China vs AS: Perang Ideologi hingga Dagang, Siapa Paling Diuntungkan?

Pada 11 Maret lalu, parlemen China telah menghapuskan batas dua periode masa jabatan presiden. Hal ini membuka jalan kepada Xi Jinping

China vs AS: Perang Ideologi hingga Dagang, Siapa Paling Diuntungkan?
afp
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping 

Namun kemudian, pada 1966-1976, China berada pade fase krusial di mana cultural revolution membawa dampak negatif bagi banyak masyarakat China.

Deng Xiaoping, suksesor Mao, membuka arah baru dalam sejarah China. Deng melakukan reformasi ekonomi dan politik internasional. China kemudian berjabat tangan dengan banyak negara yang dahulunya merupakan lawan politik.

Dalam hal ini, ASEAN pun menjadi perhatian Deng Xiaoping. Pada 1978, ia mengadakan safari politik ke tiga negara pendiri ASEAN, yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand, untuk merestorasi hubungan buruk yang telah tertanam di ASEAN.

Kebijakan buka pintu oleh China berbuah manis di mana hal tersebut mampu mereparasi ekonomi China.

Pada tahun 2000-an, China menunjukkan potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Hal ini tentunya disambut dengan rasa waswas oleh kalangan barat, terutama Amerika.

Paman Sam mengkhawatirkan jika China akan menjadi kompetitor Amerika dalam banyak hal. Namun demikian, untuk meyakinkan dan menjaga persahabatan baik dengan Amerika, China melontarkan bahwa kemajuan yang dialaminya adalah perkembangan dunia yang tidak perlu ditakutkan.

JANGAN LEWÀTKAN: Inilah ‘Balas Dendam’ China untuk Presiden Trump

China menegaskan bahwa kemajuan ini sebagai kebangkitan yang damai (peaceful rise) yang tidak akan menganggu struktur-struktur dasar politik internasional yang telah terjalin. Hal ini tentunya disambut baik dan gembira oleh barat dimana China memang menunjukkan komitmen terhadap perkataannya.

Memasuki era kepemimpinan Xi Jinping, China tidaklah berbeda. China terus tumbuh menjadi salah satu aktor terpenting di politik dunia. Dengan kemajuan pesat yang dialaminya, China terus membangun negeri dengan memperluas dan memperdalam kebijakan luar negeri.

Perumusan kebijakan OBOR (One Belt One Road Iniative) adalah satu bukti bahwa China menaruh perhatian besar kepada kebijakan luar negerinya dengan memberikan bantuan pembangunan infrastruktur global.

Halaman
1234
Editor: Lodie_Tombeg
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved