Pemerintah Minta Stalker Pergi ke Psikiater

Sebanyak 25 persen penguntit tak merasa dirinya 'tukang intip' atau stalker. Polisi di negara ini pun merasa khawatir dengan hasil survei mereka.

Pemerintah Minta Stalker Pergi ke Psikiater
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi. 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Sebanyak 25 persen penguntit tak merasa dirinya 'tukang intip' atau stalker.

Demikian hasil survei kepolisian Jepang. Polisi di negara ini pun merasa khawatir dengan hasil survei mereka.

"Kurangnya pengakuan diri bisa menimbulkan konsekuensi yang lebih serius," demikian pernyataan polisi Jepang.

Asahi melaporkan, pihak kepolisian Jepang merilis hasil survei pada 25 Januri 2018 lalu.

Pada survei ini, Kepolisian Prefektur Shizuoka menyurvei 117 tersangka selama setahun sampai Mei tahun lalu.

Tersangka diminta memilih mengenai perasaan dan motivasi saat mereka menguntit.

Sebanyak 41,3 persen di antaranya beralasan ingin kembali menjalin hubungan yang kandas sebelumnya.

Ada juga yang beralasan ingin memahami diri sendiri dengan persentase 30,8 persen

Alasan lainnya karena benci dan marah. Jawaban ini dipilih oleh 26,9 persen.

Satu dari empat tersangka mengatakan, mereka membantah sebagai tukang intip.

Sebanyak 90 persen di antara tersangka adalah pria. Hampir 50 persen korban dan penguntut saling kenal.

Pemerintah Jepang mendorong para penguntit ini sukarela ke psikiater atau menjalani perawatan.

Sebanyak 522 tersangka du 36 kepolisian prefektur disarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater.

Hampir 70 persen, atau 360, menolak permintaan tersebut. (*)

Penulis: Edi Sukasah
Editor: Edi Sukasah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved