Perlu Industri Masif, Bitung Sulit Tolak Karbon
Dilema pembangunan Bitung menjadi satu satunya kota percontohan LCMT ini diakui Walikota Bitung Max Lomban
Penulis: Arthur_Rompis | Editor:
Laporan Wartawan Tribun Manado Arthur Rompis
BITUNG, TRIBUNMANADO.CO.ID - Perlu industri yang masif untuk memajukan Bitung.
Namun di sisi lain, Bitung telah menjadi satu satunya kota percontohan LCMT (Low Carbon Model Town) atau kota rendah karbon di Indonesia.
Kenyataan saat ini, sebagian besar perusahaan di Bitung masih sulit beralih dari karbon.
Dilema pembangunan Bitung ini diakui Walikota Bitung Max Lomban.
"Memang kita sudah jadi kota percontohan rendah karbon, namun tak semudah itu menyuruh perusahaan berhenti menggunakan batu bara," kata dia.
Dikatakan Lomban, suplai listrik yang masih minim menjadi penyebab perusahaan masih tetap menggunakan batu bara.
Menurut Lomban, masih ada 12 perusahaan di Bitung yang menggunakan batu bara sebagai pembangkit energi.
"Yang bisa kita lakukan adalah memberi arahan tentang bagaimana meminimalisir dampak penggunaan batubara serta mendorong perusahaan agar terlibat dalam upaya menjaga lingkungan," kata dia.
Lomban mengklaim angka pencemaran udara di Bitung masih jauh dari ambang batas maksimal.
Kadis Dinas Lingkungan Hidup Bitung Sadat Minabari mengatakan, pihaknya tak bisa menolak investasi perusahaan berbahan energi batu bara karena tidak ada dasar hukumnya.
"Yang bisa kita lakukan adalah berupaya menciptakan industri yang sadar kelestarian lingkungan," ujar dia.
Dikatakannya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sementara menyusun program untuk mendaur ulang batu bara menjadi hallowbrick.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/manado/foto/bank/originals/bitung_20180201_104059.jpg)