Berkah Program Penggembosan Dishub Manado, Penambal Ban Bisa Dapat Rp 300 Ribu per Hari

Rizal Alia mendapat keuntungan lebih, sebagai imbas dari program penggembosan parkir liar di jalan protokol oleh Dishub Manado

Berkah Program Penggembosan Dishub Manado, Penambal Ban Bisa Dapat Rp 300 Ribu per Hari
TRIBUNMANADO/FINNEKE WOLAJAN
Rizal, penambal ban jalan boulevard 

Laporan Wartawan Tribun Manado Finneke Wolajan

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Dari kejauhan, Rizal Alia (29) sudah melihat warga yang mendorong motor mereka, di tengah kemacetan Jalan Boulevard, Kota Manado.

Berjalan searah, atau bahkan mendorong motor berlawanan arah. Insting penambal bannya langsung bicara, pasti pundi-pundi rupiahnya terisi.

Apalagi jika petugas Dinas Perhubungan Kota Manado berseliweran di jalan, merazia parkir liar di jalan protokol Kota Manado. Kantong Rizal akan makin tebal.

Program penggembosan parkir liar Dishub Manado membawa berkah bagi penambal ban di pusat kawasan bisnis Kota Manado ini.

Rizal tersenyum, ketika menyebutkan pendapatnya setelah program ini berlangsung. Sedikit malu-malu, tapi ia percaya diri menyebut mendapat keuntungan lebih, sebagai imbas dari program ini. “Pasti naiklah,” ucapnya saat ditemui di tempat kerjanya, Senin (19/2) sore di Sario, Lingkungan V.

Rizal membuka usaha tambal bannya 24 jam. Sudah tiga tahun ia membuka usaha di situ. Pendapatan per hari rata-rata Rp 200 ribu. Saat sepi, bahkan hanya Rp 50 ribu. Itu pendapatannya sebelum program penggembosan rutin berjalan.

Namun sejak awal Januari 2018, pendapatannya naik 50 persen sehari. “Dulu Rp 200 ribu, sekarang bisa sampai Rp 300 ribu,” ucapnya.

Berbeda dengan Rizal, Gerald mengaku tak merasakan imbas dari program penggembosan ini. Mungkin karena ia baru dua bulan menjalankan usaha tambal ban, yang jaraknya tak terlalu jauh dengan Rizal.

“Saya kan baru dua bulan di sini. Kalau usaha ini sudah enam atau tujuh tahun, saya yang baru dua bulan di sini,” ucapnya sambil melayani konsumennya.

Gerald juga buka 24 jam, pendapatannya memangtak banyak. Kalau sepi pun, bahkan hanya Rp 20 ribu sehari. Kalau ramai, bisa sampai Rp 200 ribu. Sama saja, setelah dua bulan bekerja. “Tidak ada, tak ada pengaruh,” tanggapannya soal program penggembosan ini.

Di sepanjang jalan protokol Kota Manado terdapat usaha tambal ban. Jika hanya menambah angina biasa per bannya hanya Rp 2 ribu, jika bocor, warga harus mengeluarkan kocek hingga Rp 20 ribu per ban.

Warga benar-benar terbantu dengan keberadaan penambal ban, apalagi mereka korban penggembosan.

“Saya parkir di depan Megamall, tahu-tahu sudah dikempiskan ban saya. Tanya-tanya, warga mengarahkan ada tambal ban di arah-arah masjid. Saya pun tanpa pikir panjang mendorong motor saya berlawanan arah. Daripadai harus mutar, jauh. Velek motor bengkok, lebih baik menerobos, biar buang malu,” ucap Nardo, warga Amurang yang pernah jadi korban penggembosan Dishub Manado.

Tak ada lagi parkir liar di sepanjang protokol di Kota Manado. Dinas Perhubungan Kota Manado tampak siaga, terutama di jam-jam macet. Lalu lintas tampak lebih lancer dari sebelumnya, ketika parkir liar merajalela. 

Penulis: Finneke
Editor:
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved