Sulawesi Utara
Menuju Sulut Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan

Kisah Tang Sin dan Pendamping di Klenteng Altar Agung

Tommy Kho Wijaya (49) dan Goan Loho (50) tampak bersantai di rumah kopi samping Klenteng Altar Agung, di kawasan pecinan, Manado

Penulis: Finneke | Editor: Andrew_Pattymahu
FINNEKE WOLAJAN

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO - Tommy Kho Wijaya (49) dan Goan Loho (50) tampak bersantai di rumah kopi samping Klenteng Altar Agung, di kawasan pecinan, Manado, Rabu (28/2). Secangkir kopi menemani kedua Tang Sin yang akan bertugas di prosesi Cap Go Meh, Jumat (2/3) mendatang.

Mereka tampak santai bercengkeramah dengan sejumlah lelaki berbaji putih lainnya. Tawa dan canda tampak terlihat dari pembicaraan mereka.

Ekspresi yang jauh berbeda saat Tommy dan Goan mengikuti prosesi Kwan Seng Ta Tie mencapai kemuliaan di Klenteng Altar Agung. Mereka menjadi sosok yang sangat berbeda, ketika Dewa Lo Tjia merasuki tubuh keduanya, saat prosesi itu berlangsung.

Menjadi Tang Sin bagi keduanya merupakan semua kebanggaan. Meski menjalaninya pun penuh tantangan. Bersyukur bisa membantu umat, lewat tubuh yang dirasuki sang dewa.

"Jadi Tang Sin itu tujuan utamanya menolong umat dan mengabdi pada Tuhan. Banyak pengorbanan, tapi berkat juga banyak. Bukan secara materi, tapi berkat sukacita," demikian Tommy yang sudah 30 tahun menjadi Tang Sin. Sementara Goan, baru enam tahun terakhir.

Menjadi Tang Sin tak sembarang. Banyak orang ingin jadi Tang Sin, tapi tak semua bisa. Seumpama bisa, akan banyak Tang Sin di tiap klenteng, demikian Tommy. Dari yang baik, harus ada yang terbaik.

"Jadi Tang Sin harus lihat jodohnya, ada banyak hal. Tak segampang orang yang mau-mau saja jadi Tang Sin. Banyak yang mau, tapi yang bisa harus mengikuti prosesnya dulu. Dari awal kan harus ada juga persetujuan keluarga dulu," ucapnya.

Tommy dan Goan tahu betul risiko menjadi seorang Tang Sin. Apalagi saat prosesi Cap Go Meh berlangsung. Namun itu tergantung dari kerja sama tim yang akan melakukan prosesi.

Dalam satu tim, ada 15 orang. Terdiri dari Tang Sin sendiri, dua pendamping, pemegang bendera, penabuh tambor dan personel lain yang menyediakan semua keperluan prosesi nanti.

"Kalau prosesi, semua tim harus benar-benar mengabdikan diri. Tak hanya Tang Sin. Misalnya kalau pendamping sakit, Tang Sin pula yang akan merasakan sakit itu. Jadi semua tergantung kerja sama tim," ucap Tommy.

Ronald Maringka (32) dan Vandi Tukang (41) sendiri adalah pendamping. Ronald sudah 13 tahun jadi pendamping Tang Sin, sementara Ronal sudah delapan tahun. Menjadi pendamping Tang Sin juga tak sembarang.

Para pendamping adalah mereka yang bisa mengimbangi tubuh Tang Sin. Layaknya keduanya yang berpostur tubuh besar dan tinggi. Menurut Ronald, pendamping harus memahami gerak gerik dewa yang akan merasuki Tang Sin.

"Jadi kami harus mengetahui karakter dewa itu. Kalau geraknya begini, berarti mintanya ini. Kalau begini, mintanya ini. Itu harus tahu. Kalau salah kasi, nanti kena marah. Dewa juga marah kalau permintaannya salah dikasi," ucapnya.

Mereka harus puasa sebelum prosesi. Lamanya puasa tergantung masing-masing. Yang pasti harus puasa makanan tak bernyawa. Selain makanan, mereka juga harus puasa pikiran dan hati, agar suci.

"Satu lagi, kami harus jaga kondisi. Semua, baik Tang Sin maupun pendamping dan tim. Sebelum prosesi, kami menambah suplemen dan vitamin, biar fit. Di samping puasa terus berlangsung," ucap Tang Sin Tommy. (finneke wolajan)

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved