014 telah mengadakan pertemuan tahunan yang mengundang para pemimpin politik dunia. Pertemuan tersebut bertujuan untuk membeberkan tentang model pemerintahan dan pembangunan China.

Selanjutnya, Quartz menjelaskan bahwa dalam rangka memperkuat hubungan dengan Afrika, China juga telah mengundang para politisi muda Afrika untuk diberi pelatihan-pelatihan. Hal ini jelas mengindikasikan tentang keinginan China untuk menjadi pusat ide dalam pembangunan masyarakat dunia.

Selain itu, hal tersebut juga menjadi bukti bahwa terdapat keinginan oleh China untuk "menjual" ide dan sistem pemerintahan dan pembangunan China ke dunia luar.

Mengenai tujuan dari hal ini, adalah hal yang mungkin jika China ingin memperkuat pengaruhnya terhadap masyarakat dunia layaknya apa yang telah Amerika dan negara-negara besar lainnya telah lakukan.

Secara tidak langsung, hal ini mengindikasikan kemungkinan akan terjadinya kembali kompetisi ideologi yang telah terjadi pada masa perang dingin. Bedanya, China akan menjadi aktor sentral mengganti Uni Soviet (Rusia) sebagai kompetitor utama Amerika.

Bila dikomparasikan dengan Perang Dingin, kebijakan obor China dapat dikatakan sebagai aid diplomacy yang masif dilakukan pada masa Perang Dingin. Kebijakan Obor China dapat disandingkan dengan kebijakan Marshall Plan Amerika dan Molotov Plan Uni Soviet. Namun demikian, kita harus tetap memperhatikan pola-pola yang akan terjadi.

Apa yang menjadi kebenaran pada masa sekarang adalah China telah mengalami banyak kemajuan dalam bidang diplomasi dunia tak terkecuali di Afrika.

Rex Tillerson, diplomat Amerika, baru saja melakukan kunjungannya ke Afrika. Ia melihat China telah menjadi rekan baik oleh banyak negara Afrika.

Dalam pesannya di Ethiopia, Tillerson mengingatkan agar negeri-negeri Afrika berhati-hati dalam berhubungan dengan China. Namun demikian, suara dari politisi Afrika lebih memilih China karena sikap Amerika yang tak layak kepada Afrika.

Halaman
1234
Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved