Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Wabup Bupati Boltim Geram Karena Ini

Tracy Pasaribu, dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan meminta operator menekan sebuah aplikasi di layar komputer, Kamis (14/3/2018).

Penulis: | Editor: Alexander Pattyranie
TRIBUN MANADO/DAVID MANEWUS
Sosialisasi dan Pelatihan (Literasi Data) Pemanfaatan Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin (PPFM) di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara. 

Laporan Wartawan Tribun Manado David Manewus

TRIBUNMANADO.CO.ID, TUTUYAN - Tracy Pasaribu, dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan meminta operator menekan sebuah aplikasi di layar komputer, Kamis (14/3/2018).

Di sebuah grafik, operator diminta menekan batang grafik yang paling tinggi. Semua proses terlihat dari sebuah slide raksasa.

Dari batang grafik terlihat nama Jiko Belanga.

Peta Jiko Belanga juga tampak menyala sendiri.

"Jiko Belanga menjadi daerah termiskin di Kabupaten Bolaang," kata Tracy memperlihatkan keuntungan data terpadu dalam Sosialisasi dan Pelatihan (Literasi Data) Pemanfaatan Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin (PPFM) di kantor Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sulawesi Utara.

Dengan aplikasi yang sama, Tracy menemukan jumlah anak putus sekolah terbanyak di Boltim ialah di Desa Nuangan Barat.

Itu untuk anak berusia 13 sampai 15 tahun atau usia Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Bahkan, dari aplikasi ditemukan di desa mana yang jauh korelasinya antara kesejahteraan keluarga dan anak putus sekolah (13 sampai 15 tahun). Itu hanya melihat sejumlah titik dari grafis.

"Itu di Desa Mokotompia. Berarti ada alasan lain yang membuat anak-anak putus sekolah," katanya.

Wakil Bupati Boltim Rusdi Gumalangit sempat geram karena banyak pejabat yang diundang tidak hadir.

Padahal sosialisasi ini baginya sangat penting.

Ia mengabsen mereka yang hadir.

"Bagaimana mau mencapai visi kalau pembuatan data terpadu tidak diketahui. Bagaimana mau membuat program," katanya.

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved