Bentrok Muslim-Buddha, Sri Lanka Nyatakan Status Darurat

Sri Lanka menyatakan status darurat selama 10 hari setelah bentrokan antara umat mayoritas Buddha Sinhala dan minoritas Muslim di Distrik Kandy.

Bentrok Muslim-Buddha, Sri Lanka Nyatakan Status Darurat
NET
Ilustrasi bentrokan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Sri Lanka menyatakan status darurat selama 10 hari setelah bentrokan antara umat mayoritas Buddha Sinhala dan minoritas Muslim pecah di pusat Distrik Kandy.

Juru bicara pemerintah Sri Lanka, Dayasiri Jayasekara, mengatakan status darurat ditetapkan guna mengendalikan situasi dan kekerasan komunal yang mulai meluas.

"Dalam rapat khusus kabinet telah diputuskan untuk mendeklarasikan status darurat selama 10 hari demi mencegah penyebaran kekerasan komunal ke wilayah lainnya," kata Jayasekara kepada Reuters, Selasa (6/3).

Bentrokan komunal pecah setelah sekelompok warga Buddha dilaporkan membakar toko kelontong milik seorang warga Muslim di wilayah tersebut.
Lihat juga: Ke Indonesia, Muslim Myanmar Belajar Atasi Konflik Komunal
Ketegangan antara masyarakat Buddha dan Muslim terus meningkat di negara Asia Selatan itu dalam beberapa tahun terakhir.

Umat Buddha garis keras menuding Muslim di sana memaksa orang-orang memeluk agama Islam atau merusak situs arkeologi Buddha.

Sejak krisis kemanusiaan di Myanmar memburuk Agustus 2017 lalu, banyak umat Buddha Sri Lanka memprotes kedatangan pengungsi Muslim Rohingya di negaranya.

Selain menetapkan status darurat, Jayasekara menegaskan bahwa pemerintah akan menindak tegas seluruh pihak yang mencoba memperkeruh keadaan, terutama melalui media sosial.
Lihat juga: Militer, Polisi dan Warga Buddha Bantai 10 Pria Rohingya
Hal itu disampaikan usai beberapa pihak dilaporkan mencoba menghasut warga untuk memicu kericuhan melalui Facebook.

"Rapat darurat juga memutuskan bahwa pemerintah akan mengambil tindakan tegas terhadap orang-orang yang memicu kekerasan melalui media sosial seperti Facebook," ujar Jayasekara seperti dikutip Reuters.

Dia mengatakan pemerintah juga telah mengirim personel militer dan pasukan khusus ke pusat bentrokan di Kandy. Aparat setempat juga dilaporkan memberlakukan jam malam di untuk mengantisipasi bentrokan kembali terjadi.

Kerusuhan dan pembakaran toko di distrik Kandy bermula pada Minggu (4/3), setelah seorang sopir truk, yang merupakan umat Buddha Sinhala, meninggal beberapa hari usai bertengkar dengan empat warga Muslim di sana.
Lihat juga: Proses Repatriasi, Myanmar Tampung 30 Ribu Rohingya
Bentrokan pecah pada Senin (5/3), tak lama setelah pemakaman sang sopir selesai. Polisi menyebut sekelompok umat Buddha menyerang dan membakar toko-toko milik umat Muslim di distrik tersebut.

Jenazah seorang warga ditemukan dalam salah satu toko yang terbakar itu.

Umat Muslim hanya berpopulasi sekitar 9 persen dari total 21 juta penduduk Sri Lanka. Sementara jumlah umat Buddha di sana mencapai 70 persen dan 13 persen lainnya merupakan umat Hindu.

Editor: Fernando_Lumowa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved