Sudah Bukan Zamannya Mendisiplinkan Anak dengan Memukul

Sekitar dua dekade lalu, bukan hal aneh melihat orangtua memukul bokong anak mereka sebagai hukuman ketika anak-anaknya "nakal".

Ilustrasi 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sekitar dua dekade lalu, bukan hal aneh melihat orangtua memukul bokong anak mereka sebagai hukuman ketika anak-anaknya "nakal".

Kini, para ahli perkembangan anak menentang cara mendisiplinkan tersebut.

Perdebatan mengenai boleh tidaknya memukul anak, terutama memukul bagian bokong dengan tangan kosong (spanking) untuk memberi pelajaran sempat ramai.

Banyak pakar psikologi menyarankan agar tidak menggunakan hukuman fisik saat mendisiplinkan anak. Sementara yang lain menganggap dampak buruk memukul anak terlalu dibesar-besarkan.

Menurut laporan UNICEF, seperti dikutip dari CNN.com, di seluruh dunia hampir 300 juta anak berusia 2-4 tahun mendapat berbagai bentuk hukuman fisik dari orangtua atau pengasuhnya.

Hukuman fisik tersebut termasuk memukul bokong anak, mengguncang-guncangkan tubuhnya, atau meninju salah satu bagian tubuh dengan tangan atau alat lain.

"Tapi, secara umum kebanyakan orangtua berusaha menjelaskan kepada anaknya mengapa perilaku tertentu salah," kata pakar statistik dan monitoring UNICEF, Claudia Cappa.

Ia menambahkan, kebanyakan orangtua juga menggunakan beberapa metode mendisiplinkan anak.

"Mereka menggunakan cara kekerasan dan juga nonkekerasan, mereka mengombinasikan hukuman fisik dan agresi psikologi seperti berteriak atau menjerit," katanya.

Dampaknya

Halaman
12
Editor: Rine Araro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved