Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Cuke, Shaolin Cilik Sempat Rindu Ibunya

Cuke, biksu Shaolin belia berusia 10 tahun, jadi pusat perhatian dalam International Shaolin Show Manado, Selasa (6/3) malam di God Bless Park Manado.

Penulis: Arthur_Rompis | Editor: Andrew_Pattymahu
Arthur Rompis
Cuke 

TRIBUNMANADO. CO. ID, MANADO - Cuke, biksu Shaolin belia berusia 10 tahun, jadi pusat perhatian dalam International Shaolin Show Manado, Selasa (6/3) malam di God Bless Park Manado.

Di balik tubuh kecilnya tersimpan kekuatan besar.
Saat gladi bersih, ia bersalto berulang kali, dan jatuh dengan indah, bak atlet senam yang mendapat nilai sembilan.

Ia kemudian memeragakan jurus yang mengandalkan kelenturan badan.
Kaki kirinya diangkat tinggi, lantas jatuh dalam posisi split.
Pada pungkasan, ia naik di atas tubuh rekan - rekannya yang bersusun dua, memeragakan jurus kungfu.

Kala para biksu keliling Manado sebelum pertunjukkan, Cu Ke jadi sasaran selfie warga.
Dia tampak malu - malu kala disapa.
Namun tak keberatan saat diminta memeragakan
jurus kungfu saat di foto.

Saat berada dalam bus menuju lokasi pertunjukkan, Cuke terlihat rileks.
Ia asyik memainkan ponsel sambil mengunyah kue kolombeng, kue khas Minut.
Siapa sebenarnya Cuke ?

Menurut pelatihnya Mr Li, Cuke masuk biara Shaolin sejak umur 5 tahun.
"Ia dititipkan kedua orang tuanya untuk belajar kungfu, kedua orang tuanya

juga tinggal di provinsi Fujian," kata dia.

Sebut dia, Cuke kecil pada awalnya mengalami kesulitan.
Ia sering menangis memanggil nama ibunya.
"Namun perlahan Cuke bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di Shaolin," ujar dia.

Dalam hal ini, Semangat berlatih kungfulah yang menyelamatkan Cuke.
Berlatih kungfu membantu bocah kecil ini melupakan segenap gundahnya.

"Sampai kini ia pun masih sering homesick, namun segera hilang jika berlatih, apalagi suasana kekeluargaan sangat kental di Shaolin," ujar dia.
Sebut dia, Cuke kini sudah kelas 6.Berbagai jurus sudah ia kuasai.

Bakat serta kemauan Cuke membuatnya cepat menyerap ilmu.

"Ia sudah menguasai teknik dasar kuda kuda Shaolin dengan baik serta jurus Arahat yang jadi jurus dasar Shaolin," kata dia.

Menurut dia, Cuke sangat antusias saat akan tur,termasuk saat tur ke Manado.
Terhadap Manado ia punya kesan sendiri.
"Katanya orang disini ramah, makanannya enak, orang disini juga mirip mirip orang cina," ujar dia.

Amatan Tribun, saat tarian Kabasaran tampil, Cuke nampak memperhatikan dengan seksama.

Cuke dan sejumlah rekannya juga nekat menaiki pinggiran panggung demi menonton Masamper.

Diungkapnya, Cuke tak pernah membeber apa cita - citanya.

Cuke mengaku hanya ingin menjalani hidup dengan menjadi orang baik.

Sangat rendah hati dan tak berlebih pertanda ia sudah mengerti ajaran Buddhisme.

LATIHAN KERAS

Ia bercerita, sejumlah murid murid Shaolin, ada yang seperti Cuke, dibawa orang tuanya.

Sebut dia, kehidupan di Shaolin sangat disiplin.

Latihan sudah dimulai pukul setengah enam pagi.
Kemudian pelajaran di kelas dari pukul delapan sampai sebelas.
Lanjut lagi latihan dari pukul dua hingga lima sore.
"Malamnya belajar agama," kata dia.

Menurut Mr Li, pembelajaran dasar adalah hal utama dalam kungfu Shaolin.
Dasar disini adalah kuda kuda. Ibarat pohon harus kuat
akarnya, begitupun seorang pendekar, harus kuat kuda - kudanya.
Para pendekar Shaolin menghabiskan waktu bertahun tahun hanya untuk belajar kuda - kuda.

Dikatakannya, pembelajaran Shaolin tak melulu kungfu.
Para murid juga dilatih pelajaran umum
"Setelah lulus mereka bisa kuliah, kerja atau jadi biksu," kata dia. Ungkap dia, para murid Shaolin dilarang keras memakai ponsel saat sedang latihan atau belajar.
"Namun jika sedang santai bisa," kata dia.
Diakuinya ada satu murid shaolin yang memakai kacamata.
Namun matanya itu baru minus satu.
"Jadi tak apa apa lepas kacamata," ujar dia. (Art)

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved