Sebanyak 39 dari 43 Jenis Karang Jamur di Dunia Ada di Selat Lembeh

Profesor Dr Suharsono, pakar Terumbu Karang Indonesia berharap, Pemerintah Kota Bitung terus menjaga kelestarian ekosistem laut di Selat Lembeh.

Sebanyak 39 dari 43 Jenis Karang Jamur di Dunia Ada di Selat Lembeh
KOMPAS.COM/RONNY ADOLOF BUOL
Pemandangan Selat Lembeh di Bitung, Sulawesi Utara. 


TRIBUNMANADO.CO.ID—Profesor Dr Suharsono, pakar Terumbu Karang Indonesia berharap, Pemerintah Kota Bitung terus menjaga kelestarian ekosistem laut di Selat Lembeh.

Hal itu penting agar ekosistem laut di Selat Lembeh, terutama terumbu karang jenis Karang Jamur (mushroom) tidak rusak atau punah

‘’Di dunia ada 43 jenis mushroom atau karang jamur. Dari jumlah tersebut 39 jenis diantaranya ada di Selat Lembeh. Jadi, diharapkan kepada pemerintah agar ekosistem laut di selat ini tetap terjaga agar karang tersebut tak rusak,’’ kata Prof Suharsono saat menyampaikan presentase tentang Indeks Kesehatan Terumbu Karang Indonesia di Gedung CTI Centre, Jalan AA Maramis Kayuwatu, Kairagi II, Manado, Sulawesi Utara, Senin (29/1/2018).

Dalam presentase tersebut, hadir mahasiswa serta dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Unsrat Manado, Politeknik Perikanan Bitung, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulut, serta pegiat lingkungan.

Prof Suharsono menyarankan, pembangunan di Kota Bitung khususnya di Selat Lembeh, tak menjurus ke arah selat, sebab bisa mengganggu ekosistem laut.

‘’Jika bisa, Selat Lembeh harus steril dari pelayaran kapal-kapal besar misalnya diatas 10 GT, dan pembangunan disana tak boleh menjurus kea rah laut. Harus ada komitmen dari pemerintah dan semua pihak untuk menjaganya,’’ tegasnya.

Dari beberapa kali penyelaman yang dilakukan di area Selat Lembeh, terutama di kawasan Pulau Sarena, Prof Suharsono banyak menemukan sampah anorganik yang menumpuk seperti kaleng.

‘’Kalau mau mengembangkan pembangunan, baiknya ke arah Kema agar kawasan selat tetap terlindungi dari kerusakan,’’ tuturnya.

Tak masalah reklamasi teluk Manado

Selain menyorot soal Selat Lembeh, Prof Suharsono juga mengatakan tak masalah jika reklamasi dilakukan di Teluk Manado khususnya di area Boulevard II.

Sebab, dampaknya tak selalu buruk.

‘’Reklamasi tak selalu jelek dampaknya. Di Manado misalnya, bisa dilakukan sebab masa airnya besar, jadi tak akan menjadi masalah untuk Pulau Bunaken yang memiliki terumbu karang yang masih baik,’’ katanya menjawab pertanyaan Tribun Manado soal dampak reklamasi terhadap ekosistem laut yang akan ditimbulkan.

Kondisi di Manado berbeda dengan yang di Teluk Jakarta yang kini dipersoalkan untuk direklamasi sebab, disana masa airnya cenderung sedikit. ‘’Jadi, tinggal tergantung dari proses reklamasinya, jika dilakukan dengan baik, jadi hasilnya pasti baik,’’ tukasnya. (War)

Penulis:
Editor: Andrew_Pattymahu
Sumber: Tribun Manado
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved