Renungan Jumat Agung

Pdt Evert Tangel: Kematian yang Memberi Kehidupan

Segenap jemaat Tuhan berduyun-duyun berjalan menuju Gereja memenuhi panggilan untuk beribadah merayakan Jumat Agung

Pdt Evert Tangel: Kematian yang Memberi Kehidupan
Pdt Evert Tangel 

Oleh : Sekretaris Umum BPMS GMIM, Pdt Evert Tangel STh MPdK

TRIBUNMANADO.CO.ID - Hari ini segenap jemaat Tuhan berduyun-duyun berjalan menuju Gereja memenuhi panggilan untuk beribadah merayakan Jumat Agung dalam rangka memaknai kematian Tuhan Yesus di kayu salib di Bulkit Golgota.

Pasti gedung-gedung gereja penuh dan tidak seperti biasanya.

Suasana yang diwarnai dengan pakaian dan dekorasi hitam menyelimuti pelaksanaan ibadah.

Hal ini tidaklah lasim dilakukan oleh jemaat. Tidak hanya kebiasaan tapi diyakini sebagai ekspresi iman yang bersyukur untuk boleh merayakan hari kematian Tuhan Yesus

Perjalanan merayakan Minggu-Minggu sengsara telah mengarahkan jemaat untuk membersihkan “kekotoran” hidup oleh dosa.

Sebagaimana Yesus yang rela merendahkan diri mengambil rupa seorang hamba dan sebagai manusia untuk di hina, dicaci-maki, dipukuli, diludahi, memikul salib, dan taat sampai mati bahkan mati di kayu salib (Filipi 2:7,8)
Kematian Tuhan Yesus adalah puncak misi Allah untuk menyelamatkan manusia dan dunia oleh karena KASIH.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini , sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” Yoh. 3:16.

Kasih itu telah didedikasikan-NYA sebagai ketaatan mulai dari lahir sampai mati-NYA dalam rangka misi keselamatan Allah bagi manusia dan dunia dari kebinasaan maut akibat dosa. Kebangkitann-NYA dari antara orang mati pada hari ke tiga (Matius 28:1-10; Mark. 16:1-8; Luk. 24:1-12; Yoh. 20:1-10).

Ya …, Kematian yang telah memberikan kehidupan.

Halaman
12
Editor: Aldi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved